IPD – 13 April 2026 | Di tengah krisis hutan yang kian mengkhawatirkan, suara perempuan mulai menjadi sorotan utama dalam dunia jurnalistik lingkungan. Sebuah ungkapan yang kini menggelora, “Hutan adalah mama, hutan rusak maka manusia juga rusak”, menegaskan betapa pentingnya mengaitkan kesejahteraan alam dengan kesejahteraan manusia, terutama melalui lensa gender.
Perempuan tidak hanya menjadi saksi atas degradasi hutan, melainkan juga pelaku aktif yang menyuarakan solusi. Pendekatan yang lebih inklusif dalam peliputan lingkungan memperkaya narasi dengan pengalaman hidup, pengetahuan tradisional, dan kepekaan sosial yang sering terlewatkan oleh sudut pandang patriarkal. Hal ini memperkuat pemahaman publik tentang hubungan timbal balik antara manusia dan ekosistem, sekaligus mendorong kebijakan yang lebih responsif.
Sementara itu, peran manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem telah diuraikan dalam berbagai upaya praktis. Berikut beberapa langkah yang dapat diimplementasikan secara luas:
- Penghijauan kembali: Menanam kembali pohon dan vegetasi untuk memulihkan fungsi ekologis tanah serta menyerap karbon.
- Pelestarian flora dan fauna: Menghindari perburuan satwa terancam dan melindungi habitat alami.
- Pengolahan limbah yang tepat: Mengelola limbah industri dan rumah tangga agar tidak mencemari tanah, air, dan udara.
- Menjaga kesuburan tanah: Menggunakan teknik pertanian multikultural dan rotasi tanaman untuk mencegah erosi.
- Konsumsi sumber daya secara bijak: Mengurangi penggunaan sumber daya tidak terbarukan seperti bahan bakar fosil.
Langkah-langkah tersebut tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga membutuhkan dukungan sosial. Di sinilah peran perempuan menjadi krusial, karena mereka sering berada di garis depan dalam mengelola sumber daya rumah tangga dan komunitas.
Contoh nyata pemberdayaan perempuan dalam konteks lingkungan dapat dilihat pada kisah Ai Rahmawati, seorang ibu asal Desa Pasirsalam, Jawa Tengah. Dengan bekerja di packing house milik Java Fresh, ia berhasil menambah pendapatan keluarga dan melanjutkan pendidikan putrinya hingga perguruan tinggi. Java Fresh, yang mempekerjakan lebih dari 200 perempuan, tidak hanya menyediakan pekerjaan, tetapi juga program pelatihan teknis, edukasi finansial, serta layanan kesehatan. Pendekatan holistik ini meningkatkan kapasitas perempuan untuk berperan aktif dalam rantai pasok pertanian tropis, sekaligus menurunkan tekanan terhadap hutan karena praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Selain itu, Java Fresh mengembangkan teknologi penyimpanan buah yang memperpanjang masa simpan hingga 35 hari, mengurangi limbah pascapanen yang biasanya berujung pada pembakaran sampah di lahan terbuka—salah satu penyumbang degradasi hutan. Upaya ini mencontohkan bagaimana inovasi industri dapat selaras dengan konservasi alam, terutama bila dipimpin oleh tenaga kerja perempuan yang mendapat dukungan penuh dari perusahaan.
Pengalaman Ai dan rekan-rekannya menggambarkan sinergi antara pemberdayaan gender, peningkatan kesejahteraan ekonomi, dan perlindungan lingkungan. Ketika perempuan memperoleh akses ke pekerjaan yang layak, mereka dapat berkontribusi pada keputusan penggunaan lahan, mengurangi kebutuhan akan praktik penebangan liar, dan memperkuat praktik pertanian berkelanjutan.
Secara keseluruhan, menempatkan perspektif perempuan dalam liputan lingkungan tidak sekadar menambah variasi naratif, melainkan menjadi strategi efektif untuk mengatasi krisis hutan. Kombinasi antara edukasi masyarakat, kebijakan berbasis gender, dan aksi konkret—seperti penghijauan, pengelolaan limbah, serta inovasi agrikultur—menjadi fondasi kuat untuk memulihkan ekosistem. Dengan menanggapi panggilan “hutan adalah mama”, kita menegaskan komitmen bersama: melindungi hutan berarti melindungi masa depan manusia, terutama melalui suara dan aksi perempuan yang semakin mengemuka.
