IPD – 17 April 2026 | Isu standar ganda pengawasan nuklir kembali menjadi perbincangan hangat di panggung internasional setelah Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, menyindir kebijakan Amerika Serikat yang secara tegas menekan Iran namun tampak lunak terhadap Korea Utara dan Israel. Pernyataan Tolchenov disampaikan pada 16 April 2026 di Kantor Radio Sonora, Jakarta, menyoroti ketidakkonsistenan kebijakan Washington yang menuduh Iran mengembangkan program nuklir militer, sementara negara-negara lain dengan kemampuan serupa tidak mendapat sorotan serupa.
“Sejak awal tahun ini Trump menyerang Venezuela, Iran, tetapi tidak ada yang menyerang misalnya Korea Utara. Mengapa?” ujar Tolchenov. Ia menambahkan, “(Karena) Korea Utara tidak memiliki minyak,” sebagai sindiran atas alasan ekonomi yang sering dipakai dalam kebijakan luar negeri AS. Menurut Tolchenov, Iran menggunakan energi nuklir untuk kebutuhan damai, bukan militer, dan tidak ada bukti konkret yang menguatkan tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa IAEA telah melakukan inspeksi berulang kali tanpa menemukan jejak program senjata nuklir di Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari yang sama mengumumkan bahwa Iran telah setuju menyerahkan stok uranium yang diperkaya kepada Amerika. Trump menyebut hal itu sebagai “debu nuklir” yang akan kembali ke tangan Washington, meski tidak memberikan rincian teknis mengenai proses penyerahan. Pernyataan ini menambah ketegangan, mengingat Washington sebelumnya mengancam serangan udara dan blokade laut jika Iran menolak kesepakatan.
Perbedaan sikap ini semakin menonjol ketika dibandingkan dengan posisi Amerika terhadap Israel, yang secara de facto memiliki fasilitas nuklir yang tidak diakui secara resmi. Israel tidak pernah berada di bawah tekanan internasional serupa, meskipun memiliki kemampuan nuklir yang diperkirakan jauh melampaui Iran. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang menjadi tolok ukur kebijakan pengawasan nuklir AS.
Beberapa analis menilai bahwa standar ganda ini dipengaruhi oleh pertimbangan geopolitik. Iran dianggap sebagai ancaman regional bagi kepentingan Amerika di Timur Tengah, sedangkan Israel merupakan sekutu strategis yang penting dalam hal intelijen dan pertahanan. Namun, kritik internasional mengingatkan bahwa pendekatan yang tidak konsisten dapat merusak kredibilitas lembaga pengawasan nuklir global, terutama IAEA.
- Sergei Tolchenov menyoroti ketidakkonsistenan kebijakan AS terhadap Iran, Korea Utara, dan Israel.
- Trump mengklaim Iran akan menyerahkan uranium yang diperkaya, tanpa bukti publik.
- Israel tetap tidak diinspeksi meski diperkirakan memiliki arsenal nuklir.
- IAEA belum menemukan bukti program nuklir militer Iran.
Dalam upaya meredakan ketegangan, Tolchenov mengusulkan solusi pragmatis: mengembalikan kehidupan normal Iran dengan membiarkan penggunaan energi nuklir untuk kepentingan damai. Ia menekankan pentingnya dialog yang tidak didasarkan pada tuduhan tanpa bukti, melainkan pada verifikasi ilmiah dan kepatuhan terhadap perjanjian internasional.
Sejumlah negara lain, termasuk Pakistan yang bertindak sebagai mediator, berupaya memfasilitasi pembicaraan damai antara AS dan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance baru-baru ini mengunjungi Islamabad untuk memperkuat peran Pakistan dalam mediasi, menandakan adanya upaya diplomatik yang lebih luas untuk mengatasi krisis ini.
Kesimpulannya, standar ganda pengawasan nuklir menimbulkan tantangan besar bagi upaya non-proliferasi global. Jika kebijakan Amerika Serikat terus bersifat selektif, risiko kehilangan kepercayaan internasional akan meningkat, mempersulit penegakan perjanjian nuklir yang adil dan efektif. Dialog yang inklusif dan berbasis bukti ilmiah menjadi kunci untuk menciptakan solusi berkelanjutan bagi keamanan regional dan global.
