IPD – 20 Juni 2026 | Bento, sebuah konsep makanan khas Jepang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bento yang secara harfiah berarti ‘makanan yang dibawa’ dalam bahasa Jepang, telah berkembang menjadi lebih dari sekedar makanan untuk dibawa, tetapi juga simbol dari kepedulian terhadap kesehatan dan kebersamaan.
Sejarah bento sendiri berasal dari zaman Heian (794-1185 M) di Jepang, ketika makanan dibawa dalam wadah kayu atau bambu untuk dinikmati saat bepergian atau dalam pertemuan sosial. Namun, bentuk bento yang kita kenal sekarang, dengan variasi makanan yang seimbang dan disajikan dalam kotak, mulai populer pada zaman Edo (1603-1867 M).
Salah satu varian bento yang paling terkenal adalah Makunouchi Bento, yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, dan sayuran, semua disusun rapi dalam satu kotak. Makunouchi Bento awalnya disajikan sebagai makanan ringan untuk penonton teater kabuki selama interval pertunjukan. Nama ‘Makunouchi’ sendiri berasal dari kata Jepang untuk ‘antara babak’, yang merujuk pada waktu penyajian makanan ini.
Di Indonesia, konsep bento juga telah berkembang, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang sadar akan pentingnya makanan sehat dan praktis. Bento kini tidak hanya terbatas pada makanan Jepang, tetapi juga telah beradaptasi dengan cita rasa dan bahan-bahan lokal. Misalnya, Vinz Bento di Palembang menawarkan bento dengan harga terjangkau dan rasa yang lezat, menjadi pilihan yang populer di kalangan warga setempat.
Dalam konteks olahraga, bento juga menjadi bagian dari strategi makanan atlet. Dalam berita terkini, kiper PSM Makassar, Hilmansyah, berhasil membawa Amanah RD 99 lolos ke perempat final Sidrap Cup 2026. Pertandingan ini menunjukkan bagaimana bento tidak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang semangat dan kekuatan tim.
Menyimpul, bento bukan hanya sekedar makanan yang dibawa, tetapi juga refleksi dari kepedulian terhadap kesehatan, kebersamaan, dan semangat. Dari Jepang hingga Indonesia, bento telah menjadi simbol dari kebudayaan dan kearifan lokal yang terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman.
