IPD – 10 April 2026 | Pasangan mata uang AUD/JPY terus menempati zona lemah di kisaran 112,50 selama sesi perdagangan Eropa pada Jumat lalu. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi teknikal semata, melainkan cerminan dari dinamika sentimen risiko global yang kini berada pada fase “risk‑off”. Beberapa faktor fundamental turut memperkuat tekanan pada Dolar Australia (AUD), termasuk data Indeks Harga Konsumen (IHK) Tiongkok yang lebih lemah dari ekspektasi, serta ketidakpastian geopolitik di sekitar gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran.
Data IHK Tiongkok untuk bulan Maret menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 0,9 %, menurun drastis dari 1,3 % pada Februari dan di bawah perkiraan konsensus sebesar 1,2 %. Secara bulanan, indeks tersebut justru turun 0,7 % setelah sebelumnya naik 1,0 %. Penurunan ini mengindikasikan melemahnya permintaan konsumen di negara terbesar kedua di dunia, yang pada gilirannya menurunkan prospek ekspor komoditas utama Australia, seperti bijih besi dan batu bara, ke pasar Tiongkok. Karena Australia sangat bergantung pada hubungan dagang dengan Tiongkok, penurunan IHK menambah tekanan pada AUD.
Selain data inflasi Tiongkok, pasar juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang masih belum terpecahkan. Gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan ketidakpastian tambahan bagi para investor. Meskipun ada harapan akan terjadinya pertemuan diplomatik di Islamabad pada akhir pekan, belum ada konfirmasi resmi tentang kedatangan delegasi Iran. Situasi ini memicu pergeseran alokasi aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti yen Jepang (JPY) dan obligasi pemerintah AS, sehingga memperlemah mata uang berisiko tinggi seperti AUD.
Di sisi lain, yen Jepang menunjukkan tanda-tanda penguatan. Pasar kini memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ) pada bulan April, sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10‑tahun naik mendekati 2,4 %, level tertinggi sejak 1998. Kenaikan imbal hasil tersebut memperkuat yen sebagai safe‑haven, sekaligus menambah beban bagi pasangan mata uang yang melibatkan JPY, termasuk AUD/JPY.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menambahkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak tambahan sekitar 20 hari mulai awal Mei. Kebijakan ini bertujuan menstabilkan pasokan domestik di tengah gangguan pengiriman yang berlangsung di Selat Hormuz, sebuah jalur penting bagi transportasi minyak dunia. Upaya tersebut diharapkan dapat menurunkan volatilitas harga energi, yang pada gilirannya dapat meredam tekanan inflasi di Jepang.
Berikut rangkuman faktor‑faktor utama yang memengaruhi pergerakan AUD/JPY dalam beberapa hari terakhir:
- IHK Tiongkok melemah: Pertumbuhan tahunan 0,9 % menurunkan ekspektasi permintaan komoditas Australia.
- Sentimen risk‑off: Ketidakpastian geopolitik AS‑Iran mendorong pergeseran ke aset safe‑haven.
- Prospek kenaikan suku bunga BoJ: Imbal hasil obligasi JPY naik, menguatkan yen.
- Kebijakan energi Jepang: Rencana pelepasan cadangan minyak dapat menstabilkan pasar energi regional.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa AUD/JPY masih berada di bawah level support penting di 112,70, dengan tekanan jual yang kuat. Jika tekanan ini berlanjut, pasangan mata uang tersebut dapat menembus level support berikutnya di 112,30, membuka peluang bagi penurunan lebih lanjut menuju zona 112,00. Sebaliknya, bila ada kejutan positif pada data ekonomi Australia atau perbaikan kondisi geopolitik, AUD/JPY berpotensi melakukan rebound singkat di atas 112,80.
Investor yang mengelola portofolio berbasis mata uang sebaiknya memperhatikan perkembangan data IHK Tiongkok selanjutnya, serta agenda pertemuan diplomatik antara AS dan Iran. Kedua faktor ini dapat menjadi katalis utama bagi pergerakan selanjutnya. Selain itu, keputusan kebijakan moneter BoJ pada bulan April akan menjadi penentu arah jangka pendek yen, yang secara tidak langsung memengaruhi pasangan AUD/JPY.
Secara keseluruhan, kombinasi data ekonomi Tiongkok yang lemah, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ menciptakan lingkungan pasar yang condong ke arah risk‑off. Kondisi ini memperkuat yen dan menurunkan nilai AUD, sehingga AUD/JPY tetap berada di zona lemah sekitar 112,50. Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perubahan sentimen global, mengingat volatilitas yang masih tinggi di pasar forex internasional.
