IPD – 04 April 2026 | Pasangan mata uang AUD/JPY mencatat kenaikan berkelanjutan selama dua sesi perdagangan berturut‑turut, menembus level 110,10 pada sesi Eropa Rabu. Penguatan ini dipicu oleh penurunan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, khususnya Dolar Australia (AUD) yang sensitif terhadap sentimen risiko.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa Amerika Serikat berpotensi menarik diri dari konflik di Iran dalam rentang dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan tersebut menandakan perubahan kebijakan luar negeri yang dapat menurunkan ketidakpastian regional. Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan kesediaannya untuk meredakan ketegangan bila mendapat jaminan tertentu, menambah optimisma pasar terkait potensi de‑eskalasi.
Kedua sinyal politik tersebut meningkatkan permintaan akan aset safe‑haven dan sekaligus mengurangi tekanan pada Dolar Australia. Pada saat yang sama, harga energi yang masih tinggi karena dampak konflik tetap menjadi faktor yang menantang kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA). Analis pasar menilai bahwa inflasi di Australia dapat tetap berada pada level yang menggerakkan RBA untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga menjadi 4,35% pada pertemuan dewan RBA berikutnya tercatat sekitar 64%.
Data ekonomi terbaru juga memberikan kontekstualisasi tambahan bagi pergerakan AUD/JPY. Di Tiongkok, indeks manufaktur Purchasing Managers’ Index (PMI) turun menjadi 50,8 pada Maret, di bawah ekspektasi 51,6 dan menandakan pertumbuhan yang melambat. Penurunan tersebut dipicu oleh kenaikan biaya energi, yang selanjutnya dapat memengaruhi permintaan komoditas Australia. Di dalam negeri, Indeks Komoditas RBA SDR mencatat kenaikan tahunan sebesar 12,8% pada Maret, melampaui kenaikan 4,9% bulan sebelumnya, menandakan pemulihan komoditas terbesar sejak Januari 2023.
Di Jepang, indeks manufaktur Tankan menunjukkan perbaikan signifikan dengan skor 17 pada kuartal pertama 2026, naik dari revisi sebelumnya 16. Angka ini melampaui perkiraan analis dan memperkuat kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang secara bertahap menaikkan suku bunga. Penguatan kebijakan BoJ berpotensi memberikan dukungan bagi Yen Jepang (JPY) terhadap mata uang utama, namun pada saat yang sama permintaan safe‑haven terhadap Yen tetap kuat karena dinamika geopolitik.
Berikut rangkuman faktor utama yang memengaruhi pergerakan AUD/JPY:
- Reduksi ketegangan Timur Tengah: Pernyataan Trump dan Pezeshkian menurunkan risiko geopolitik, meningkatkan selera risiko pasar.
- Dolar Australia: Sensitivitas tinggi terhadap sentimen risiko menjadikannya mata uang yang menguat ketika ketegangan menurun.
- Data ekonomi Tiongkok: PMI yang melemah menurunkan prospek permintaan komoditas Australia.
- Indeks Komoditas RBA: Peningkatan signifikan menandakan tekanan inflasi yang dapat memicu kenaikan suku bunga.
- Indeks Tankan Jepang: Peningkatan mendukung kebijakan BoJ yang lebih hawkish, memberi potensi penguatan Yen.
Meski AUD menunjukkan kekuatan, pasar tetap memperhatikan perkembangan energi global. Harga minyak mentah yang masih berada pada level tinggi dapat memperpanjang tekanan inflasi di Australia, sekaligus menambah beban pada kebijakan moneter. Pada sisi lain, jika konflik di Timur Tengah kembali memanas, permintaan terhadap safe‑haven seperti Yen Jepang dan Dolar AS kemungkinan akan meningkat, yang dapat menurunkan AUD/JPY kembali ke level yang lebih rendah.
Dalam jangka menengah, pergerakan pasangan ini akan sangat dipengaruhi oleh tiga variabel kunci: kebijakan moneter RBA, dinamika geopolitik di Timur Tengah, dan performa ekonomi China sebagai mitra dagang utama Australia. Investor disarankan untuk memantau pernyataan resmi pemerintah Amerika Serikat dan Iran, serta data ekonomi utama seperti PMI China, indeks komoditas RBA, dan survei manufaktur Tankan Jepang.
Kesimpulannya, AUD/JPY berada pada posisi yang menguntungkan menjelang level psikologis 110,00 berkat meredanya ketegangan di Timur Tengah dan dukungan data ekonomi domestik Australia. Namun, volatilitas tetap tinggi mengingat ketergantungan pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Para pelaku pasar sebaiknya tetap waspada terhadap perubahan cepat dalam sentimen risiko dan menyesuaikan strategi trading mereka sesuai dengan skenario yang mungkin terjadi.
