USD/JPY Turun di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran dan Penurunan PMI ISM

IPD – 07 April 2026 | Pasangan mata uang USD/JPY mencatat pergerakan lemah pada Senin, dipicu melemahnya dolar Amerika Serikat (USD) di tengah optimisme diplomatik terkait kemungkinan gencatan senjata antara Washington dan Tehran. Yen Jepang (JPY) mendapatkan dukungan moderat, namun tetap berada di bawah tekanan karena nilai tukar mendekati level kritis 160,00, yang dapat memicu intervensi otoritas moneter Jepang.

Berita mengenai gencatan senjata tersebut muncul dari beberapa sumber berita internasional yang menyebut bahwa kedua belah pihak, bersama mediator regional, tengah menyiapkan proposal dua tahap untuk menghentikan permusuhan. Salah satu skenario yang dibahas meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi titik fokus ketegangan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan Tehran telah menyiapkan respons diplomatik dan akan mengumumkannya pada waktu yang tepat.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan pada Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM untuk bulan Maret, yang turun menjadi 54,0 dari 56,1 pada Februari dan berada di bawah perkiraan pasar sebesar 55,0. Penurunan ini menandakan melambatnya aktivitas sektor jasa, yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi AS. Kombinasi antara harapan gencatan senjata dan data PMI yang lemah menurunkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve, yang kini diprediksi akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini hingga 2026, jauh lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mengantisipasi pemotongan suku bunga dua kali pada tahun ini.

Di Jepang, kenaikan harga minyak mentah tetap menjadi faktor penting dalam penilaian inflasi. Karena Jepang merupakan importir energi bersih, lonjakan biaya energi dapat menambah tekanan inflasi domestik, yang pada gilirannya dapat memperkuat argumen Bank of Japan (BoJ) untuk melanjutkan siklus pengetatan bertahap. Namun, biaya energi yang lebih tinggi juga berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi, sehingga BoJ harus menyeimbangkan antara menjaga inflasi tetap terkendali dan menghindari penurunan pertumbuhan yang signifikan. Saat ini pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen bagi BoJ untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan April, dengan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Risiko intervensi tetap tinggi mengingat USD/JPY berada di dekat level 160,00, yang menjadi ambang batas psikologis bagi otoritas Jepang. Sejak tahun 2022, Bank of Japan dan Kementerian Keuangan secara berulang kali menegaskan kesiapan mereka untuk menstabilkan pasar mata uang bila terjadi volatilitas yang berlebihan. Oleh karena itu, pelaku pasar terus memantau pergerakan nilai tukar di sekitar level tersebut, dengan ekspektasi bahwa tindakan intervensi dapat terjadi bila pasangan mata uang menembus batas tersebut secara signifikan.

Secara keseluruhan, dinamika USD/JPY pada hari ini mencerminkan interaksi kompleks antara faktor geopolitik, data ekonomi, dan kebijakan moneter utama. Harapan gencatan senjata antara AS dan Iran memberikan dorongan positif bagi dolar, sementara data PMI yang melemah menurunkan ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Fed. Di Jepang, tekanan inflasi dari harga minyak tetap menjadi pertimbangan utama bagi BoJ, sementara risiko intervensi tetap mengintai di level teknikal 160,00. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi utama yang dapat memicu perubahan kebijakan moneter di kedua negara.

Leave a Comment