IPD – 05 April 2026 | Wall Street menutup sesi perdagangan terakhirnya dengan mayoritas indeks utama berakhir melemah, dipicu oleh kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik geopolitik di beberapa wilayah. Kenaikan risiko perang menggerakkan investor global untuk beralih ke aset yang lebih aman, memicu penjualan saham secara luas. Di Asia, pasar Indonesia (IHSG) turut terpengaruh, mencatat penurunan hampir satu persen dalam seminggu terakhir, sejalan dengan sentimen negatif yang mengalir dari pasar Amerika.
Data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,99% menjadi 7.026,78 pada penutupan pekan ini, dibandingkan dengan 7.097,05 pada akhir pekan sebelumnya. Penurunan tersebut menandai kelanjutan koreksi yang dimulai pada akhir Maret 2026, ketika ketegangan geopolitik mulai menguat. Selama periode 30 Maret hingga 2 April 2026, kapitalisasi pasar BEI menyusut sebesar 1,69%, mencapai Rp 12.305 triliun dari Rp 12.516 triliun.
Pengamat pasar, Reydi Octa, menilai bahwa pergerakan IHSG selama seminggu terakhir bersifat fluktuatif, namun tetap dipengaruhi oleh aksi jual investor asing, khususnya pada saham-saham perbankan besar. “Meskipun ada indikasi rebound teknikal berkat meredanya tensi geopolitik global dan penguatan bursa regional, tekanan tetap kuat karena aliran keluar dana asing,” ujarnya.
Volume transaksi harian BEI rata-rata menurun 8,62%, dari 28,31 miliar saham menjadi 25,87 miliar saham, sementara nilai transaksi harian jatuh 36,69% menjadi Rp 14,77 triliun. Penjualan saham oleh investor asing tercatat sebesar Rp 2,94 triliun, lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp 22,37 triliun, namun tetap menandakan tekanan jual yang signifikan.
Di sisi lain, frekuensi transaksi harian meningkat 3,08% menjadi 1,78 juta kali, mengindikasikan bahwa meskipun nilai total berkurang, aktivitas perdagangan tetap tinggi. Sektor-sektor yang berhasil menguat terbatas pada tiga bidang: industri naik 3,35%, consumer non-siklikal naik 2,28%, dan consumer siklikal mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,58%.
Sentimen negatif yang melanda pasar global tidak hanya terbatas pada Amerika Serikat. Di Eropa, indeks DAX dan FTSE 100 juga mencatat penurunan, sementara pasar Asia lainnya, seperti Hong Kong dan Jepang, mengalami penurunan serupa. Analisis para analis menyebutkan bahwa kekhawatiran utama meliputi potensi konflik militer di Timur Tengah, peningkatan ketegangan antara negara-negara NATO dan Rusia, serta ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat yang dapat memperlemah dolar.
Rupiah Indonesia turut mengalami tekanan, menguat sedikit terhadap dolar pada awal pekan namun kembali melemah menjelang penutupan. Nilai tukar resmi tercatat pada kisaran Rp 15.350 per dolar, menandakan fluktuasi yang masih dipengaruhi oleh arus modal luar negeri dan ekspektasi inflasi.
Investor domestik mencoba menyesuaikan portofolio dengan beralih ke sektor defensif, seperti utilitas dan consumer staples, serta meningkatkan alokasi pada obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih stabil. Namun, likuiditas yang menurun dan volatilitas yang tinggi tetap menjadi tantangan utama bagi para pelaku pasar.
Secara keseluruhan, tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global memperkuat aliran keluar modal dari pasar ekuitas, termasuk Indonesia. Meskipun aksi jual investor asing sedikit menurun pada pekan ini, ekspektasi akan kebijakan stimulus atau stabilisasi geopolitik menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan pasar dalam minggu-minggu mendatang.
