IPD – 14 April 2026 | Konten kreator terkenal Jerome Polin bersama kakaknya, Jehian Panangian, resmi mengumumkan penutupan seluruh gerai Menantea, jaringan minuman kekinian yang pernah tersebar di banyak kota Indonesia. Penutupan akan berlaku secara permanen mulai 25 April 2026 setelah perusahaan mengakui kerugian kumulatif mencapai Rp 38 miliar. Keputusan ini diambil setelah serangkaian masalah operasional, keuangan, dan kepatuhan pajak yang tak dapat dipulihkan.
Menantea pertama kali dibuka pada 10 April 2021, tepat lima tahun lalu, sebagai usaha pertama bagi kedua bersaudara. Pada awalnya, konsep minuman segar dengan varian rasa lokal menarik minat konsumen muda, dan jaringan toko cepat berkembang hingga mencakup beberapa wilayah strategis di Tanah Air. Namun, seiring pertumbuhan, muncul kelemahan struktural yang menghambat kelangsungan bisnis.
Berikut ini faktor-faktor utama yang menyebabkan menurunnya kinerja Menantea:
- Kesiapan bisnis yang kurang matang: Kedua pendiri mengaku tidak melakukan riset pasar mendalam serta tidak menyiapkan prosedur operasional standar sejak awal.
- Masalah mitra dan pemasok: Beberapa mitra melaporkan ketidaksesuaian pasokan, sementara supplier mengirimkan tagihan yang tidak terbayar selama bertahun‑tahun.
- Kesalahan pelaporan pajak: Kantor pajak menghubungi perusahaan terkait laporan pajak yang tidak akurat pada tahap pendirian, menimbulkan denda dan bunga.
- Indikasi fraud internal: Audit internal menemukan adanya penyalahgunaan dana dan manipulasi catatan keuangan.
- Kurangnya audit eksternal: Tidak ada audit rutin oleh kantor akuntan publik, sehingga masalah keuangan terakumulasi tanpa terdeteksi lebih awal.
Upaya penyelamatan sempat dilakukan selama dua tahun terakhir. Tim internal menggandeng akuntan publik untuk investigasi, berkomunikasi intensif dengan mitra, memberikan kompensasi kepada karyawan yang terdampak, melunasi tagihan bahan baku, serta menyelesaikan kewajiban pajak yang tertunda. Semua langkah tersebut didanai sebagian besar dari dana pribadi Jerome dan Jehian.
Meski demikian, upaya tersebut tidak berhasil mengembalikan kepercayaan pelanggan dan mitra. Pada akhirnya, keputusan menutup Menantea dipandang sebagai langkah paling bijaksana untuk menghindari kerugian yang lebih dalam dan melindungi reputasi pribadi para pendiri.
Penutupan Menantea menambah daftar bisnis hiburan dan kuliner yang gagal di Indonesia. Beberapa artis dan influencer lain juga mengalami nasib serupa, termasuk contoh kasus di mana usaha mereka harus gulung tikar karena tantangan serupa dalam manajemen keuangan dan kepatuhan regulasi.
Dampak penutupan ini dirasakan tidak hanya oleh para pemilik, tetapi juga oleh karyawan, supplier, serta pelanggan setia yang kini kehilangan akses ke produk yang mereka sukai. Menantea, yang pernah menjadi simbol kreativitas generasi milenial, kini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya persiapan bisnis yang matang, kontrol internal yang kuat, serta kepatuhan pajak yang ketat.
Ke depan, Jerome Polin menyatakan niatnya untuk kembali ke dunia edukasi dan konten digital, bidang yang selama ini menjadi basis popularitasnya. Ia berharap pengalaman pahit ini dapat menjadi pelajaran bagi para pengusaha muda lainnya, terutama yang mengandalkan popularitas pribadi tanpa fondasi bisnis yang solid.
Kasus Menantea menegaskan kembali bahwa popularitas media sosial tidak menjamin keberhasilan bisnis jangka panjang. Tanpa strategi keuangan yang terukur, audit yang rutin, serta pemahaman mendalam tentang regulasi, bahkan usaha yang tampak menjanjikan sekalipun dapat berakhir dengan kerugian ratusan juta rupiah.
