IPD – 06 April 2026 | Pasangan mata uang USD/JPY diperdagangkan sedikit melemah di kisaran 159,55 pada sesi Asia Senin, namun masih berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 20‑hari yang menjadi indikator utama tren jangka pendek. Meskipun dolar AS menunjukkan tekanan penurunan, faktor geopolitik dan permintaan safe‑haven terhadap Yen Jepang tetap mendukung posisi relatif yen.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras melalui platform Truth.Social. Ia menekankan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum batas waktu 7 April, Amerika Serikat akan “menghancurkan” infrastruktur kritis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Ancaman tersebut menambah kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi militer, yang biasanya meningkatkan minat investor pada aset safe‑haven seperti Yen.
Di sisi makroekonomi, pelaku pasar menantikan data Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa ISM Amerika Serikat untuk bulan Maret. Dirilis pada pukul 14:00 GMT, perkiraan awal menunjukkan penurunan dari 56,1 pada Februari menjadi sekitar 55,0. Angka tersebut, bila mengonfirmasi penurunan, dapat menambah tekanan pada dolar, mengingat data jasa merupakan indikator utama kesehatan ekonomi AS.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar terhadap enam mata uang utama, berada di sekitar 100,15, sedikit di bawah level sebelumnya. Penurunan DXY biasanya berbanding terbalik dengan yen, sehingga pergerakan USD/JPY tetap dipengaruhi oleh dinamika kedua faktor tersebut.
- Pasangan berada dalam pola ascending channel dengan batas atas sekitar 160,45 dan puncak channel mendekati 161,00.
- EMA 20‑hari berada di level 158,90, menjadi level support terdekat.
- Support tambahan terletak di dasar channel sekitar 158,10.
- Relative Strength Index (RSI) 14‑hari berada di zona 40‑60, menunjukkan momentum positif namun belum overbought.
Jika USD/JPY berhasil menembus resistance 160,45, jalur kenaikan dapat berlanjut menuju level psikologis 162,00. Sebaliknya, penutupan di bawah 158,10 dapat mengindikasikan kelemahan struktural, membuka peluang koreksi ke zona 157‑an.
Faktor fundamental yang memperkuat yen meliputi:
- Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan permintaan safe‑haven.
- Data PMI jasa AS yang diproyeksikan melambat, berpotensi menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Pergerakan dolar yang dipengaruhi oleh pernyataan politik, bukan hanya data ekonomi.
Investor sebaiknya memperhatikan kombinasi antara analisis teknikal dan fundamental. EMA 20‑hari berfungsi sebagai penunjuk arah tren jangka pendek; selama harga tetap di atas level ini, bias bullish masih terjaga. Namun, penurunan di bawah EMA tersebut dapat mengubah sentimen pasar menjadi lebih bearish, terutama bila didukung oleh data ekonomi yang lemah atau eskalasi konflik yang berlanjut.
Secara keseluruhan, USD/JPY berada dalam fase konsolidasi yang sensitif terhadap dua katalis utama: data ekonomi AS dan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pergerakan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil PMI ISM dan respons pasar terhadap pernyataan Presiden Trump terkait Selat Hormuz.
Investor disarankan untuk menjaga stop‑loss di sekitar level support EMA 20‑hari (158,90) atau dasar channel (158,10) untuk melindungi posisi dari potensi koreksi tajam. Di sisi lain, penempatan target profit dapat mengacu pada level resistance pertama di 160,45 dan level berikutnya di 161,00 atau 162,00, tergantung pada kekuatan momentum yang terwujud.
Kesimpulannya, pasangan USD/JPY tetap berada di atas EMA 20‑hari, menandakan tren naik masih berlanjut meskipun terdapat tekanan geopolitik dan data ekonomi yang mengarah pada pelemahan dolar. Kekuatan yen sebagai safe‑haven dan ketidakpastian di wilayah Timur Tengah menjadi faktor penyeimbang yang dapat memperpanjang fase konsolidasi sebelum munculnya arah yang lebih jelas.
