Sisca Saras Resmi Debut di Layar Lebar dengan Peran Biarawati dalam Film Horor yang Mengguncang Yogyakarta

IPD – 30 Maret 2026 | Jakarta, 30 Maret 2026 – Aktor muda yang selama ini dikenal lewat peran komedi dan drama, Sis Sisca Saras, mengumumkan debutnya di dunia perfilman horor dengan peran utama sebagai biarawati di film “Biarawati Terlarang“. Film yang diproduksi oleh Rumah Produksi Sinema Nusantara ini dijadwalkan tayang pada akhir Agustus 2026 dan sudah menarik perhatian publik karena menggabungkan elemen keagamaan, mistik, dan psikologis.

Pengumuman resmi dilakukan pada konferensi pers yang diadakan di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Kamis (26/3/2026). Sisca, yang sebelumnya lebih dikenal lewat serial televisi dan sinetron, menyampaikan antusiasmenya terhadap tantangan baru ini. “Saya merasa terhormat dapat mengisi peran biarawati yang tidak hanya menuntut kemampuan akting, tetapi juga pemahaman mendalam tentang nilai spiritual dan konflik batin,” ujarnya sambil menambahkan, “Film ini bukan sekadar menakut-nakuti penonton, melainkan mengajak mereka merenungkan batas antara kepercayaan dan realitas.

Lokasi syuting utama dipilih di Yogyakarta, tepatnya di sebuah bekas biara tua yang pernah berfungsi sebagai pusat pendidikan agama Katolik pada era kolonial Belanda. Bangunan berarsitektur megah ini menawarkan nuansa kelam yang cocok untuk menghidupkan atmosfer horor. Tim produksi menyatakan bahwa pemilihan lokasi didasarkan pada fakta historis dan keunikan arsitektural, namun mereka tidak menutup kemungkinan adanya fenomena mistis yang dapat menambah kedalaman cerita.

Salah satu referensi yang disebutkan oleh sutradara, Rudi Hartono, adalah pengalaman aktris Amara Sophie ketika sedang syuting film horor “Aku Harus Mati” di Yogyakarta pada awal 2026. Amara melaporkan serangkaian kejadian aneh, termasuk suara gedoran pintu keras di tengah malam, sensasi disentuh oleh sesuatu yang tak terlihat, serta mimpi yang terasa sangat nyata. “Kami belajar banyak dari kasus Amara Sophie, terutama tentang bagaimana menjaga kesejahteraan mental pemain saat berada di lokasi yang memang dirancang menakutkan,” kata Rudi. Pengalaman tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam mengatur jadwal kerja, fasilitas istirahat, dan tim konseling psikologis untuk para pemain, termasuk Sisca.

Untuk menyiapkan peran biarawati, Sisca melakukan riset intensif. Ia menghabiskan waktu dua minggu di sebuah konvent Katolik di Depok, berinteraksi langsung dengan biarawati, mempelajari ritus doa, serta mendalami kehidupan sehari-hari para suster. Selain itu, ia mengikuti pelatihan teknik pernapasan dan meditasi yang diajarkan oleh seorang psikolog klinis, guna mengendalikan reaksi emosionalnya ketika menghadapi adegan-adegan yang menegangkan.

Produser eksekutif, Dian Sari, menegaskan bahwa film ini tidak bermaksud menyinggung agama manapun. “Kami berkomitmen untuk menampilkan cerita yang menghormati nilai-nilai keagamaan, sekaligus menyoroti konflik internal yang dapat dialami siapa saja ketika terpapar hal-hal yang tidak dapat dijelaskan,” katanya. Film “Biarawati Terlarang” menampilkan alur cerita seorang biarawati muda yang harus menghadapi roh-roh gelap yang bersemayam di biara, sekaligus mengungkap rahasia kelam masa lalu institusi tersebut.

Berbeda dengan film horor konvensional yang mengandalkan jump scare, sutradara Rudi memilih pendekatan psikologis. Ia menggunakan pencahayaan redup, suara ambient yang menegangkan, serta efek visual minimalis untuk menumbuhkan rasa takut yang perlahan menggerogoti penonton. Dalam sebuah wawancara, Rudi menjelaskan, “Kami ingin penonton merasakan ketegangan yang sama seperti yang dirasakan Sisca dalam peran biarawatinya, yaitu antara dedikasi spiritual dan ketakutan akan hal yang tak terlihat.

Para kritikus film yang telah menonton draf awal menyatakan bahwa akting Sisca menunjukkan kedalaman yang mengesankan bagi seorang debutan di genre horor. Mereka memuji cara ia mengekspresikan kegelisahan batin lewat tatapan mata yang intens serta gerakan tubuh yang terkontrol. “Sisca berhasil menyeimbangkan kelembutan seorang biarawati dengan ketegangan seorang yang berada di ambang kepanikan,” tulis salah satu kritikus dalam catatan pra-penayangan.

Film ini dijadwalkan akan menembus pasar internasional melalui festival film genre di Asia dan Eropa pada akhir tahun 2026. Pihak produksi berharap keberhasilan film ini dapat membuka peluang lebih luas bagi aktor muda Indonesia untuk terlibat dalam proyek-proyek berskala internasional.

Dengan kombinasi elemen historis, keagamaan, dan horor psikologis, debut Sisca Saras di “Biarawati Terlarang” diprediksi menjadi sorotan utama di kalangan penonton dan kritikus. Film ini tidak hanya menguji batas kemampuan akting Sisca, tetapi juga menantang persepsi publik mengenai genre horor Indonesia yang selama ini lebih mengandalkan efek visual berlebihan. Penonton dapat menantikan pengalaman menegangkan yang sarat makna spiritual, sekaligus menantikan penampilan memukau dari Sisca Saras sebagai biarawati yang berani melawan kegelapan.

Leave a Comment