IPD – 17 April 2026 | Pasangan mata uang EUR/USD terus berada di kisaran 1,18 setelah melewati fase koreksi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, khususnya perang yang memengaruhi sentimen pasar global. Tim riset Danske Bank menegaskan bahwa level ini diperkirakan akan tetap stabil dalam jangka pendek, sekaligus menyoroti faktor-faktor fundamental yang dapat menggerakkan pasangan ini ke arah yang lebih bullish pada horizon yang lebih panjang.
Data inflasi HICP final di zona euro tercatat 2,6% YoY, sedikit di atas perkiraan 2,5% yang dirilis sebelumnya. Inflasi inti tetap pada 2,3% YoY, memperkuat pandangan bahwa tekanan harga masih berada dalam zona toleransi bank sentral. Kondisi ini memberi ruang bagi ECB untuk menahan suku bunga pada pertemuan April, meskipun keputusan akhir tetap akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi mendatang.
Selain itu, laporan internal ECB mengindikasikan bahwa Dewan Gubernur lebih memilih menahan suku bunga pada bulan April karena masih ada ketidakpastian terkait dampak konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran. Gubernur ECB, Peter Schnabel, menekankan pentingnya menunggu dampak jangka panjang sebelum mengambil langkah kebijakan yang lebih agresif. Hal ini menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga pada April, dengan pasar memperkirakan kenaikan sebesar 5 basis poin saja.
Danske Bank mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Juni atau Juli, tergantung pada evolusi data ekonomi utama. Sementara itu, kebijakan moneter Amerika Serikat (Fed) juga menjadi faktor penentu. Diperkirakan Fed akan menurunkan suku bunga pada akhir tahun, yang dapat memperlemah dolar AS dan memberikan dukungan pada euro dalam jangka menengah.
Beberapa faktor utama yang akan memengaruhi EUR/USD dalam jangka panjang meliputi:
- Perbedaan kebijakan moneter: Penurunan carry trade akibat kenaikan suku bunga ECB dan penurunan suku bunga Fed dapat meningkatkan daya tarik euro.
- Normalisasi harga minyak: Harga minyak yang stabil atau menurun dapat memperbaiki neraca perdagangan negara-negara produsen minyak, mengurangi tekanan pada euro.
- Inflasi AS yang relatif lebih tinggi: Jika inflasi di Amerika tetap tinggi, Fed mungkin harus mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, yang pada gilirannya dapat menahan dolar.
Para pelaku pasar forex di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik perlu memperhatikan sinyal-sinyal ini. Stabilitas EUR/USD di level 1,18 memberikan kesempatan bagi trader untuk mengoptimalkan strategi range trading atau menyiapkan posisi jangka panjang menunggu perubahan kebijakan moneter. Namun, volatilitas tetap dapat muncul jika terjadi kejutan geopolitik atau rilis data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.
Secara keseluruhan, proyeksi Danske Bank menegaskan bahwa EUR/USD akan beroperasi dalam zona sempit sekitar 1,18 dalam beberapa minggu ke depan, sambil menyiapkan pondasi untuk kenaikan nilai euro pada periode yang lebih panjang. Investor disarankan untuk tetap mengikuti perkembangan kebijakan ECB dan Fed, serta memperhatikan data inflasi dan harga komoditas sebagai indikator utama pergerakan selanjutnya.
