IPD – 08 April 2026 | Royal Antwerp FC, klub sepak bola tertua di Belgia, kembali menjadi sorotan setelah klub tersebut memutuskan untuk menahan pemainnya, Gyrano Kerk, dalam pertandingan melawan RC Genk. Keputusan ini diambil oleh juru bicara klub dengan alasan keamanan, mengingat situasi regulasi passportgate yang masih belum jelas di liga domestik.
Passportgate, istilah yang mengacu pada kontroversi penggunaan paspor ganda atau dokumen identitas yang dipertanyakan, mulai mengemuka di Liga Belanda dan kini menyebar ke Liga Belgia. Liga Belgia berencana mengadopsi kebijakan serupa dengan yang diterapkan di Belanda, menuntut klub untuk memverifikasi keabsahan dokumen pemain secara ketat. Pada saat ini, satu pemain Royal Antwerp, Gyrano Kerk, yang juga membela Timnas Suriname, menjadi contoh pertama yang terdampak. Klub menegaskan bahwa keputusan menyingkirkan Kerk dari skuad melawan Genk diambil demi menghindari risiko hukum dan sanksi kompetitif.
Situasi ini tidak hanya memengaruhi pemain internasional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi pemain asal Indonesia yang berkarier di Belgia. Dua nama yang paling terancam adalah Joey Pelupessy, gelandang tengah Lommel SK, dan Ragnar Oratmangoen, yang bermain untuk FCV Dender. Kedua pemain, yang juga merupakan anggota Timnas Indonesia, kini harus menyiapkan dokumen mereka dengan cermat agar tidak terjebak dalam regulasi baru ini. Kegelisahan mereka mencerminkan tantangan yang dihadapi pemain asing dalam sistem liga Eropa yang semakin ketat.
Selain dampak pada pemain, passportgate juga menyoroti kebijakan transfer dan pembinaan bakat di Royal Antwerp. Pada musim panas 2021, Royal Antwerp menginvestasikan dua juta euro untuk mendatangkan Pierre Dwomoh, gelandang muda asal Belgia. Meskipun harapan tinggi, Dwomoh tidak mampu menembus tim utama dan kemudian menjalani serangkaian pinjaman ke klub-klub lain, termasuk SC Braga, KV Oostende, dan RWDM. Pada Januari 2026, Dwomoh memutuskan kontraknya dengan Watford dan mencoba peruntungan di SC Heerenveen, namun percobaan singkatnya berakhir karena dinyatakan belum cukup bugar. Pengalaman Dwomoh mencerminkan tantangan bagi pemain muda yang beralih klub dalam mencari peluang bermain, terutama ketika regulasi kepemilikan paspor menjadi sorotan.
Royal Antwerp sendiri tengah berada di posisi yang sensitif. Klub harus menyeimbangkan antara menjaga integritas kompetisi dan melindungi pemainnya. Keputusan menahan Kerk menimbulkan pertanyaan tentang seberapa luas dampak passportgate di masa depan. Apakah klub akan menolak pemain lain yang terlibat dalam kasus serupa? Atau apakah regulasi akan memberikan panduan yang lebih jelas sehingga klub dapat mengelola situasi tanpa harus mengorbankan kualitas tim?
Sementara itu, federasi sepak bola Belgia (KBVB) telah menyatakan komitmen untuk meneliti secara menyeluruh setiap kasus yang muncul. Mereka berjanji akan memberikan kejelasan mengenai prosedur verifikasi paspor, termasuk batas waktu dan sanksi bagi pelanggar. Hal ini diharapkan dapat menenangkan klub dan pemain yang khawatir akan konsekuensi hukum atau larangan bermain.
Pentingnya isu ini juga terasa di tingkat internasional. Pemain yang mewakili negara lain, seperti Kerk yang berkompetisi untuk Suriname, atau Pelupessy dan Oratmangoen yang berkontribusi pada Timnas Indonesia, harus menavigasi peraturan domestik sambil menjaga komitmen pada tim nasional mereka. Konflik kepentingan ini menambah lapisan kompleksitas pada dinamika sepak bola modern, di mana mobilitas pemain melintasi batas negara menjadi hal biasa.
Secara keseluruhan, skandal passportgate di Royal Antwerp menandai babak baru dalam pengawasan administratif liga Eropa. Klub, pemain, dan otoritas sepak bola harus berkolaborasi untuk menciptakan kerangka kerja yang adil dan transparan. Bagi Royal Antwerp, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa kebijakan internal mereka sejalan dengan regulasi nasional, sekaligus menjaga performa tim di kompetisi domestik dan Eropa.
Kesimpulannya, situasi ini menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi paspor, serta perlunya dialog terbuka antara federasi, klub, dan pemain untuk menghindari gangguan kompetisi. Royal Antwerp berada di garis depan perubahan ini, dan keputusan yang diambil hari ini akan menentukan arah kebijakan sepak bola Belgia dalam beberapa tahun ke depan.
