Geely Gandeng Metanol, Baterai Lithium Tertinggal: Strategi Baru Mobil Ramah Lingkungan

IPD – 15 April 2026 | Geely, raksasa otomotif asal Tiongkok, kembali menegaskan komitmen pada teknologi kendaraan berbahan bakar metanol sebagai alternatif utama baterai lithium. Pada Forum Pengembangan Kendaraan Listrik Pintar 2026, Ketua Geely Li Shufu mengemukakan bahwa bobot kendaraan listrik yang mengandalkan baterai lithium dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan mobil dengan mesin metanol berkapasitas serupa. Menurutnya, perbedaan berat ini berimplikasi langsung pada konsumsi energi, terutama pada skenario transportasi berat dan jarak jauh.

Li Shufu menambahkan bahwa densitas energi metanol jauh melampaui baterai lithium‑ion, bahkan mencapai sepuluh kali lipat dalam kondisi tertentu. Ia menegaskan bahwa keunggulan ini menjadikan metanol pilihan yang lebih efisien untuk mengurangi massa kendaraan sekaligus memperpanjang jangkauan tempuh tanpa harus menambah ukuran baterai.

Langkah strategis Geel​y ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Tiongkok yang sejak 2012 telah meluncurkan program percontohan penggunaan bahan bakar alternatif di 39 kota. Pada tahun 2024, beberapa kementerian mengeluarkan pedoman yang memperluas fokus energi selain listrik murni, mencakup pembangunan infrastruktur pengisian bahan bakar metanol, hidrogen, serta amonia. Kebijakan tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa transisi energi domestik China akan mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Geely tidak hanya berbicara, tetapi telah mengimplementasikan teknologi metanol dalam rangkaian produk massal. Varian plug‑in hybrid metanol pertama, sedan Galaxy Starshine 6, dilengkapi mesin 1,5 liter yang dapat beroperasi dengan metanol M100. Selain itu, perusahaan menguji kemampuan bahan bakar tersebut pada kompetisi motorsport, menunjukkan keandalan mesin dalam kondisi ekstrem.

Keberhasilan ini turut mendorong pertumbuhan ekspor Geely secara signifikan. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan melaporkan ekspor lebih dari 200.000 unit, mencatat kenaikan tahunan sebesar 126 %. Karena pencapaian ini, target ekspor tahunan naik dari 640.000 menjadi 750.000 unit, menandakan permintaan global yang kuat terhadap kendaraan berbasis metanol.

Para analis industri menilai bahwa pergeseran fokus dari baterai lithium ke metanol dapat mengubah dinamika pasar otomotif global. Metanol, yang dapat diproduksi dari sumber biomassa atau proses dekarbonisasi, menawarkan jalur transisi yang lebih cepat dibandingkan pengembangan baterai berkapasitas tinggi yang masih memerlukan investasi besar pada material kritis seperti nikel dan kobalt.

Namun, tantangan tetap ada. Pengembangan infrastruktur pengisian metanol masih dalam tahap awal, dan regulasi keamanan bahan bakar cair memerlukan standar ketat. Pemerintah Tiongkok telah menyiapkan program subsidi untuk stasiun pengisian serta insentif bagi produsen yang mengadopsi teknologi bersih, namun implementasinya memerlukan koordinasi lintas sektor.

Di sisi konsumen, persepsi tentang kendaraan berbahan bakar cair masih dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai emisi karbon. Geely menanggapi hal ini dengan mengklaim bahwa penggunaan metanol bersih—dihasilkan dari energi terbarukan—dapat menghasilkan emisi CO₂ yang jauh lebih rendah dibandingkan bensin konvensional. Perusahaan juga berencana meluncurkan kampanye edukasi untuk menambah kesadaran publik tentang manfaat lingkungan metanol.

Kesimpulannya, Geely menempatkan metanol sebagai solusi jangka menengah untuk mengatasi keterbatasan baterai lithium, sambil mendukung agenda hijau pemerintah Tiongkok. Dengan dukungan kebijakan, inovasi produk, dan peningkatan kapasitas ekspor, strategi ini berpotensi mempercepat adopsi kendaraan berbahan bakar cair yang lebih ringan, efisien, dan ramah lingkungan.

Leave a Comment