Harga Emas Diproyeksi Naik Tajam, Bisa Tembus US$6.000 dan Rp3 Juta per Gram

IPD – 06 April 2026 | Harga emas dunia kembali menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta) dengan spot naik 0,3% menjadi USD 3.020,06 per ons dan berjangka AS menutup di USD 3.025,90. Kenaikan ini dipicu oleh permintaan safe‑haven di tengah ketidakpastian tarif yang direncanakan Presiden AS, serta kekhawatiran tentang potensi resesi global.

Analisis dari Jeffrey Christian, Mitra Pengelola CPM Group, menegaskan bahwa investor semakin beralih ke emas sebagai aset alternatif karena kebijakan tarif dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan menambah inflasi. Christian memperkirakan bahwa dalam beberapa minggu ke depan, harga emas dapat melampaui level psikologis USD 6.000 per ons jika tekanan geopolitik terus berlanjut.

Sementara itu, pasar domestik di Indonesia menunjukkan dinamika yang serupa. Ibrahim Assuaibi, analis Pasar Uang dan Komoditas, mencatat bahwa harga emas lokal berada di kisaran Rp2.857.000 per gram dan menargetkan resistance pertama di Rp2.890.000. Jika level tersebut terobos, emas berpotensi menguat hingga Rp3.000.000 per gram pada pekan depan.

Faktor utama yang mendukung proyeksi tersebut adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Assuaibi memperkirakan rupiah dapat bergerak ke kisaran Rp17.120 per dolar dalam waktu dekat, yang secara otomatis menambah beban biaya impor emas dan mendorong harga domestik naik.

Berikut ini rangkaian level support dan resistance yang dipantau oleh analis:

LevelHarga
Support 1Rp2.827.000 per gram
Support 2Rp2.780.000 per gram
Resistance 1Rp2.890.000 per gram
Target UtamaRp3.000.000 per gram

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga tinggi sementara menandakan kemungkinan pemotongan seperempat poin persentase pada akhir tahun. Kebijakan ini memperkuat dolar AS dan menurunkan daya tarik emas dalam jangka pendek, namun ekspektasi data Pengeluaran Konsumsi Pribadi AS yang akan datang dapat memicu volatilitas lebih lanjut.

Secara teknikal, grafik harga emas dunia menampilkan pola lower high, mengindikasikan tekanan jual yang masih aktif. Level resistance kuat berada di sekitar USD 3.050 per ons, sementara support terdekat berada di USD 2.970 per ons. Di pasar lokal, pola serupa terlihat dengan harga berada di bawah level Rp2.850.000 namun berpotensi menembus ke arah atas jika dolar terus menguat.

Investor yang mempertimbangkan alokasi dana ke logam mulia disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan tarif AS, data inflasi Amerika, serta pergerakan nilai tukar rupiah. Diversifikasi dengan aset lain yang memberikan yield tetap dapat menjadi alternatif bila tekanan pada emas terus berlanjut.

Kesimpulannya, meski tekanan jangka pendek dari dolar kuat dan suku bunga tinggi dapat menahan laju kenaikan, kombinasi faktor geopolitik, kebijakan tarif, dan pelemahan rupiah memberikan ruang bagi emas untuk menembus ambang USD 6.000 per ons secara global dan Rp3.000.000 per gram di pasar domestik dalam beberapa pekan ke depan.

Leave a Comment