IPD – 01 April 2026 | Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Selasa 31 Maret 2026 menimbulkan goncangan besar di Iran setelah menargetkan pabrik farmasi terbesar negara itu, Tofigh Daru Research and Engineering Company, yang berlokasi di Tehran. Fasilitas tersebut dikenal memproduksi obat anestesi dan terapi kanker, serta dimiliki oleh Perusahaan Investasi Jaminan Sosial yang berada di bawah kendali negara. Serangan menghancurkan jalur produksi utama, mengakibatkan kerusakan parah pada instalasi penyimpanan dan lini perakitan.
Javad Zarif, mantan Menteri Luar Negeri Iran dan pendiri Payab Research Institute, mengeluarkan pernyataan di media sosial bahwa pabrik tersebut telah menjadi sasaran “agresor yang putus asa” serta menuduh pihak AS‑Israel gagal menyadari “delusi jahat” mereka. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan disengaja untuk menurunkan kemampuan produksi medis Iran, khususnya dalam bidang onkologi dan anestesiologi.
Gelombang serangan tidak berhenti pada fasilitas farmasi. Di kota Zanjan, sebuah aula Husseiniya Azam yang terletak di samping masjid Syiah mengalami kerusakan akibat bom udara, memaksa Tim Bulan Sabit Merah Iran melakukan operasi penyelamatan dua korban yang terperangkap di bawah reruntuhan. Sementara di provinsi Kermanshah, satu warga tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam serangan yang menargetkan perusahaan kontraktor sipil di kota perbatasan Qasr‑e Shirin. Di Isfahan, pusat industri pertahanan dan fasilitas nuklir, kompleks baja Mobarakeh dan anak perusahaan Sefid Dasht Steel mengalami kerusakan signifikan pada unit produksi, menambah beban ekonomi pada sektor strategis negara.
Serangan udara juga meluas ke wilayah selatan, menimpa pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi pintu gerbang utama Iran ke Selat Hormuz. Meskipun belum ada laporan resmi tentang korban jiwa, tim SAR dan pemadam kebakaran dikerahkan untuk menanggulangi kebakaran dan kerusakan struktural. Di Bushehr, fasilitas meteorologi hancur, menimbulkan kerusakan rumah kaca di sekitar lokasi dan melukai dua pekerja Afghanistan. Serangan serupa menghantam peternakan unggas di Dashtestan serta tenda di Deylam, menambah deretan infrastruktur sipil yang terdampak.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kembali menguatkan kehadiran militer di Timur Tengah, mengunggah video yang menampilkan serangan udara di Isfahan tanpa memberikan konteks lebih lanjut. Video tersebut menampilkan bom penghancur bunker berukuran 907 kg, menegaskan intensitas serangan yang diarahkan pada fasilitas strategis militer dan industri pertahanan Iran.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan balasan pada 31 Maret, mengancam akan menargetkan 18 perusahaan teknologi besar Amerika Serikat—termasuk Apple, Google, Meta, Microsoft, Intel, dan Palantir—jika pembunuhan pejabat tinggi Iran terus berlanjut. IRGC menuduh perusahaan-perusahaan tersebut terlibat dalam perancangan dan pelacakan operasi pembunuhan terhadap elite Iran, serta menginstruksikan karyawan mereka untuk mengungsi dari tempat kerja demi keselamatan. Ancaman ini menandai pergeseran konflik dari medan pertempuran konvensional ke ruang siber dan infrastruktur teknologi global.
Ketegangan yang memuncak ini menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) dalam operasi militer modern. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa perusahaan teknologi Palantir menggambarkan konflik Iran‑Israel sebagai “perang pertama yang didorong AI,” dengan algoritma yang mempercepat analisis intelijen dan pemilihan target. Penggunaan AI oleh militer AS, termasuk navigasi drone dan analisis data intelijen, menjadi alasan utama IRGC menyoroti perusahaan teknologi Barat sebagai sasaran potensial.
Dengan lebih dari seribu target yang dilaporkan terkena serangan sejak 28 Februari 2026, konflik ini menguji batas antara aksi militer tradisional dan perang informasi serta siber. Dampak pada produksi obat kritis, infrastruktur industri, serta potensi eskalasi ke sektor teknologi global menambah ketidakpastian bagi stabilitas regional dan ekonomi dunia. Semua pihak tampak berada di ambang konfrontasi yang lebih luas, di mana setiap serangan dapat memicu respons balasan di arena yang belum pernah terjadi sebelumnya.
