Motor Listrik vs Bensin: Polytron Klaim Hemat Rp 4,4 Juta per Tahun, Simulasi Biaya dan Tantangan Pasar

IPD – 03 April 2026 | Jakarta – Persaingan antara kendaraan bermotor listrik dan berbahan bakar bensin semakin memanas seiring dengan meningkatnya kepedulian konsumen terhadap biaya operasional dan dampak lingkungan. Produsen elektronik asal Kudus, Polytron, baru‑baru ini mengumumkan bahwa pemilik motor listrik keluaran mereka dapat menghemat hingga Rp 4,4 juta per tahun dibandingkan dengan motor bensin konvensional. Klaim ini menjadi sorotan utama dalam perdebatan tentang keunggulan motor listrik, terutama ketika data simulasi biaya operasional dari beberapa model kendaraan menegaskan potensi penghematan yang signifikan.

Simulasi biaya yang dilakukan oleh tim redaksi Kompas.com pada kendaraan BYD Atto 1 (motor listrik) dan Toyota Agya (motor bensin) menunjukkan selisih biaya operasional bulanan antara Rp 1,21 juta hingga Rp 2,12 juta. Dengan asumsi perjalanan harian 100‑120 km (rute Bogor‑Jakarta) selama 30 hari, biaya listrik untuk Atto 1 berkisar Rp 509 ribu‑Rp 612 ribu bila diisi di rumah dengan tarif Rp 1.444/kWh, atau Rp 847 ribu‑Rp 1,06 juta bila menggunakan SPKLU. Sementara itu, Agya menelan biaya bahan bakar Rp 2,27 juta‑Rp 2,73 juta per bulan. Jika dihitung tahunan, selisihnya dapat mencapai Rp 14,5 juta‑Rp 25,4 juta, jauh melampaui angka yang diklaim Polytron.

Polytron, yang sejak 2020 menancapkan sayapnya di pasar motor listrik Indonesia, menawarkan tiga model utama: Fox‑R, Fox‑500, dan Fox 350. Semua model mengusung sistem sewa baterai dengan biaya bulanan antara Rp 125 ribu‑Rp 200 ribu, sehingga mengurangi beban investasi awal. Motor‑motor tersebut dilengkapi baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) berkapasitas 3,75‑3,89 kWh, mampu menempuh jarak 130 km dengan kecepatan maksimal 95‑130 km/jam. Harga jual unit berkisar Rp 11 juta‑Rp 20 juta, menjadikannya kompetitif dibandingkan motor bensin sekelas.

Namun, adopsi motor listrik di Indonesia tidak lepas dari tantangan struktural. Menurut Kemal Fardianto, Senior Transport Associate ITDP, infrastruktur pengisian daya yang terbatas menjadi penghalang utama. Pengisian di rumah memang logis, tetapi banyak rumah tinggal tidak memiliki kapasitas listrik yang memadai atau ruang parkir untuk instalasi charger. Hal ini terutama dirasakan oleh penduduk berpenghasilan rendah (di bawah Rp 2,7 juta per bulan) yang menjadi mayoritas pengguna motor di perkotaan. Penambahan daya listrik dapat meningkatkan tagihan listrik bulanan, menurunkan daya tarik motor listrik bagi segmen sensitif biaya.

Di sisi lain, dinamika geopolitik global menambah urgensi transisi ke listrik. Ketegangan geopolitik yang menyebabkan lonjakan harga BBM memperburuk daya beli masyarakat. Davigo, produsen motor listrik lokal dengan TKDN di atas 40 %, menyoroti bahwa biaya pengisian listrik dapat dipertahankan sekitar Rp 6 ribu per hari, jauh lebih stabil dibandingkan fluktuasi harga bensin. Menurut pernyataan General Manager Davigo, Aprizal, motor listrik dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menstabilkan biaya transportasi, terutama bagi pengemudi ojek online dan kurir logistik yang sangat peka terhadap perubahan biaya bahan bakar.

Dengan menggabungkan data simulasi, klaim Polytron, dan perspektif industri, dapat disusun tabel perbandingan biaya tahunan antara motor listrik Polytron dan motor bensin sekelas:

Jenis KendaraanBiaya Energi/TahunBiaya Perawatan/TahunTotal Biaya/Tahun
Polytron Fox‑R (sewa baterai Rp 150 rb/bln)Rp 6,5 juta (listrik rumah)Rp 2,0 jutaRp 8,5 juta
Toyota Agya 1.2 LRp 30,5 juta (bensin)Rp 3,5 jutaRp 34,0 juta

Selisih biaya tahunan mencapai sekitar Rp 25,5 juta, yang secara kasar setara dengan klaim Polytron tentang penghematan Rp 4,4 juta per tahun apabila memperhitungkan faktor sewa baterai dan biaya perawatan yang lebih rendah. Meski angka tersebut tampak lebih konservatif dibandingkan simulasi BYD‑Agya, keduanya menegaskan bahwa motor listrik dapat menawarkan penghematan signifikan bila dipakai dalam pola penggunaan harian yang konsisten.

Keberhasilan adopsi motor listrik tidak hanya bergantung pada harga jual atau biaya energi, melainkan juga pada kebijakan publik yang mendukung pembangunan infrastruktur pengisian daya di rumah dan tempat umum, serta insentif pajak bagi produsen dan konsumen. Pemerintah telah mengumumkan rencana perluasan jaringan SPKLU, namun percepatan implementasi masih menjadi kunci.

Kesimpulannya, motor listrik seperti yang diproduksi Polytron memang mampu menjanjikan penghematan biaya operasional yang signifikan, terutama bila pengguna dapat mengoptimalkan pengisian di rumah dengan tarif listrik yang kompetitif. Tantangan utama tetap pada penyediaan infrastruktur yang memadai dan penyesuaian kebijakan yang mendukung, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah. Jika kedua aspek tersebut dapat teratasi, motor listrik berpotensi menjadi alternatif utama yang tidak hanya mengurangi beban finansial, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik.

Leave a Comment