Dividen Final BBRI 2025: Rp209 per Saham, Jadwal Lengkap & Implikasi bagi Investor

IPD – 15 April 2026 | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengumumkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp52,10 triliun atau setara dengan Rp346 per lembar saham. Pembagian ini mencakup dividen interim yang sudah dibayarkan pada 15 Januari 2026 sebesar Rp137 per saham, serta dividen final sebesar Rp209 per saham yang akan dibayar pada 8 Mei 2026.

Keputusan pembagian dividen disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April 2026. Direksi, yang dipimpin oleh Direktur Utama Hery Gunardi, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen BRI untuk memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham, sekaligus mencerminkan kinerja keuangan yang solid. Laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada akhir tahun 2025 tercatat sebesar Rp56,65 triliun, dengan saldo laba ditahan sebesar Rp219,64 triliun dan total ekuitas Rp330,94 triliun.

Berikut jadwal penting yang harus diperhatikan oleh para investor:

TahapanTanggal
Cum Dividen Pasar Reguler & Negosiasi20 April 2026
Ex Dividen Pasar Reguler & Negosiasi21 April 2026
Cum Dividen Pasar Tunai22 April 2026
Ex Dividen Pasar Tunai23 April 2026
Recording Date (hak atas dividen)22 April 2026, pukul 16.15 WIB
Tanggal Pembayaran8 Mei 2026

Hari cum dividen merupakan batas akhir bagi investor yang ingin membeli saham dan tetap berhak menerima dividen. Sebaliknya, pada hari ex dividen hak tersebut berakhir; pembelian saham setelah tanggal tersebut tidak lagi memberikan hak atas dividen final Rp209 per saham.

Contoh praktis: seorang investor yang memiliki 1.000 lembar saham (10 lot) sebelum tanggal 21 April 2026 akan menerima dividen final sebesar Rp209.000 (belum termasuk pajak). Investor yang hanya membeli saham setelah tanggal tersebut tidak akan mendapatkan hak tersebut, meskipun tetap dapat memperoleh dividen interim yang telah dibayarkan sebelumnya.

Hery Gunardi menekankan bahwa dukungan kuat pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta percepatan transformasi digital menjadi faktor utama yang mendorong profitabilitas BRI. “Dividen ini tidak hanya mencerminkan kinerja keuangan yang baik, tetapi juga kontribusi nyata BRI dalam memperkuat inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi nasional,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Para analis pasar menilai bahwa tingkat hasil dividen BRI, yang berada di kisaran 2‑3% per tahun, masih lebih menarik dibandingkan bunga deposito konvensional. Hal ini menjadikan BRI sebagai salah satu saham blue‑chip yang diminati investor institusi maupun ritel, khususnya yang mencari stabilitas pendapatan pasif.

Investor juga diingatkan untuk memperhatikan implikasi pajak atas dividen yang diterima. Sesuai regulasi Indonesia, dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham akan dikenai PPh final sebesar 10% yang dipotong langsung oleh perusahaan sebelum pembayaran.

Dengan total dividen yang signifikan dan jadwal yang telah ditetapkan secara transparan, BRI berharap dapat menjaga kepercayaan para pemegang saham serta mendukung likuiditas pasar. Pengumuman ini juga memberikan sinyal positif bagi pasar modal Indonesia, mengingat peran strategis BRI sebagai lembaga keuangan terbesar dalam penyaluran kredit UMKM.

Leave a Comment