IPD – 17 April 2026 | London, 16 April 2026 – Simon Grayson, mantan manajer klub-klub Inggris seperti Sunderland dan Preston North End, resmi bergabung sebagai asisten pelatih Tim Nasional Indonesia di bawah kepemimpinan John Herdman. Keputusan ini memicu perhatian luas karena Grayson mengaku belum pernah bertemu Herdman sebelumnya dan bahkan tidak mengenal satu pun pemain Garuda saat menerima tawaran tersebut.
Grayson, yang selama dua dekade mengemban peran pelatih kepala di kompetisi tingkat dua Inggris, menjelaskan bahwa panggilan itu datang secara tak terduga melalui seorang kenalan yang mengenal Herdman. “Saya pernah melatih di India dan menghabiskan delapan minggu di Nepal untuk sebuah tim franchise,” katanya dalam wawancara dengan Astro Arena. “Ketika telepon itu datang, saya diminta menjadi asisten dalam peran yang belum pernah saya jalani. Saya pikir, kenapa tidak?”
Sebelum menandatangani kontrak, Grayson mengaku tidak pernah bertatap muka dengan John Herdman. “Percakapan kami hanyalah percakapan acak melalui telepon,” ungkapnya. “Namun, dalam beberapa menit, kami menemukan kesamaan visi dan rasa saling menghormati, sehingga saya merasa betah dan siap bergabung.”
Keputusan Grayson untuk bergabung dipengaruhi kuat oleh rekam jejak Herdman yang telah mengantar timnas Kanada, baik putra maupun putri, ke Piala Dunia. “Saya ingin belajar dari seorang pelatih yang berhasil membawa dua tim nasional ke panggung dunia,” kata Grayson. “Pengalaman Herdman di Kanada, Selandia Baru, dan kini Indonesia memberikan peluang belajar tak ternilai.”
Selain motivasi pribadi, Grayson menilai bahwa kehadirannya dapat menambah dimensi taktik bagi Timnas Indonesia. Herdman telah memperkenalkan formasi “tiga-tiga” yang menuntut adaptasi cepat, sebuah sistem yang belum pernah Grayson terapkan secara intensif. “Saya terbiasa dengan formasi 3-5-2, jadi transisi ke tiga-tiga menjadi tantangan menarik,” ujarnya. “Saya berperan sebagai pengamat taktis dari posisi tinggi, membantu menganalisis strategi saat pertandingan, terutama dalam turnamen FIFA Series 2026.”
Selama FIFA Series 2026, Garuda berhasil mengalahkan Saint Kitts and Nevis dengan skor 4-1, sebuah kemenangan yang menyoroti penerapan taktik baru tersebut. Grayson memuji kualitas pemain Indonesia, menyebut mereka memiliki potensi besar meski ia sebelumnya tidak mengenal mereka. “Para pemain sangat antusias, fanatik, dan memiliki semangat belajar yang tinggi,” kata Grayson. “Mereka membuka mata saya akan kedalaman bakat yang ada di tanah air ini.”
Berikut adalah beberapa alasan utama Grayson menerima tawaran tersebut:
- Kesempatan belajar langsung dari John Herdman, pelatih dengan prestasi internasional.
- Keinginan mengeksplorasi peran baru sebagai asisten, berbeda dari karier panjang sebagai pelatih kepala.
- Daya tarik tantangan taktis yang kompleks, termasuk formasi tiga-tiga dan istilah modern yang belum familiar.
- Potensi mengembangkan pemain Indonesia yang masih belum dikenal secara internasional.
- Pengalaman internasional yang dapat dipadukan dengan pengetahuan lokal tim.
Grayson juga menekankan pentingnya komunikasi bahasa taktik. Ia mengakui adanya hambatan awal dalam memahami istilah-istilah yang digunakan Herdman, namun melalui observasi langsung dan diskusi intens di lapangan, ia berhasil menyesuaikan diri. “Setelah melihatnya diterapkan, saya langsung mengerti maksudnya,” jelasnya.
Pencapaian awal Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, meski diikuti dengan kekalahan melawan Belgia, menunjukkan progres yang menjanjikan. Grayson berharap kolaborasinya dengan Herdman akan mempercepat proses profesionalisasi skuad Garuda, mengoptimalkan potensi diaspora serta pemain domestik.
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan fanatik suporter Garuda yang memberikan energi positif bagi staf kepelatihan. Grayson mengapresiasi semangat mereka, menambahkan bahwa atmosfer di Stadion Utama Gelora Bung Karno memberikan motivasi ekstra bagi tim.
Dengan latar belakang manajerial yang luas, Grayson berkomitmen untuk mengintegrasikan pendekatan taktis modern sekaligus menghormati karakteristik permainan Indonesia. Ia menutup dengan harapan, “Saya berharap dapat membantu John Herdman dan staf lainnya menciptakan era baru bagi Timnas Indonesia, di mana disiplin, kreativitas, dan semangat kebangsaan bersatu untuk menembus panggung internasional.”
Kesimpulannya, meski awalnya tidak mengenal pemain atau bahkan pelatih kepala, Simon Grayson memutuskan bergabung dengan Timnas Indonesia karena ketertarikan belajar dari John Herdman, tantangan taktis yang inovatif, serta potensi besar yang ia lihat pada skuad Garuda. Langkah ini menandai babak baru dalam strategi kepelatihan Indonesia, menggabungkan pengalaman Inggris dengan visi modern Herdman, dan diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di kompetisi internasional.
