IPD – 13 April 2026 | Pertandingan antar NEC Nijmegen dan Feyenoord pada Minggu sore, 12 April 2026, menyajikan drama yang tak hanya mengubah hasil akhir, tetapi juga memicu perdebatan tajam tentang keputusan wasit. Kedua tim berakhir dengan skor imbang 1-1 di Stadion Goffert, menambah ketegangan di papan klasemen Eredivisie dimana Feyenoord masih memegang posisi runner-up dengan selisih tipis satu poin dari NEC.
Gol pertama datang lebih cepat, tepat pada menit ke-18, ketika penyerang Jepang Ayase Ueda membuka keunggulan Feyenoord lewat sundulan tajam dari corner yang dikirim oleh Anis Hadj Moussa. Gol tersebut menegaskan kualitas serangan Feyenoord yang dipimpin oleh mantan legenda Robin van Persie, sekaligus menambah tekanan pada tuan rumah NEC.
Namun, momen krusial terjadi di paruh pertama ketika Philippe Sandler dari Feyenoord menjatuhkan Ayase Ueda yang sedang melancarkan serangan ke arah gawang. Wasit Serdar Gözübüyük hanya memperlihatkan kartu kuning kepada Sandler, keputusan yang menimbulkan kebingungan di antara pemain dan staf Feyenoord. Tjaronn Chery mengungkapkan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh kedekatan kiper Gonzalo Crettaz dengan Ueda pada saat terjadinya pelanggaran, namun banyak yang berpendapat bahwa tindakan tersebut seharusnya dikenai kartu merah.
Luciano Valente, asisten pelatih NEC, tidak menyembunyikan kekecewaannya. “Menurut apa yang saya lihat sendiri, ini benar‑benar memalukan,” ujar Valente dalam konferensi pers pasca pertandingan. Ia menambahkan, “Jika mereka bermain dengan sepuluh orang, pertandingan akan sangat berbeda. Ini sungguh sangat disayangkan.” Valente menilai keputusan wasit “sesuai dengan musim Feyenoord”, mengisyaratkan bahwa klub Rotterdam kerap berada di situasi serupa sepanjang kompetisi.
Sementara Feyenoord mempertahankan keunggulan 1-0 hingga menit ke-90, NEC tidak menyerah. Pada tambahan waktu, mantan striker Feyenoord, Danilo Pereira, menjadi pahlawan tak terduga. Setelah menerima umpan silang dari Sami Ouaissa, Danilo mengeksekusi setengah tendangan yang melesat ke sudut bawah gawang Timon Wellenreuther, menyeimbangkan kedudukan pada menit ke-97. Gol tersebut tidak hanya menyelamatkan satu poin penting bagi NEC, tetapi juga menegaskan kemampuan pemain bekas klub untuk kembali beraksi melawan mantan timnya.
Keputusan taktis pelatih Feyenoord juga menjadi sorotan. Anis Hadj Moussa kembali masuk sebagai starter, sementara Raheem Sterling, yang baru bergabung, belum menampilkan kontribusi signifikan. Di sisi NEC, taktik bertahan yang disiplin berhasil menahan tekanan Feyenoord meski harus bermain dengan sebelas pemain selama lebih dari dua dekade menit setelah kartu kuning Sandler.
Berikut rangkuman poin penting pertandingan:
- Gol pertama: Ayase Ueda (Feyenoord) – menit 18.
- Kartu kuning kontroversial: Philippe Sandler (Feyenoord) atas pelanggaran terhadap Ayase Ueda.
- Gol penyeimbang: Danilo Pereira (NEC) – menit 97 (waktu tambahan).
- Statistik utama: Feyenoord menguasai penguasaan bola 58%, NEC 42%; tembakan ke gawang 7 vs 4.
Hasil imbang ini memiliki implikasi signifikan bagi kedua klub. Feyenoord, yang berada di posisi kedua, kini hanya selisih satu poin dari NEC dan dua poin dari FC Twente, serta empat poin dari Ajax. Margin tipis tersebut menambah tekanan pada tim Rotterdam untuk mengamankan poin maksimal dalam sisa empat pertandingan musim ini demi memastikan tiket langsung ke fase grup Liga Champions musim depan.
Di sisi lain, NEC melihat hasil ini sebagai langkah positif dalam perebutan posisi papan atas. Dengan satu poin tambahan, mereka tetap berada di zona persaingan ketat untuk tempat kedua, sekaligus mengirimkan sinyal bahwa mereka mampu menahan tekanan klub-klub besar.
Pasca pertandingan, Robin van Persie mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan wasit, menyatakan, “Kami berharap keputusan yang adil diberikan, terutama dalam situasi krusial seperti ini.” Sementara itu, Luciano Valente menegaskan bahwa timnya akan terus memperbaiki performa dan tidak akan terpengaruh oleh kontroversi yang terjadi.
Dengan empat pertandingan tersisa, pertarungan di puncak klasemen Eredivisie diprediksi akan semakin sengit. Baik Feyenoord maupun NEC harus mengoptimalkan strategi, menghindari kesalahan fatal, dan memastikan konsistensi performa untuk mencapai tujuan masing‑masing, baik itu gelar juara atau tiket Liga Champions.
Kesimpulannya, pertandingan antara NEC dan Feyenoord tidak hanya menyajikan aksi di lapangan, tetapi juga menimbulkan perdebatan mengenai integritas keputusan wasit. Kontroversi kartu kuning, reaksi keras dari pelatih, serta gol penyeimbang di menit akhir menambah warna pada saga kompetitif Eredivisie yang semakin menegangkan menjelang akhir musim.
