IPD – 15 April 2026 | Pasangan mata uang euro‑dolar (EUR/USD) kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar forex setelah analis senior Societe Generale, Kit Juckes, mengemukakan prediksi bahwa nilai tukar tersebut berpotensi menyentuh kembali zona 1,20. Prediksi ini didukung oleh kombinasi faktor makroekonomi, geopolitik, dan kebijakan moneter yang berubah secara dinamis pada kuartal pertama 2024.
Juckes menyoroti bahwa pada tahun 2023 dan awal 2024, EUR/USD mengalami penguatan yang lebih cepat daripada yang dapat dijelaskan semata‑mata oleh perbedaan suku bunga antara Federal Reserve (Fed) dan European Central Bank (ECB). Pada masa itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat, dipicu oleh retorika Presiden Amerika Serikat yang menginginkan dolar lebih lemah, menjadi katalis utama. Namun, seiring data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan zona euro, dinamika tersebut mulai berbalik.
Faktor geopolitik juga memainkan peran penting. De‑eskalasi konflik di Teluk Persia, terutama melalui pembukaan kembali Selat Hormuz, dapat mengurangi ketegangan pasar energi. Penurunan harga minyak secara simultan memberikan ruang bagi euro untuk menguat, mengingat eurozone lebih sensitif terhadap perubahan harga komoditas dibandingkan Amerika Serikat.
Selain itu, kebijakan moneter ECB diperkirakan akan mengadopsi langkah kenaikan suku bunga yang lebih agresif pada akhir 2024. Kenaikan suku bunga ini akan meningkatkan imbal hasil obligasi euro, menarik aliran modal masuk ke euro dan memperkuat nilai tukarnya terhadap dolar. Juckes menilai, “Ada peluang sangat baik sekarang, bahwa jika kita memang melihat de‑eskalasi baru dalam konflik (dan khususnya, dibukanya kembali Selat Hormuz), EUR/USD akan melampaui 1,20 dengan mudah di atas gelombang sentimen positif.”
Berikut rangkuman faktor‑faktor kunci yang mendukung prediksi tersebut:
- Kinerja ekonomi AS yang lebih kuat: Proyeksi pertumbuhan PDB AS diperkirakan berada di kisaran 2,5‑3,0 % tahun ini, sementara zona euro hanya sekitar 1,5‑2,0 %.
- Safe‑haven status dolar: Meskipun kebijakan moneter Fed tetap ketat, dolar tetap dipilih sebagai pelindung nilai pada periode ketidakpastian global.
- De‑eskalasi konflik Timur Tengah: Pembukaan kembali Selat Hormuz mengurangi risiko supply shock minyak, menurunkan volatilitas pasar.
- Kebijakan ECB: Kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun meningkatkan daya tarik euro bagi investor obligasi.
Data teknikal juga memberi sinyal bullish. EUR/USD berhasil menembus level 1,18 pada minggu terakhir, menandai pembalikan tren menurun yang dimulai sejak awal konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Jika level psikologis 1,20 berhasil ditembus, pasangan mata uang ini dapat melanjutkan pergerakan naik ke zona resistensi selanjutnya di sekitar 1,22‑1,25.
Penting bagi trader untuk memperhatikan kalender ekonomi mendatang, terutama rilis data inflasi CPI AS dan eurozone, keputusan kebijakan moneter Fed serta pernyataan kebijakan ECB. Setiap kejutan data dapat menimbulkan volatilitas tinggi, sehingga manajemen risiko menjadi kunci.
Secara keseluruhan, analisis Societe Generale menekankan bahwa kombinasi antara de‑eskalasi geopolitik, penurunan harga minyak, dan kebijakan moneter yang lebih ketat di Eropa menciptakan lingkungan yang kondusif bagi euro untuk menguat kembali terhadap dolar. Meskipun tantangan tetap ada, terutama terkait persepsi de‑dolarisasi dan potensi kebijakan fiskal AS, prospek jangka menengah mengarah pada pengembalian EUR/USD ke zona 1,20 atau bahkan lebih tinggi.
Investor yang ingin memanfaatkan pergerakan ini disarankan untuk menyiapkan strategi entry pada level support teknikal, sekaligus menempatkan stop‑loss yang ketat mengingat potensi volatilitas yang masih tinggi. Dengan memperhatikan faktor fundamental dan teknikal secara bersamaan, peluang memperoleh keuntungan dari rally euro dapat dimaksimalkan.
