IPD – 03 Juni 2026 | Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, baru-baru ini mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam video yang diunggah di media sosialnya, Dino menyebutkan bahwa Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri sejak menjabat.
Dino Patti Djalal lahir pada 10 September 1965 di Belgrade, Yugoslavia. Ia memulai karier sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri sejak 1987. Puncak kariernya meliputi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada tahun 2010-2013, Wakil Menteri Luar Negeri pada tahun 2014, serta Staf Khusus Presiden dan Juru Bicara Presiden.
Setelah pensiun dari pemerintahan pada pertengahan 2015, Dino tidak lagi menjabat posisi resmi di pemerintahan. Saat ini, ia aktif sebagai Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas yang mendorong partisipasi publik dalam kebijakan luar negeri, khususnya di kalangan pemuda.
Dino dikenal sebagai penulis buku laris, akademisi, dan aktivis diplomasi publik. Ia sering muncul di media untuk memberikan analisis independen tentang isu-isu global dan kebijakan Indonesia.
Kritik Dino Patti Djalal terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memicu diskusi hangat di media sosial dan berbagai platform berita mengenai efisiensi diplomasi dan penggunaan anggaran negara.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menanggapi kritik Dino dengan menjelaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden Prabowo sudah efisien dan bahwa jumlah rombongan perjalanan ke luar negeri sudah dikurangi dari periode sebelumnya.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, juga mengkritik balik Dino Patti Djalal dengan menyebutkan bahwa Dino tidak memiliki etika dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintahan maupun Kepala Negara.
Kritik dan tanggapan atas pernyataan Dino Patti Djalal menunjukkan bahwa isu kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto masih menjadi perdebatan hangat di kalangan masyarakat dan elit politik Indonesia.
Dalam kesimpulan, Dino Patti Djalal adalah seorang diplomat berpengalaman yang memiliki kontribusi besar di bidang hubungan internasional. Kritiknya terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto memicu diskusi hangat tentang efisiensi diplomasi dan penggunaan anggaran negara. Namun, kritik tersebut juga mendapat tanggapan dari pemerintahan dan elit politik yang berbeda pendapat tentang isu tersebut.
