IPD – 18 April 2026 | London, 18 April 2026 – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan bahwa Inggris bersama Prancis akan memimpin misi multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz sesegera mungkin setelah kondisi memungkinkan. Pengumuman tersebut disampaikan usai Starmer menghadiri KTT keamanan maritim yang diselenggarakan Prancis dan diikuti perwakilan 49 negara. “Saya dapat memastikan bahwa, bersama dengan Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan,” ujar Starmer kepada wartawan, menegaskan bahwa operasi ini bersifat damai dan bertujuan menjamin keamanan pelayaran komersial serta mendukung pembersihan ranjau laut.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak akhir pekan lalu, ketika Angkatan Laut Amerika Serikat memblokade lalu lintas maritim di pelabuhan-pelabuhan Iran. Blokade tersebut mempengaruhi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia, menimbulkan kekhawatiran inflasi energi global. Iran juga menyiapkan pungutan atas kapal yang melintasi Selat Hormuz, meski belum resmi diberlakukan. Dalam konteks ini, Inggris‑Prancis menegaskan bahwa misi mereka tidak akan bersifat ofensif, melainkan fokus pada pengawalan kapal niaga, pencegahan serangan, serta penjinakan ranjau laut yang telah tertinggal sejak konflik regional.
Lebih dari dua belas negara telah menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam operasi ini. Beberapa kontribusi utama antara lain:
- Inggris: pengiriman drone anti‑ranjau dan kapal logistik RFA Lyme Bay.
- Prancis: penempatan kapal induk bertenaga nuklir serta fregat anti‑kapal.
- Italia: penyediaan fregat angkatan laut untuk patroli.
- Jerman: pengiriman unit kapal penyapu ranjau.
- Spanyol dan Belanda: dukungan logistik dan medis.
Negara‑negara lain dijanjikan akan menambah peralatan, personel, serta dana untuk memperkuat kehadiran multinasional di selat strategis tersebut.
Starmer juga mengumumkan bahwa pertemuan perwakilan kementerian pertahanan negara‑negara peserta akan dilaksanakan minggu depan di London untuk menyusun rencana operasional detail. Ia mengundang semua pihak yang bersedia untuk bergabung, menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga jalur energi vital. Menurut data Internasional Energi, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak mentah hingga 5–7 persen dalam hitungan hari, sehingga stabilitas kawasan menjadi prioritas bagi pasar global.
Pengamanan Selat Hormuz oleh Inggris‑Prancis dipandang sebagai upaya menyeimbangkan peran Amerika Serikat yang saat ini masih mempertahankan blokade lautnya. Meski Washington menolak bantuan NATO, koalisi Eropa berusaha menunjukkan kemampuan kolektif dalam menjaga keamanan maritim tanpa menambah eskalasi militer. Analisis para pakar keamanan menilai bahwa keberhasilan misi damai ini akan sangat bergantung pada tercapainya gencatan senjata permanen antara Iran dan Amerika Serikat, serta kepatuhan semua pihak terhadap aturan internasional tentang kebebasan navigasi. Jika berhasil, misi ini dapat menjadi model baru bagi respons kolektif terhadap ancaman maritim di kawasan lain.
