IPD – 07 April 2026 | Bandung Barat – Tim tanggap darurat PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung berhasil menyelesaikan proses evakuasi lokomotif kereta api KA Ciremai yang sebelumnya tertimpa longsoran material di petak jalan Maswati‑Sasaksaat. Proses penanganan memakan waktu lebih dari delapan jam, dimulai pada malam hari 1 April 2026 dan berakhir pada dini hari 2 April 2026 pukul 03.20 WIB, ketika jalur resmi dibuka kembali untuk layanan kereta.
Insiden terjadi setelah hujan lebat melanda wilayah Bandung Barat pada sore 1 April, menyebabkan tanah dan bebatuan menumpuk di rel pada segmen Maswati‑Sasaksaat. Lokomotif KA Ciremai yang melaju dengan kecepatan terbatas mengalami gangguan, namun tidak menimbulkan cedera pada penumpang maupun awak. Segera setelah laporan diterima, tim operasional Daop 2 Bandung mengaktifkan prosedur darurat, mengirimkan unit pengeruk tanah, crane, serta personel teknis untuk mengevakuasi lokomotif dan membersihkan material longsoran.
Berikut kronologi singkat evakuasi:
- 01 April 2026, 20.45 WIB – Tim lapangan tiba di lokasi, melakukan survei awal dan menilai risiko longsoran lebih lanjut.
- 01 April 2026, 21.30 WIB – Crane berat dipindahkan ke titik evakuasi untuk mengangkat lokomotif yang terjepit.
- 01 April 2026, 23.10 WIB – Proses pengangkatan dimulai; material tanah dan batu besar dibongkar secara bertahap.
- 02 April 2026, 01.45 WIB – Lokomotif berhasil dipindahkan ke siding terdekat, dan seluruh material longsoran telah diangkut ke truk penampung.
- 02 April 2026, 03.20 WIB – Jalur Maswati‑Sasaksaat dinyatakan aman, pertama kali dilalui kereta barang 2718 (Karacibon Service) sebagai uji kelayakan.
Manajer Humas Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menyampaikan bahwa evakuasi berjalan lancar berkat koordinasi intensif antara tim teknis KAI, aparat TNI, Polri, serta relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). “Kami memastikan setiap langkah dilakukan dengan mengutamakan keselamatan, baik bagi penumpang maupun petugas di lapangan,” ujarnya.
Setelah evakuasi selesai, tim jalan rel dan jembatan melakukan penguatan konstruksi pada area yang terkena longsoran. Meskipun jalur kini dapat dilalui, kecepatan kereta masih dibatasi sebagai langkah antisipatif. Kereta pertama yang melintas setelah normalisasi adalah KA barang 2718 pada pukul 04.04 WIB, diikuti oleh KA penumpang PLB 255B (Jaka Tingkir) pada pukul 05.44 WIB. Kedua rute tersebut menunjukkan kondisi rel yang stabil dan aman untuk operasi reguler.
Selama proses evakuasi, KAI juga mengaktifkan layanan alternatif bagi penumpang yang terdampak. Sepuluh unit bus disiapkan untuk mengangkut penumpang dari stasiun terdekat ke tujuan akhir mereka, memastikan mobilitas tetap terjaga meski jalur utama terganggu. Selain itu, petugas stasiun memberikan informasi real‑time, serta menyalurkan kompensasi berupa makanan dan minuman sesuai ketentuan.
Insiden ini mengingatkan pentingnya pemeliharaan infrastruktur rel, terutama pada daerah rawan longsor. KAI Daop 2 Bandung berjanji akan meningkatkan inspeksi rutin, memperkuat sistem drainase, dan menambah perangkat monitoring cuaca di wilayah rawan. “Keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Kami akan terus berinvestasi pada teknologi dan prosedur pencegahan agar kejadian serupa dapat diminimalisir,” tegas Kuswardojo.
Dengan dibukanya kembali jalur Maswati‑Sasaksaat, diharapkan layanan kereta api di Daop 2 Bandung dapat kembali beroperasi secara normal dalam waktu dekat. KAI mengimbau penumpang untuk tetap memantau informasi resmi melalui kanal resmi perusahaan dan mematuhi arahan petugas di lapangan.
Secara keseluruhan, evakuasi lokomotif KA Ciremai menunjukkan kemampuan respons cepat dan koordinasi lintas lembaga yang efektif, meskipun memerlukan waktu lebih dari delapan jam. Keberhasilan ini menjadi contoh bagi penanganan insiden serupa di masa depan, dengan menekankan pada keselamatan, transparansi, dan layanan pelanggan.
