IPD – 04 April 2026 | JAKARTA – Pada pekan ini, dua negara utama di Asia Tenggara, Vietnam dan Malaysia, menunjukkan dinamika kompetitif di tiga sektor strategis: energi, pariwisata, dan pembayaran digital. Kebijakan fiskal Vietnam yang menurunkan pajak atas produk minyak tertentu hingga nol, peningkatan produksi bahan bakar jet di kilang Binh Son, serta kampanye budaya‑pariwisata di Teluk Beibu yang melibatkan influencer Malaysia, menjadi sorotan utama. Di sisi lain, Malaysia tengah memperkuat infrastruktur pembayaran elektronik dan memperluas jaringan pelayaran wisata, termasuk kapal pesiar yang menjelajah wilayah ASEAN.
Di bidang energi, Kementerian Keuangan Vietnam mengusulkan pemotongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak lingkungan pada bahan bakar kerosin serta mazut menjadi 0 persen. Langkah ini ditujukan untuk menurunkan beban biaya hidup warga di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak dunia. Saat ini, kerosin dan mazut masih dikenakan pajak lingkungan sebesar 1.000 dong per liter serta PPN 10 persen. Kebijakan tersebut diproyeksikan akan diajukan ke Sidang Parlemen Nasional ke‑16 pada awal April.
Selaras dengan upaya menekan harga energi, Binh Son Refinery meningkatkan produksi jet fuel. Menurut laporan Reuters, unit pemrosesan kerosin (KTU) beroperasi pada 145 persen kapasitas desain sejak 1 April, menghasilkan lebih dari 509.000 ton Jet A‑1, setara 30 persen kebutuhan domestik. Perdana Menteri Pham Minh Chinh bahkan meminta kilang Nghi Son untuk mengalihkan produksi dari petrokimia ke bahan bakar, khususnya jet fuel, guna menstabilkan pasar domestik yang sempat terganggu oleh kelangkaan pasokan.
Sementara Vietnam fokus pada subsidi energi, Malaysia mengalihkan strategi ke sektor keuangan digital. Laporan Global Payments 2026 mencatat bahwa metode pembayaran non‑tunai di Malaysia terus meningkat, didukung oleh layanan A2A seperti DuitNow dan QR DuitNow yang telah mencapai 2,6 juta titik penerimaan pada akhir 2024. Pemerintah Malaysia menargetkan pengurangan penggunaan uang tunai sebagai bagian dari Blueprint Sektor Keuangan, mengingat peran signifikan cash dalam menghindari pajak.
Di ranah pariwisata, kedua negara bersaing menarik perhatian wisatawan regional. Pada awal April, Nanning, China, menjadi tuan rumah kampanye “Romantic Coast, Beautiful Southern Border” yang mengundang travel influencer dari Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura, Filipina, dan Indonesia. Influencer Malaysia, bersama rekan‑rekannya, mengeksplorasi enam kota di Teluk Beibu—Nanning, Beihai, Qinzhou, Fangchenggang, Yulin, dan Chongzuo—dan mempublikasikan konten visual serta panduan perjalanan yang menonjolkan kuliner, budaya, dan alam setempat. Keberadaan kuliner khas Vietnam, Thailand, dan Malaysia di wilayah tersebut menegaskan kedekatan budaya ASEAN, sekaligus menumbuhkan potensi pertukaran wisata antara Vietnam dan Malaysia.
Tak kalah penting, industri kapal pesiar memperkuat konektivitas regional. Kapal Adora Mediterranea baru saja berlayar dari Pelabuhan Xiamen dengan itinerari enam hari mengunjungi Manila, Boracay, serta destinasi di Vietnam, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Pemberangkatan ini menandakan peningkatan frekuensi pelayaran yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama di Asia Tenggara, membuka peluang bagi wisatawan Malaysia untuk menjelajahi Vietnam dan sebaliknya.
Ketiga sektor tersebut saling terkait dalam kerangka persaingan dan kerja sama ASEAN. Kebijakan energi Vietnam yang menurunkan pajak bahan bakar dapat menurunkan harga transportasi udara, yang pada gilirannya meningkatkan volume penumpang antara Hanoi dan Kuala Lumpur. Di sisi lain, kemajuan pembayaran digital Malaysia mempermudah transaksi wisatawan asing, termasuk mereka yang mengunjungi festival budaya di Teluk Beibu atau naik kapal pesiar lintas negara. Sementara itu, kampanye influencer menumbuhkan citra destinasi yang ramah, memperkuat brand masing‑masing negara di mata konsumen regional.
Secara keseluruhan, dinamika kebijakan fiskal, produksi energi, inovasi pembayaran, dan promosi pariwisata menunjukkan bahwa Vietnam dan Malaysia berada pada jalur pertumbuhan yang saling melengkapi namun kompetitif. Kedua negara tampaknya menyadari bahwa kolaborasi dalam kerangka ASEAN dapat mempercepat pemulihan ekonomi pasca‑krisis energi, sekaligus memperluas pangsa pasar wisatawan dan pengguna layanan digital di kawasan.
