GBP/USD Turun di Tengah Data Lapangan Pekerjaan AS yang Menguat, Sentimen Risiko Tetap Optimis

IPD – 17 April 2026 | Pasangan mata uang utama GBP/USD mengalami penurunan sebesar 0,17% pada hari Kamis, dipicu oleh data lapangan pekerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dibandingkan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris yang baru saja dirilis. Meskipun ekspektasi perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menahan sentimen risiko tetap optimis, kekuatan dolar AS berhasil mengekang kenaikan kembali sterling.

Data klaim tunjangan pengangguran awal (Initial Jobless Claims) di AS menurun menjadi 207 ribu pada pekan yang berakhir 11 April, melampaui perkiraan pasar sebesar 215 ribu. Penurunan ini menandakan adanya tekanan pada pasar tenaga kerja yang tetap kuat, meskipun laporan JOLTS dan data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan tingkat perekrutan dan pemecatan yang rendah. Di sisi lain, Federal Reserve melaporkan penurunan produksi industri sebesar 0,5% bulan‑ke‑bulan, menandakan perlambatan ekonomi yang masih berlangsung.

Sementara itu, ekonomi Inggris mencatat pertumbuhan 0,5% bulan‑ke‑bulan pada Februari, melampaui ekspektasi sebesar 0,2% menurut Office for National Statistics (ONS). PDB yang lebih baik seharusnya menjadi pendorong bagi sterling, namun fundamental lain seperti ketergantungan Inggris pada impor energi bersih serta tekanan geopolitik di Timur Tengah menambah beban pada pound.

  • Data lapangan pekerjaan AS yang lebih kuat memperkuat dolar, menurunkan daya tarik GBP.
  • PDB Inggris yang melampaui perkiraan tidak cukup untuk mengimbangi momentum dolar AS.
  • Harapan gencatan senjata antara AS‑Iran menahan sentimen risiko, namun tidak cukup untuk mengubah arah pasar mata uang.

Analisis teknis menunjukkan GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,3539, masih berada di atas tiga Simple Moving Averages (SMA 50‑, 100‑, dan 200‑hari) yang berkumpul di zona 1,3427. Garis tren naik yang ditarik dari level 1,3035 memberikan dukungan jangka pendek, sementara level resistensi baru berada di sekitar 1,3600. Jika harga berhasil menembus ke atas zona tersebut, pasangan mata uang ini dapat kembali menguji level tertinggi sebelumnya di 1,36. Sebaliknya, penurunan di bawah SMA gabungan dapat memicu koreksi lebih dalam, mengarahkan pasangan kembali ke zona support 1,3420‑1,3450.

Dari perspektif geopolitik, pernyataan Presiden Amerika Serikat mengenai kesepakatan gencatan senjata 10‑hari antara Israel dan Lebanon memberikan sinyal positif bagi pasar risiko. Mediator Pakistan yang berada di Teheran serta optimisme Gedung Putih mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menambah harapan akan stabilitas regional. Namun, ketegangan yang masih tersisa di kawasan tersebut terus menjadi faktor penghambat bagi sterling, mengingat Inggris secara signifikan terpapar pada fluktuasi harga energi.

Bank of England (BoE) tetap berada di bawah sorotan, dengan pasar memperkirakan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga pada tahun 2026. Sementara itu, pejabat Federal Reserve seperti John Williams (NY Fed) menekankan bahwa konflik di Iran dapat mendorong inflasi, memperkuat posisi kebijakan moneter yang hati‑hati. Pernyataan Gubernur Fed Miran yang mengindikasikan tiga kali pemotongan suku bunga di masa depan menambah ketidakpastian mengenai jalur kebijakan moneter global.

Berikut ini ringkasan perubahan persentase nilai tukar utama minggu ini, yang menyoroti posisi pound Inggris relatif terhadap mata uang utama lainnya:

Mata UangUSDEURGBPJPYCADAUDNZDCHF
USD–-0.94%-1.09%-0.29%-1.16%-2.49%-1.65%-0.92%
EUR0.94%–-0.16%0.60%-0.22%-1.51%-0.72%0.02%
GBP1.09%0.16%–0.69%-0.04%-1.36%-0.56%0.18%

Data tersebut menunjukkan bahwa pound Inggris masih menjadi mata uang yang paling kuat terhadap dolar AS, meskipun tekanan negatif dari data pekerjaan AS dan faktor geopolitik terus menurunkan momentum kenaikannya.

Secara keseluruhan, pergerakan GBP/USD pada hari Kamis mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh dua kekuatan utama: data ekonomi AS yang tetap menguat dan sentimen risiko yang dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun PDB Inggris menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, fundamental energi dan ekspektasi kebijakan moneter masih menahan sterling. Pedagang dan investor perlu memperhatikan rilis data berikutnya, terutama laporan tenaga kerja AS, keputusan kebijakan Fed, serta perkembangan gencatan senjata di kawasan Teluk, untuk menilai arah selanjutnya dari pasangan GBP/USD.

Leave a Comment