IPD – 13 April 2026 | Pasangan mata uang USD/JPY kembali menanjak pada sesi perdagangan Asia Senin, menembus level sekitar 159,80. Kenaikan ini sejalan dengan penguatan Dolar Amerika Serikat yang dipicu oleh sentimen risiko setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan pembicaraan tersebut menimbulkan ketegangan geopolitik baru, memicu pergerakan safe‑haven dan mengubah dinamika pasar valuta asing.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengonfirmasi bahwa perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa hasil. Pernyataan Vance mempertegas bahwa pihak Tehran tidak mencapai titik temu dengan Washington, sehingga diplomasi bilateral kembali ke titik nol. Pada saat yang bersamaan, mantan Presiden Donald Trump menegaskan rencananya untuk memulai “blokade” kapal‑kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menambahkan bahwa operasi pemblokiran maritim akan dimulai pada pukul 10:00 ET (14:00 GMT) Senin, menargetkan semua lalu lintas masuk dan keluar dari pelabuhan‑pelabuhan Iran. Pengumuman ini meningkatkan persepsi risiko di kalangan investor, karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute pengiriman minyak terbesar di dunia. Ancaman terhadap keamanan pelayaran menambah tekanan pada mata uang safe‑haven, termasuk Yen Jepang.
Yen, yang biasanya menguat dalam situasi geopolitik berisiko, justru tertekan dalam konteks ini. Sebagian besar penurunan dipicu oleh aliran dana ke Dolar AS, yang dianggap sebagai aset paling likuid dan aman ketika ketidakpastian meluas. Peningkatan permintaan Dolar menyebabkan USD/JPY mencatat tiga hari berturut‑turut naik, menandakan pergeseran sentimen risiko yang signifikan.
Di sisi lain, pasar menantikan keputusan penting Bank of Japan (BoJ) yang dijadwalkan pada akhir bulan April. Kebijakan moneter BoJ menjadi sorotan utama karena perbedaan kebijakan antara bank sentral Jepang dan Federal Reserve Amerika Serikat terus melebar. Sementara Fed tetap berada pada jalur kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi, BoJ masih mempertahankan kebijakan ultra‑longgar, meskipun mulai menunjukkan sinyal pelonggaran secara bertahap.
Laporan internal BoJ, yang dikenal sebagai “Sakura Report”, mengungkapkan bahwa para pejabat dewan tengah menyeimbangkan dua risiko utama: inflasi yang mulai menghangat akibat kenaikan harga energi global, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik. Semua sembilan wilayah ekonomi di Jepang melaporkan kondisi yang “pulih secara moderat” atau “menguat”, namun tekanan eksternal dari pasar valuta asing tetap menjadi faktor penghambat.
Berikut beberapa poin utama yang mempengaruhi pergerakan Yen dan Dolar pada hari itu:
- USD/JPY menguat karena Dolar AS naik sebagai aset safe‑haven setelah pembicaraan AS‑Iran gagal.
- JD Vance mengonfirmasi tidak ada kesepakatan setelah 21 jam negosiasi di Islamabad.
- CENTCOM mengumumkan blokade maritim ke pelabuhan‑pelabuhan Iran pada pukul 10:00 ET Senin.
- Presiden Donald Trump menegaskan rencana blokade kapal di Selat Hormuz.
- Bank of Japan akan menilai kebutuhan penyesuaian suku bunga dalam pertemuan akhir April.
Reaksi pasar terhadap ketegangan ini menunjukkan dinamika yang kompleks antara faktor geopolitik dan kebijakan moneter. Di satu sisi, ancaman militer dan blokade maritim meningkatkan permintaan akan aset yang dianggap aman, seperti Dolar AS. Di sisi lain, kebijakan BoJ yang masih longgar memberikan ruang bagi Yen untuk tetap lemah, meskipun pada jangka panjang risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan dapat memaksa bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan.
Para analis menilai bahwa jika situasi di Selat Hormuz semakin memburuk, aliran dana ke Dolar AS dapat terus berlanjut, menekan Yen lebih jauh. Namun, jika BoJ memutuskan untuk mengurangi stimulus secara signifikan, Yen dapat memperoleh dukungan kembali, terutama bila selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat menyempit.
Secara keseluruhan, pergerakan USD/JPY pada hari Senin mencerminkan kombinasi tekanan geopolitik, kebijakan moneter, dan sentimen risiko pasar. Investor disarankan untuk memantau perkembangan negosiasi diplomatik antara AS dan Iran, serta keputusan kebijakan BoJ yang akan datang, sebagai indikator utama arah nilai tukar dalam minggu‑minggu mendatang.
