IPD – 13 April 2026 | Israel mengumumkan pada Jumat pagi bahwa pasukannya telah berhasil menghancurkan sepuluh buah peluncur roket milik Hizbullah di wilayah selatan Lebanon. Pengumuman tersebut disampaikan oleh juru bicara Angkatan Darat Israel melalui konferensi pers singkat, yang menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari upaya menetralkan ancaman roket yang selama ini meluncur ke wilayah utara Israel.
Menurut laporan militer, serangkaian serangan udara dan artileri dilancarkan selama dua hari terakhir, menargetkan posisi-posisi strategis yang diyakini menjadi basis penyimpanan dan peluncuran roket Hizbullah. Dari sepuluh peluncur yang dihancurkan, delapan berada di daerah Bint Jbeil, sementara dua lainnya terdeteksi di sekitar kota Tyre. Pihak Israel menegaskan bahwa semua target telah dihancurkan tanpa menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil.
Data resmi Angkatan Udara Israel mencatat bahwa sejak eskalasi terbaru pada awal April, lebih dari 6.500 roket dan drone telah diluncurkan ke wilayah utara Israel. Pihak pertahanan menambahkan bahwa operasi penghancuran peluncur roket ini diharapkan dapat mengurangi frekuensi serangan balasan dari Hizbullah, yang selama ini mengandalkan mobilitas tinggi dan jaringan peluncur tersembunyi di pegunungan Lebanon.
Hizbullah menanggapi klaim tersebut dengan menolak semua tuduhan. Pihak organisasi melaporkan bahwa serangan Israel menargetkan warga sipil dan menimbulkan korban jiwa di Beirut serta daerah permukiman lain di Lebanon. Sebuah pernyataan resmi dari jenderal senior Hizbullah menyebutkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan roket secara “mobil” dan akan terus menahan tekanan Israel di medan perbatasan.
Di sisi lain, analis politik Israel Ben Caspit, yang menulis dalam kolomnya di media Israel, mengkritik keras kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Caspit menyoroti bahwa narasi kemenangan yang dibangun Netanyahu berisiko menjadi “petasan” bila kemampuan roket Hizbullah memang sudah hancur. Ia menuliskan, “Jika kita telah menghancurkan hampir semua rudal dan roket Hizbullah, apa yang mereka luncurkan sekarang? Petasan?” Kritik tersebut menekankan bahwa tanpa bukti keberhasilan militer yang konkret, popularitas politik Netanyahu dapat terancam menjelang pemilihan umum yang diperkirakan akan datang dalam beberapa bulan.
Ketegangan politik ini berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik yang masih buntu. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang difasilitasi oleh Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada 12 April 2026. Iran menolak syarat-syarat Washington yang dianggap tidak realistis, sementara Washington menuntut penghentian total operasi militer Israel di seluruh front, termasuk Lebanon. Kegagalan diplomatik menambah ketidakpastian situasi di kawasan Timur Tengah.
Para pengamat menilai bahwa klaim penghancuran sepuluh peluncur roket ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi Netanyahu. Di satu sisi, pencapaian militer dapat memperkuat citra tegasnya di mata publik yang menuntut keamanan. Di sisi lain, jika hasilnya dipertanyakan atau tidak terbukti secara independen, kritik seperti yang dilontarkan Ben Caspit dapat memperparah tekanan politik internal, terutama menjelang pemilihan legislatif yang diprediksi akan menentukan kelanjutan koalisi pemerintah.
Kesimpulannya, klaim Israel atas keberhasilan menghancurkan sepuluh peluncur roket Hizbullah menambah dimensi baru dalam konflik berlarut antara kedua belah pihak. Sementara Israel berupaya menunjukkan efektivitas operasi militernya, Hizbullah tetap menegaskan kemampuan untuk melanjutkan perlawanan. Di panggung domestik Israel, kritik politik terhadap Netanyahu semakin tajam, menandai bahwa kemenangan di medan perang belum tentu beralih menjadi kemenangan politik.
