Jadwal Kejuaraan Asia 2026: Faathir/Devin Bentrok Lawan No 1 Dunia, 5 Wakil Indonesia Masih Mempertahankan Harapan

IPD – 12 April 2026 | Kejuaraan Badminton Asia 2026 (BAC) semakin memanas ketika agenda final dijadwalkan pada Minggu, 12 April 2026, di Ningbo Olympic Sports Center, China. Meskipun Indonesia belum mengirimkan pemain tunggal ke final, lima pasangan masih berjuang keras di babak semifinal, menanti kesempatan mengembalikan kejayaan yang hilang sejak 2024.

Di antara mereka, pasangan muda ganda putra Indonesia, Ali Faathir Rayhan dan Devin Artha Wahyudi, menorehkan momen penting pada Jumat, 10 April 2026, ketika mereka berhasil menembus perempat final. Namun, langkah mereka terhenti setelah berhadapan dengan duo nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won‑ho dan Seo Seung‑jae. Pertandingan berakhir dengan skor 18‑21, 16‑21, namun Faathir/Devin sempat unggul 11‑7 pada gim pertama dan menahan tekanan hingga 18‑15 sebelum lawan berbalik menyerang.

Devin mengaku, “Kami sempat menguasai gim pertama dan percaya dapat mengambilnya, namun pengalaman lawan nomor satu dunia mengajarkan kami pentingnya konsistensi pada poin‑kritis.” Sementara Faathir menekankan strategi awal yang menekan, “Kami memaksa Kim/Seo sejak set pertama karena mereka masih mencari pola permainan kami.” Meski kalah, kedua pemain menilai penampilan mereka memuaskan dan menambah pengalaman berharga menghadapi lawan papan atas.

Keberhasilan Faathir/Devin tidak lepas dari dukungan pelatih Irwansyah, yang sebelumnya melatih juara Asia Indonesia Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Irwansyah kini berada di belakang tunggal putra India, Ayush Shetty, yang menjadi sorotan pada final karena berhasil menyingkirkan mantan pemain nomor satu dunia Shi Yu Qi dan Jonatan Christie sendiri di babak sebelumnya.

Sebagai tambahan, ganda putra lain, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri, berhasil menembus semifinal setelah mengalahkan pasangan Taiwan Lee Fang‑Chih/Lee Fang‑Jen dengan skor 21‑15, 21‑18. Mereka akan berhadapan dengan pasangan Korea Selatan, Kang Min‑hyuk dan Ki Dong‑ju, yang menjadi salah satu kejutan turnamen dengan mengalahkan wakil Indonesia Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di babak 32 besar.

Di sektor ganda putri, Amalia Cahaya Pratiwi dan Siti Fadia Silva Ramadhanti (Tiwi/Fadia) juga melaju ke semifinal. Setelah menyingkirkan pasangan Korea Selatan Baek Ha‑na/Lee So‑Hee dan pasangan Jepang Rin Iwanaga/Kie Nakanishi secara langsung, mereka kini harus menghadapi ganda putri unggulan pertama dunia, Liu Sheng‑shu dan Tan Ning dari China. Meskipun peringkat BWF mereka berada di posisi 53, penampilan konsisten Tiwi/Fadia menimbulkan optimisme bagi tim Indonesia.

Jadwal semifinal pada Sabtu, 11 April 2026, akan disiarkan langsung melalui TVRI mulai pukul 09.00 WIB, menampilkan dua laga Indonesia: Tiwi/Fadia melawan Liu/Tan, serta Fajar/Fikri melawan Kang/Ki. Tidak ada wakil Indonesia di sektor tunggal putra, tunggal putri, atau ganda campuran pada tahap ini, menandakan tantangan yang lebih berat bagi tim nasional.

Sejarah Kejuaraan Asia menunjukkan dominasi Indonesia pada tiga tahun berturut‑turut (2022‑2024) dengan gelar tunggal putra bergantian antara Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Namun, dua musim terakhir menandai fase paceklik, membuat harapan kembali ke podium semakin penting. Dengan lima wakil yang masih berkompetisi, peluang Indonesia untuk menambah medali masih terbuka, meski tidak ada jaminan emas.

Selain pertarungan di lapangan, perhatian juga tertuju pada persiapan mental dan fisik atlet. Pelatih tim nasional menekankan pentingnya adaptasi taktik, terutama dalam menghadapi pasangan berperingkat tinggi yang mengandalkan kecepatan dan variasi serangan. Pengalaman Faathir/Devin melawan Kim/Seo menjadi contoh konkret bagaimana pemain muda dapat belajar mengelola tekanan pada poin krusial.

Secara keseluruhan, Kejuaraan Asia 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan juga panggung pembuktian generasi baru bulu tangkis Indonesia. Jika ganda putri Tiwi/Fadia berhasil mengalahkan Liu/Tan atau Fajar/Fikri mengatasi Kang/Ki, Indonesia berpeluang kembali menambah koleksi medali emas atau perak, menghidupkan kembali semangat kebanggaan nasional setelah dua tahun tanpa gelar.

Kesimpulannya, meskipun Faathir/Devin harus berpisah lebih awal dari Kim/Seo, mereka menunjukkan kemampuan menantang pemain nomor satu dunia. Dengan lima wakil masih bertarung di semifinal, harapan Indonesia untuk mengakhiri masa paceklik belum padam. Laga-laga selanjutnya akan menjadi penentu apakah Indonesia dapat kembali menguasai panggung Asia atau harus menunggu generasi berikutnya untuk menorehkan sejarah baru.

Leave a Comment