IPD – 14 April 2026 | Pasar kendaraan niaga Indonesia kini menyaksikan lonjakan signifikan kehadiran truk asal China. Di tengah kebijakan lokalisasi produksi dan dorongan elektrifikasi yang menguat di Tiongkok, produsen truk China menatap peluang besar untuk mengukir pangsa pasar yang selama ini didominasi pemain domestik seperti Hino.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total penjualan kendaraan bermotor pada kuartal I 2026 mencapai 209.021 unit, naik 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari angka tersebut, kelompok merek China menyumbang 36.875 unit atau 17,6 persen. BYD memimpin dengan 12.473 unit, diikuti Jaecoo dengan 8.065 unit dan Wuling dengan 3.594 unit. Keberhasilan BYD didorong oleh rangkaian model listrik seperti Atto 1, Atto 3, Sealion 7, M6, Seal dan Dolphin, sementara Jaecoo memanfaatkan peluncuran Jaecoo J5 EV yang mulai dipasarkan akhir 2025.
Sementara itu, produsen truk asal Jepang, Hino Motors, tetap mencatat penjualan yang kuat meski pasar kendaraan niaga nasional turun 12 persen menjadi 64.181 unit pada tahun 2025. Hino berhasil menjual 20.517 unit truk, menegaskan posisi sebagai pemain utama di segmen medium‑duty truck selama lebih dari dua dekade. Keberhasilan ini berasal dari strategi jangka panjang yang menekankan kualitas, layanan purna jual, serta jaringan distribusi yang luas di seluruh negeri.
Masuknya truk China tidak hanya terbatas pada penjualan mobil penumpang. Beberapa produsen telah mengumumkan rencana pembangunan fasilitas produksi truk di Indonesia. BYD, misalnya, sedang menyiapkan pabrik di Subang, Jawa Barat dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun, yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan pasar niaga domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor. Wuling juga menambah lini produksi truk listrik di pabrik Cikarang, yang sudah merakit model Air EV, Binguo EV, Cloud EV, dan Darion EV.
Tren elektrifikasi yang menggerakkan industri otomotif China memberikan sinyal kuat bagi pasar niaga Indonesia. Profesor Ouyang Minggao dalam Intelligent Electric Vehicle Development Forum menyatakan bahwa kendaraan listrik murni (BEV) akan menguasai 90 persen pasar China pada 2040, dengan rasio BEV : PHEV mencapai 9:1. Efisiensi energi yang jauh lebih tinggi serta dukungan kebijakan insentif menjadi faktor utama. Meskipun pasar Indonesia belum memiliki regulasi yang seketat China, pemerintah telah mengumumkan kebijakan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang mengharuskan produsen mobil listrik menggelar produksi dalam negeri mulai 2026.
Pengaruh kebijakan ini memperkuat posisi truk listrik China yang siap menembus segmen niaga. Keunggulan teknologi baterai, terutama prospek baterai solid‑state dengan kepadatan energi 300 Wh/kg yang diproyeksikan meluncur menjelang akhir dekade ini, menjadi daya tarik bagi operator logistik yang mengincar biaya operasional lebih rendah dan jejak karbon minimal.
Berikut rangkuman data penjualan kendaraan niaga pada kuartal I 2026:
| Merek | Jenis | Unit Terjual | Pangsa Pasar |
|---|---|---|---|
| BYD | Mobil Listrik & Truk | 12.473 | 5,9 % |
| Jaecoo | Mobil Listrik | 8.065 | 3,9 % |
| Wuling | Truk Listrik | 3.594 | 1,7 % |
| Hino | Truk Diesel & Listrik | 20.517 | 9,8 % (2025) |
Analisis para pakar industri menunjukkan bahwa persaingan akan semakin ketat ketika produsen China tidak hanya mengandalkan impor, melainkan juga meningkatkan investasi lokal. Hal ini memberi tekanan pada produsen domestik untuk memperkuat inovasi, meningkatkan layanan purna jual, serta menyesuaikan harga agar tetap kompetitif.
Secara keseluruhan, kehadiran truk China yang semakin meluas diperkirakan akan mengubah lanskap pasar kendaraan niaga Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Kombinasi antara kebijakan pemerintah yang mendukung lokalisasi, kemajuan teknologi baterai, serta strategi ekspansi agresif produsen China menciptakan dinamika baru yang menuntut adaptasi cepat dari semua pemangku kepentingan.
