GBP/USD Naik Tipis di Hari Libur, Trader Menanti Data NFP AS

IPD – 03 April 2026 | Pound Sterling (GBP) menguat sedikit melawan Dolar Amerika (USD) pada sesi perdagangan Jumat, meski likuiditas pasar tertekan akibat libur Jumat Agung. Penguatan moderat ini terjadi di tengah ketidakpastian yang dipicu oleh menunggu laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada hari Selasa mendatang. Pada saat penulisan, pasangan GBP/USD diperdagangkan sekitar 1,3234, naik dari level terendah empat bulan di 1,3159 yang tercatat pada awal minggu.

Sementara itu, Indeks Dolar Amerika (DXY) berada di kisaran 100, setelah sempat menyentuh puncak sepuluh bulan di 100,64 pada hari Selasa. Penguatan DXY sebelumnya menandakan permintaan yang kuat terhadap dolar, namun penurunan tajam pada akhir pekan menunjukkan adanya tekanan jual yang berasal dari aksi profit taking dan ekspektasi data ekonomi AS yang akan datang.

Faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan GBP/USD

  • Likuiditas tipis akibat libur Jumat Agung mengurangi volume perdagangan, sehingga pergerakan harga cenderung lemah meski terdapat sedikit dorongan bullish pada pound.
  • Pelemahan moderat Greenback memberikan ruang bagi pound untuk menguat, terutama setelah dolar kehilangan momentum di akhir pekan.
  • Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko inflasi berbasis energi, yang pada gilirannya menekan kebijakan moneter BoE dan Fed.

Para analis memperkirakan bahwa laporan NFP untuk bulan Maret akan menunjukkan pemulihan moderat dalam penambahan lapangan kerja, dengan estimasi penambahan sekitar 60.000 pekerjaan setelah penurunan tajam sebesar 92.000 pada Februari. Tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4 persen. Jika data tersebut lebih lemah dari perkiraan, dolar AS dapat tertekan lebih lanjut, memberikan dukungan tambahan pada GBP/USD. Namun, potensi dampak positif bagi pound tetap terbatas mengingat faktor risiko eksternal, terutama konflik di kawasan Teluk yang dapat memperkuat dolar sebagai safe haven.

Dampak geopolitik dan kebijakan moneter

Perang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan ketidakpastian pasokan minyak, yang pada gilirannya menambah tekanan inflasi global. Risiko inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi mengurangi ruang bagi Bank of England (BoE) untuk segera menurunkan suku bunga. Sebaliknya, Federal Reserve (Fed) tampaknya lebih berhati-hati dalam mengubah kebijakan suku bunga, dengan fokus pada stabilitas inflasi jangka pendek.

Gubernur BoE, Andrew Bailey, dalam pernyataan terbarunya menegaskan bahwa pasar mungkin terlalu cepat dalam memproyeksikan penurunan suku bunga. Bailey menekankan pentingnya memantau risiko terhadap pertumbuhan dan lapangan kerja selain tekanan inflasi. Sementara itu, Ketua Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa kebijakan moneter berada pada posisi yang “baik untuk menunggu dan melihat” perkembangan ekonomi, sambil menegaskan bahwa ekspektasi inflasi tetap kuat di luar jangka pendek.

Perubahan ekspektasi tersebut tercermin dalam proyeksi pasar: para pedagang kini memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga dari BoE pada akhir tahun, sementara memperkirakan Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya. Pergeseran ini menandakan penurunan optimisme terhadap pemotongan suku bunga di kedua bank sentral.

Data pasar mata uang utama

Berikut rangkuman persentase perubahan nilai dolar AS terhadap mata uang utama pada hari tersebut:

Mata UangUSDEURGBPJPYCADAUDNZDCHF
USD–-0.06%-0.11%-0.02%0.00%-0.08%0.13%-0.09%
EUR0.06%–-0.01%0.07%0.07%0.10%0.19%-0.03%
GBP0.11%0.00%–0.08%0.10%0.12%0.20%-0.02%
JPY0.02%-0.07%-0.08%–0.00%0.04%0.13%-0.10%
CAD-0.00%-0.07%-0.10%-0.01%–0.04%0.13%-0.09%
AUD0.08%-0.10%-0.12%-0.04%-0.04%–0.08%-0.14%
NZD-0.13%-0.19%-0.20%-0.13%-0.13%-0.08%–-0.22%
CHF0.09%0.03%0.02%0.10%0.09%0.14%0.22%–

Heat map yang menyertai data di atas menunjukkan bahwa dolar AS masih menjadi mata uang terkuat terhadap sebagian besar pasangan, termasuk Dolar Selandia Baru. Namun, pergerakan relatif pound terhadap euro dan yen tetap berada dalam kisaran sempit, mencerminkan ketidakpastian pasar menjelang rilis data ekonomi penting.

Prospek ke depan

Pasar akan menunggu dengan seksama hasil Nonfarm Payrolls serta data inflasi CPI AS yang biasanya dirilis berdekatan. Jika NFP menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan, dolar dapat kembali menguat, menekan kembali GBP/USD ke level yang lebih rendah. Sebaliknya, data yang lemah dapat memperpanjang tekanan jual pada dolar, memberi ruang bagi pound untuk melanjutkan kenaikan meski dengan momentum terbatas.

Selain faktor data domestik AS, dinamika geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi variabel penting. Ketegangan yang berkelanjutan dapat memperkuat dolar sebagai safe haven, sekaligus menambah tekanan inflasi yang dapat mempengaruhi keputusan kebijakan moneter BoE dan Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Secara keseluruhan, pergerakan GBP/USD pada hari Jumat mencerminkan kombinasi antara likuiditas pasar yang tipis, ekspektasi data NFP yang menumpuk, serta ketidakpastian geopolitik. Trader disarankan untuk memperhatikan perkembangan data ekonomi AS serta pernyataan resmi bank sentral sebelum mengambil keputusan posisi.

Leave a Comment