IPD – 14 April 2026 | Pasangan mata uang GBP/USD kembali mengukir catatan penting pada awal pekan ini, berhasil menembus level 1,3500 dan mencatat kenaikan tertinggi dalam tujuh minggu terakhir. Pergerakan ini terjadi setelah dolar Amerika mengalami pelemahan yang dipicu oleh kekhawatiran geopolitik di wilayah Timur Tengah, khususnya blokade baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz. Meskipun awal sesi perdagangan hari Senin menunjukkan tekanan jual pada Pound Sterling, sentimen berbalik menjadi bullish seiring pasar menilai kemungkinan resolusi diplomatik yang lebih cepat.
GBP/USD dibuka pada level terendah sesi sekitar 1,3380, namun berhasil melakukan rally signifikan sepanjang hari dan menutup di sekitar 1,3510, naik sekitar 0,35 persen. Kenaikan ini mengembalikan pasangan mata uang ke zona 1,3500 untuk pertama kalinya sejak penurunan tajam yang dipicu oleh pecahnya konflik Iran pada akhir Februari. Sejak awal April, GBP/USD telah mengumpulkan lebih dari 350 pip, menghapus setengah penurunan yang sebelumnya terjadi dari puncak tahunan mendekati 1,3870.
Blokade baru AS terhadap Selat Hormuz, yang diumumkan setelah kegagalan negosiasi perdamaian di Pakistan, pada awalnya memicu aliran dana ke aset safe‑haven dan menurunkan nilai Pound Sterling. Namun, pasar segera menyesuaikan ekspektasi ketika indikasi muncul bahwa pihak‑pihak terkait dapat mencapai kesepakatan damai. Pergeseran selera risiko ini menurunkan daya tarik dolar AS secara luas, memungkinkan Pound Sterling untuk pulih dan melanjutkan tren naiknya.
Fokus berikutnya beralih pada data inflasi Amerika Serikat. Pada hari Selasa, Indeks Harga Produsen (IHP) untuk bulan Maret dijadwalkan dirilis dan diperkirakan menjadi cetakan inflasi pertama yang menangkap dampak awal harga energi akibat konflik di Selat Hormuz. Konsensus pasar memperkirakan IHP naik 1,2 % secara bulanan, naik signifikan dari 0,7 % pada Februari, sementara pertumbuhan tahunan diperkirakan melonjak menjadi 4,6 % dari 3,4 % sebelumnya. Berikut beberapa poin penting terkait data yang akan datang:
- IHP Maret AS diperkirakan naik 1,2 % MoM.
- YoY IHP diproyeksikan mencapai 4,6 %.
- Data ini dapat memperkuat argumen Federal Reserve untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut bila tekanan inflasi energi menular ke sektor lain.
- Lima pejabat Fed – Goolsbee, Barr, Barkin, Collins, dan Paulson – dijadwalkan memberikan pidato pada hari yang sama, menambah volatilitas pasar.
Di sisi Inggris, risiko pasokan energi juga menjadi sorotan utama. Penutupan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan utilitas, yang pada gilirannya dapat menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) Inggris. Analis memperkirakan IHK Inggris akan naik antara 3 % hingga 3,5 % dalam kuartal mendatang, menandakan potensi tekanan inflasi yang lebih lama. Sebelumnya, inflasi Inggris berada pada jalur menurun menuju target Bank of England sebesar 2 %, namun konflik energi kini mengubah proyeksi, memicu pergeseran ekspektasi pasar dari penurunan suku bunga ke kemungkinan kenaikan lebih lanjut.
Secara teknikal, grafik harian GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,3513, tetap berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 50‑hari pada 1,3395 dan EMA 200‑hari pada 1,3367. Kedua level moving average ini berfungsi sebagai zona dukungan kuat, dan selama harga tetap di atas keduanya, bias bullish tetap terjaga. Stochastic RSI berada di level sekitar 71, menandakan kondisi jenuh beli dan mengisyaratkan potensi kelelahan momentum dalam jangka pendek. Support pertama terletak pada EMA 50‑hari (1,3395), dengan EMA 200‑hari (1,3367) memperkuat area permintaan sekunder di bawahnya. Selama GBP/USD berhasil mempertahankan posisi di atas klaster moving average ini, para pelaku bullish kemungkinan akan menganggap setiap pull‑back sebagai koreksi sementara, bukan pembalikan tren.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor geopolitik, data inflasi AS, dan dinamika kebijakan moneter menjadi pendorong utama pergerakan GBP/USD pada minggu ini. Kelemahan dolar AS yang dipicu oleh ketegangan di Selat Hormuz membuka ruang bagi Pound Sterling untuk memperkuat posisinya, meskipun risiko inflasi energi di Inggris dapat menahan laju apresiasi lebih lanjut. Investor dan trader disarankan memantau rilis IHP serta pernyataan pejabat Federal Reserve, karena keduanya dapat menjadi katalis penting bagi arah selanjutnya.
