IPD – 11 April 2026 | Pasangan mata uang Euro terhadap Dolar Amerika (EUR/USD) mencatat kenaikan berkelanjutan selama lima hari berturut‑turut, menembus level tertinggi sejak awal Maret. Penguatan ini terutama dipicu oleh sentimen risiko yang membaik setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, meski data inflasi konsumen Amerika (CPI) menunjukkan tekanan harga yang masih signifikan.
Pada penutupan sesi perdagangan Jumat, EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1736, mengukir rekor tertinggi sejak awal Maret. Sementara itu, indeks Dolar Amerika (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di level sekitar 98,55, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Januari.
Data inflasi Amerika yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) menampilkan kenaikan yang lebih tajam pada bulan Maret. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,9 % secara bulanan (MoM), melonjak jauh dari kenaikan 0,3 % pada Februari. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,3 % YoY, naik dari 2,4 % pada bulan sebelumnya, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Namun, ketika melihat komponen inti yang mengecualikan makanan dan energi, tekanan inflasi tampak lebih terkendali. CPI inti hanya naik 0,2 % MoM, tidak berubah dari Februari, dan berada di bawah perkiraan 0,3 %. Pada basis tahunan, CPI inti mencapai 2,6 % YoY, sedikit di atas 2,5 % Februari namun masih di bawah proyeksi 2,7 %. Perbedaan antara CPI headline dan inti ini menambah kompleksitas dalam menilai kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Berbagai analis menilai bahwa data inflasi yang beragam ini memperkuat harapan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini dalam beberapa pertemuan mendatang. Lonjakan CPI headline yang dipicu oleh harga minyak menandakan adanya risiko kenaikan inflasi lebih lanjut, sementara pembacaan inti yang lebih lunak memberi sinyal bahwa tekanan harga yang mendasar masih berada di bawah kendali. Oleh karena itu, pasar cenderung mengharapkan kebijakan moneter yang tetap bergantung pada data, dengan Fed menunggu bukti yang lebih konsisten bahwa inflasi bergerak mendekati target 2 % sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.
Dari sudut pandang geopolitik, gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran mengurangi kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Meskipun kesepakatan tersebut masih rapuh, harapan akan pembukaan penuh Selat Hormuz dan penurunan tekanan pada pasar energi memberikan dukungan tambahan bagi euro. Negosiasi lanjutan yang dijadwalkan di Pakistan pada akhir pekan menjadi fokus utama pasar, dengan potensi dampak signifikan terhadap sentimen risiko global.
Harga minyak mentah yang sebelumnya naik tajam karena ketegangan geopolitik kini menunjukkan tanda‑tanda pelonggaran, yang dapat membantu menurunkan tekanan inflasi di Amerika Serikat. Jika harga minyak terus turun, beban inflasi pada konsumen akan berkurang, memperkuat argumen bagi The Fed untuk menjaga kebijakan suku bunga yang stabil atau bahkan mengurangi tekanan untuk kenaikan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, kombinasi antara optimisme gencatan senjata, data CPI yang menunjukkan dinamika inflasi yang beragam, serta prospek penurunan harga minyak menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan euro terhadap dolar. Selama faktor‑faktor ini tetap berada dalam jalur yang menguntungkan, EUR/USD diperkirakan dapat melanjutkan tren kenaikannya, meskipun volatilitas tetap tinggi mengingat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter yang masih bergantung pada data mendatang.
