Zebra Cross Viral di Pancoran: Dinas Bina Marga DKI Rencanakan Revitalisasi Lengkap

IPD – 02 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Empat zebra cross yang sempat menjadi sorotan publik karena desain kreatif bergaya Pac-Man di kawasan Pancoran kini menjadi prioritas perbaikan Dinas Bina Marga DKI. Aksi warga yang menandai kembali titik penyeberangan yang hilang menarik perhatian media dan menimbulkan perdebatan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan infrastruktur keselamatan jalan.

Marka jalan yang menghilang di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Pancoran, selama berbulan-bulan membuat pejalan kaki, terutama pelajar dan jemaat gereja sekitar, harus menyeberang tanpa isyarat yang jelas. Keadaan ini menimbulkan potensi bahaya yang signifikan mengingat kepadatan lalu lintas di koridor tersebut. Sebagai respons, sekelompok warga memanfaatkan malam hari untuk melukis ulang zebra cross dengan motif karakter video game klasik Pac‑Man, sekaligus menyampaikan kritik sosial terhadap lambatnya respon pemerintah.

Desain yang viral itu tidak hanya menjadi bahan perbincangan di media sosial, tetapi juga memaksa Dinas Bina Marga DKI meninjau kembali kebijakan pemeliharaan marka jalan. Pada hari Rabu, Dinas tersebut mengumumkan rencana penggarapan ulang seluruh zebra cross yang terdampak di Pancoran, termasuk penambahan perlengkapan keselamatan tambahan seperti lampu sorot LED dan rambu peringatan.

Berikut alasan utama yang dijelaskan oleh Dinas Bina Marga dalam rapat koordinasi:

  • Kepatuhan terhadap regulasi: Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 34/2014, marka jalan termasuk zebra cross wajib dipelihara agar tetap terbaca dan berfungsi sebagai alat pengatur lalu lintas.
  • Keselamatan pejalan kaki: Tanpa zebra cross yang jelas, risiko kecelakaan meningkat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
  • Respons publik: Tindakan kreatif warga menunjukkan rasa frustrasi atas kurangnya respons pemerintah, sehingga perlu ditanggapi dengan tindakan konkret.
  • Integrasi teknologi: Penggunaan material cat anti‑luntur dan penerangan LED diharapkan meningkatkan visibilitas marka dalam kondisi cuaca buruk.

Tim teknis Dinas Bina Marga juga menyampaikan bahwa proses perbaikan akan melibatkan konsultan transportasi untuk memastikan standar internasional dipenuhi. Pengerjaan diperkirakan akan dimulai pada pertengahan April dan selesai dalam tiga minggu, dengan jadwal yang menyesuaikan kondisi lalu lintas agar gangguan dapat diminimalisir.

Selain itu, Dinas berjanji akan meningkatkan mekanisme monitoring secara real‑time menggunakan aplikasi berbasis GIS (Geographic Information System). Sistem ini memungkinkan warga melaporkan kerusakan marka jalan secara langsung, sehingga respons dapat lebih cepat.

Pengalaman sebelumnya di daerah lain, seperti tindakan “Ruwatan Zebra Cross” pada September 2014 di Jakarta Pusat, menjadi pelajaran penting. Saat itu, warga melakukan pengecatan ulang secara mandiri setelah pemerintah tidak menanggapi keluhan selama lima bulan. Kejadian serupa di Pancoran menunjukkan pola yang sama: ketidakhadiran respons resmi mendorong aksi swadaya warga.

Para pakar transportasi mengapresiasi langkah Dinas Bina Marga, namun menekankan bahwa perbaikan satu titik tidak cukup. Mereka menekankan perlunya pendekatan holistik, termasuk penataan ulang jalur pejalan kaki, penambahan trotoar yang lebar, serta edukasi pengemudi tentang hak prioritas pejalan kaki.

Warga yang terlibat dalam aksi Pac‑Man menanggapi keputusan tersebut dengan harapan bahwa pemerintah akan lebih proaktif. “Kami tidak ingin hanya menjadi simbol viral, tapi berharap tindakan nyata yang menjamin keselamatan setiap orang yang melintas,” ujar salah satu aktivis komunitas, @ijoeel, melalui akun Instagramnya.

Dengan revamp zebra cross di Pancoran, Dinas Bina Marga DKI berupaya mengembalikan kepercayaan publik dan menunjukkan komitmen terhadap keselamatan jalan. Jika berhasil, langkah ini dapat menjadi model bagi daerah lain di Jakarta yang mengalami permasalahan serupa.

Keberhasilan proyek ini akan dipantau secara berkala, dan hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan kebijakan jangka panjang dalam pengelolaan infrastruktur penyeberangan pejalan kaki di ibu kota.

Leave a Comment