IPD – 14 April 2026 | Kanker kolorektal kini menjadi salah satu ancaman kesehatan utama di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat lebih dari 408.000 kasus baru kanker setiap tahun di tanah air, dengan kanker kolorektal menempati posisi teratas di antara kanker padat. Prediksi Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa tanpa intervensi yang lebih kuat, beban kasus dapat meningkat hingga 70% pada tahun 2050. Lonjakan ini menuntut upaya pencegahan yang lebih agresif, khususnya melalui deteksi dini.
Deteksi dini telah terbukti menjadi faktor penentu keberhasilan terapi. Pada kanker payudara, contoh konkret menunjukkan bahwa skrining rutin dapat menurunkan angka kematian secara signifikan. Prinsip yang sama berlaku untuk kanker kolorektal, di mana stadium awal memungkinkan pilihan pengobatan yang lebih sederhana dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Oleh karena itu, Pemerintah dan berbagai lembaga kesehatan, termasuk inisiatif komunitas seperti program Desa Maju Prudential, semakin menekankan pentingnya skrining sebagai bagian dari budaya kesehatan masyarakat.
Berbeda dengan kolonoskopi yang bersifat invasif, tes Fecal Immunochemical Test (FIT) menawarkan cara yang lebih mudah, tidak menyakitkan, dan dapat dilakukan di rumah. FIT mendeteksi keberadaan darah samar dalam tinja, yang sering kali menjadi tanda awal polip atau tumor pada usus besar. Pemerintah Indonesia merekomendasikan FIT bagi orang berusia 50 tahun ke atas yang tidak memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal, serta bagi mereka dengan faktor risiko lain seperti obesitas atau pola makan rendah serat.
Berikut adalah beberapa gejala yang patut diwaspadai dan dapat menjadi indikasi awal kanker kolorektal:
- Pendarahan pada tinja atau perubahan warna tinja menjadi hitam.
- Perubahan pola buang air besar, seperti diare atau konstipasi yang berlangsung lebih dari dua minggu.
- Rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian kiri atau kanan bawah.
- Kehilangan berat badan secara tiba-tiba tanpa sebab jelas.
- Kelelahan kronis dan anemia yang tidak dapat dijelaskan.
Jika salah satu atau beberapa gejala tersebut muncul, segeralah berkonsultasi dengan tenaga medis. Pemeriksaan FIT dapat menjadi langkah pertama yang praktis sebelum merujuk ke kolonoskopi untuk konfirmasi.
Proses pelaksanaan tes FIT relatif sederhana:
- Ambil satu set kit FIT yang disediakan oleh fasilitas kesehatan atau apotek terpercaya.
- Ikuti petunjuk pengambilan sampel tinja secara higienis, biasanya dengan menggunakan spatula kecil yang sudah disediakan.
- Masukkan sampel ke dalam tabung khusus yang mengandung reagen kimia.
- Serahkan kit yang sudah terisi ke laboratorium atau fasilitas kesehatan terdekat dalam waktu yang ditentukan.
Hasil tes biasanya tersedia dalam 1-3 hari kerja. Hasil negatif menunjukkan tidak terdeteksi darah samar, namun tetap dianjurkan untuk mengulang tes setiap satu hingga dua tahun. Hasil positif menandakan perlunya pemeriksaan lanjutan, seperti kolonoskopi, untuk menyingkap penyebab pasti.
Selain skrining, pola hidup sehat tetap menjadi pilar utama pencegahan. Konsumsi serat tinggi dari buah, sayur, dan biji-bijian, batasi daging merah serta olahan, hindari alkohol berlebihan, dan jaga berat badan ideal. Aktivitas fisik rutin, minimal 150 menit per minggu, terbukti menurunkan risiko kanker kolorektal secara signifikan. Kebiasaan merokok harus dihentikan, karena paparan zat karsinogenik meningkatkan kemungkinan mutasi sel usus.
Pentingnya kolaborasi lintas sektor juga tidak dapat diabaikan. Seperti yang disampaikan oleh Esra Erkomay, Direktur Utama AstraZeneca Indonesia, strategi progresif yang mengintegrasikan skrining, akses obat inovatif, dan pembiayaan yang adil akan memperkuat fondasi kesehatan nasional. Dukungan kebijakan yang mempercepat adopsi tes FIT sebagai standar skrining populasi dapat mengurangi beban ekonomi jangka panjang, mengingat inflasi medis yang diproyeksikan mencapai 17,8% pada tahun ini.
Kesadaran masyarakat tentang kanker kolorektal masih tertinggal dibandingkan kanker payudara, padahal angka mortalitasnya hampir setara. Edukasi melalui media, talkshow kesehatan, serta program komunitas harus terus digalakkan. Pendekatan yang mengedepankan edukasi, deteksi dini, dan akses layanan kesehatan yang merata akan menjadi kunci mengurangi angka kematian akibat kanker kolorektal di Indonesia.
Dengan menggabungkan tes FIT yang mudah diakses, pola hidup sehat, dan dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia dapat menurunkan risiko kanker kolorektal secara signifikan. Upaya bersama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat luas menjadi landasan utama untuk menaklukkan ancaman ini.
