IPD – 09 April 2026 | Strategi pasar logam mulia kembali menjadi sorotan utama setelah tim riset TD Securities mengeluarkan proyeksi ambisius tentang pergerakan harga emas. Menurut para analis, faktor-faktor makroekonomi seperti inflasi energi yang masih tinggi, penundaan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), serta kurangnya aliran modal dari Timur Tengah menjadi pendorong utama biaya carry emas yang tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun, seiring dengan normalisasi harga energi, penyesuaian kebijakan moneter, dan pelemahan dolar AS, mereka menilai bahwa emas berpotensi kembali menembus level $5.000 per ounce pada paruh akhir tahun 2026.
“Bahkan dengan adanya gencatan senjata di beberapa wilayah konflik, ekspektasi inflasi tetap terjaga karena harga energi, pupuk, dan bahan kimia masih berada pada level yang tinggi,” ujar salah satu kepala riset TD Securities dalam laporan terbaru mereka. “Kondisi ini menyulitkan The Fed untuk segera menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas sebagai aset safe‑haven.”
Berikut adalah poin‑poin kunci yang diidentifikasi oleh TD Securities:
- Inflasi energi yang tinggi: Harga minyak mentah dan gas alam masih berada di atas rata‑rata historis, memicu kenaikan biaya produksi pada sektor‑sektor penting.
- Kebijakan suku bunga Fed: The Fed memperpanjang siklus pengetatan moneter, menahan suku bunga pada level yang relatif tinggi untuk mengekang tekanan inflasi.
- Kurangnya aliran modal dari Timur Tengah: Negara‑negara produsen emas di Timur Tengah mengalami penurunan pasokan dana, yang berpotensi menurunkan likuiditas pasar emas.
- Pelemahan dolar AS: Dolar yang melemah akibat perbedaan kebijakan moneter global meningkatkan daya tarik emas bagi investor yang beralih ke aset berbasis mata uang lain.
Analisis TD Securities menyoroti bahwa biaya carry—yaitu selisih antara biaya penyimpanan dan peluang investasi alternatif—menjadi faktor penentu utama dalam periode transisi ini. Karena suku bunga tetap tinggi, biaya menahan emas secara fisik atau melalui kontrak futures meningkat, membuat sebagian investor beralih ke instrumen keuangan lain yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.
Namun, para pakar menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara. Seiring dengan penurunan tajam pada harga energi, terutama setelah kebijakan produksi minyak global mulai stabil, tekanan inflasi diperkirakan akan mereda. Pada titik itu, The Fed diproyeksikan akan mulai mengurangi suku bunga secara bertahap, membuka ruang bagi biaya carry emas untuk menurun secara signifikan.
Selain itu, dinamika dolar juga menjadi faktor krusial. Dolar yang melemah memberikan dorongan tambahan bagi emas, karena harga emas biasanya dihitung dalam dolar. Bila dolar terus tertekan, investor di luar Amerika Serikat cenderung meningkatkan alokasi ke emas sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang lokal.
TD Securities memperkirakan bahwa kombinasi normalisasi energi, penurunan suku bunga, dan melemahnya dolar akan menciptakan kondisi pasar yang lebih menguntungkan bagi emas pada akhir 2026. Mereka menargetkan harga emas kembali di atas $5.000 per ounce, sebuah level yang belum tercapai sejak puncak pasar pada tahun 2022.
Proyeksi ini tentu tidak lepas dari risiko. Geopolitik, kebijakan fiskal yang tidak terduga, atau lonjakan inflasi baru dapat menunda atau bahkan mengubah arah tren yang diprediksi. Namun, berdasarkan skenario makroekonomi yang paling mungkin terjadi, para analis TD Securities tetap optimis terhadap outlook bullish jangka panjang untuk logam mulia ini.
Investor yang mempertimbangkan alokasi ke emas disarankan untuk memperhatikan faktor‑faktor berikut:
- Pergerakan suku bunga Fed dan kebijakan moneter global.
- Harga energi utama, terutama minyak mentah dan gas alam.
- Kondisi nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama.
- Aliran modal dari kawasan produsen emas, khususnya Timur Tengah.
- Sentimen pasar terkait risiko geopolitik dan inflasi.
Dengan menilai indikator‑indikator tersebut secara cermat, pelaku pasar dapat menyesuaikan strategi investasi mereka untuk memanfaatkan potensi kenaikan harga emas sambil mengelola risiko jangka pendek yang masih tinggi.
Secara keseluruhan, meskipun biaya carry emas tetap menjadi beban dalam beberapa kuartal mendatang, prospek jangka panjang menunjukkan peluang pertumbuhan yang signifikan. Jika kondisi makroekonomi mengarah pada normalisasi yang diharapkan, harga emas berpotensi melampaui $5.000 pada akhir 2026, membuka peluang bagi investor institusional dan ritel untuk meningkatkan eksposur pada aset safe‑haven ini.
