IPD – 17 April 2026 | Proyek revitalisasi Gedung Sate senilai Rp15 miliar yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada April 2026 menimbulkan perdebatan hangat di kalangan pemerhati budaya, pengendara, serta warga Bandung. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa tujuan utama proyek adalah mengintegrasikan halaman depan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu, sekaligus mengalihkan arus lalu lintas Jalan Diponegoro yang selama ini menjadi jalur pemisah antara kedua ikon kota.
Menurut penjelasan Dedi Mulyadi, yang akrab dipanggil KDM, Plaza depan Gedung Sate akan diperluas hingga menyatu dengan Lapangan Gasibu. Jalan Diponegoro yang kini berada tepat di depan Gedung Sate akan dipindahkan ke jalur baru yang melintasi tengah Gasibu, tepat di depan gerbang Hotel Pullman. Pengalihan ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan, terutama pada saat aksi massa atau demonstrasi yang selama ini menghambat arus kendaraan di ruas tersebut.
Rencana teknis mencakup pembuatan jalur baru yang membelah area Gasibu, sekaligus mempertahankan posisi batu Prasasti Sapta Taruna yang menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum. “Prasasti tidak akan digeserkan dan tetap di situ,” tegas gubernur saat konferensi pers di Gedung Pakuan, Rabu 15 April 2026.
Namun, tidak semua pihak menyambut inisiatif ini dengan positif. Ketua Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage), Aji Bimarsono, mengkritik keras proyek tersebut. Menurut Aji, alokasi Rp15 miliar untuk revitalisasi yang tidak mendesak justru mengalihkan sumber daya dari kebutuhan budaya yang lebih mendasar, seperti program pendidikan dan pemberantasan korupsi. “Uang Rp15 miliar itu kalau dipakai untuk seminar atau forum kebudayaan di seluruh Jawa Barat, akan jauh lebih bermanfaat bagi pencerdasan bangsa,” ujarnya pada 16 April 2026.
Aji juga menyoroti potensi dampak negatif terhadap karakter historis kawasan. Ia berpendapat bahwa penambahan struktur fisik, termasuk monumen yang belum jelas fungsinya, dapat mengubah estetika dan nilai historis Gedung Sate serta Gasibu. Kritiknya mencerminkan kekhawatiran bahwa proyek ini lebih bersifat simbolik politik daripada kebutuhan infrastruktur yang mendesak.
Di sisi lain, pemerintah menekankan bahwa revitalisasi ini akan memperbaiki kelancaran lalu lintas. Selama bertahun‑tahun, Jalan Diponegoro sering ditutup karena aksi demonstrasi, menyebabkan kemacetan berantai di pusat kota. Dengan jalur baru yang mengalir melalui tengah Gasibu, diharapkan kendaraan dapat melanjutkan perjalanan tanpa harus menunggu pembukaan kembali jalan utama.
Berikut ini rangkuman poin utama yang menjadi sorotan publik:
- Anggaran: Rp15 miliar untuk memperluas plaza Gedung Sate dan mengintegrasikan dengan Lapangan Gasibu.
- Pengalihan Jalan Diponegoro: Pembuatan jalur baru melintasi tengah Gasibu, memotong akses langsung ke Gedung Sate.
- Preservasi Prasasti: Batu Prasasti Sapta Taruna tetap dipertahankan di lokasi semula.
- Kritik Budaya: Aji Bimarsono menilai proyek tidak mendesak dan mengalihkan dana dari program kebudayaan.
- Manfaat Lalu Lintas: Diharapkan mengurangi kemacetan saat aksi massa dan memperlancar arus kendaraan.
Pengembangan ini juga melibatkan PT Mustika Parahyangan sebagai kontraktor utama, dengan dukungan dari media lokal seperti Pikiran Rakyat dan PRFM News. Selama proses konstruksi, pekerja terlihat menggunakan alat berat untuk menyelesaikan pekerjaan plaza, menandakan progres yang cukup cepat sejak dimulainya proyek pada pertengahan April 2026.
Walaupun tujuan pemerintah adalah menciptakan satu sumbu ruang publik yang lebih terbuka dan mengurangi hambatan lalu lintas, keberlanjutan proyek tetap dipertanyakan mengingat adanya suara kritis dari kalangan budaya dan masyarakat umum. Dialog antara pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menyeimbangkan antara kebutuhan infrastruktur dan pelestarian nilai historis kota Bandung.
Ke depan, Dedi Mulyadi berjanji akan terus memantau dampak revitalisasi ini, termasuk menanggapi masukan dari komunitas budaya. Sementara itu, warga Bandung diharapkan dapat menilai sendiri hasil akhir proyek ini, apakah benar dapat meningkatkan kenyamanan publik atau justru menambah beban baru bagi kota yang sudah padat.
