IPD – 16 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026 – Menyusul peningkatan ketegangan di Selat Hormuz, dua negara NATO, Prancis dan Inggris, mengumumkan kerja sama militer untuk menyiapkan rencana pengamanan jalur pelayaran strategis tersebut. Langkah ini diambil di tengah ancaman Iran yang mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika Serikat bila blokade terus berlanjut, serta operasi blokade militer yang baru saja dilancarkan oleh Amerika Serikat sejak 13 April 2026.
Rencana gabungan Prancis-Inggris menitikberatkan pada peningkatan patroli laut, penempatan kapal perang modern, serta integrasi sistem intelijen dan pemantauan udara. Kedua negara berkomitmen menempatkan setidaknya satu kapal induk, satu kapal perusak, serta pesawat patroli maritim di kawasan selat. Penempatan ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran internasional, melindungi kapal dagang, serta mencegah eskalasi militer yang dapat mengganggu stabilitas energi global.
Pengamanan Selat Hormuz menjadi sorotan utama karena selat ini menjadi titik sempit bagi hampir 20% perdagangan minyak dunia. Pada akhir pekan lalu, Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran, menutup akses kapal masuk dan keluar dari wilayah pesisir Iran. Blokade tersebut, yang melibatkan lebih dari 10.000 personel militer AS dan armada kapal induk USS Abraham Lincoln serta kapal serbu amfibi USS Tripoli, berhasil menurunkan volume lalu lintas kapal, meskipun beberapa kapal komersial masih berhasil melintasi selat.
Sementara itu, pernyataan keras datang dari Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, yang menegaskan niat Iran untuk menenggelamkan kapal Amerika Serikat dengan rudal pertama mereka. Rezaei menambahkan bahwa jika Amerika Serikat melanjutkan blokade, Iran siap menutup Laut Merah serta menghentikan ekspor-impor di Teluk Persia dan Laut Oman. Peringatan ini menambah kompleksitas situasi geopolitik yang sudah tegang.
Rencana keamanan Prancis-Inggris diharapkan dapat menyeimbangkan kekuatan militer di wilayah tersebut. Menurut pernyataan resmi kementerian pertahanan Prancis, kolaborasi ini mencakup pertukaran data satelit, operasi bersama dalam penegakan zona larangan, serta latihan bersama untuk mengasah interoperabilitas antara angkatan laut kedua negara. Inggris menambahkan bahwa kehadiran mereka akan memperkuat kemampuan pengawasan bawah air, termasuk penggunaan kapal selam tipe Astute yang dilengkapi sistem sonar terkini.
Berikut poin utama rencana pengamanan yang dirilis bersama:
- Penempatan minimal dua kapal induk, masing-masing dari Prancis (Charles de Gaulle) dan Inggris (HMS Queen Elizabeth) di wilayah selat.
- Pengerahan armada perusak, fregat, dan kapal selam untuk patroli 24 jam.
- Penggunaan pesawat peronda maritim dan drone berawak untuk pemantauan real‑time.
- Integrasi pusat komando bersama yang terhubung dengan jaringan intelijen NATO.
- Latihan bersama setiap tiga bulan untuk meningkatkan kesiapan taktis.
Diplomasi juga tetap menjadi jalur utama. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menekankan pentingnya menjaga hak navigasi internasional dan menolak segala upaya yang dapat menghalangi perdagangan bebas. Ia menyatakan bahwa dialog antara Washington dan Teheran harus tetap terbuka, meskipun perundingan di Islamabad pada 11 April 2026 belum menghasilkan kesepakatan akhir.
Pengamat militer menilai bahwa kehadiran kekuatan Eropa Barat di Selat Hormuz dapat memberikan tekanan diplomatik pada Iran, sekaligus menurunkan risiko konfrontasi langsung antara AS dan Iran. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa aksi militer tambahan dapat memicu reaksi balasan yang tidak terduga, terutama mengingat ancaman rudal Iran yang terus berkembang.
Dalam jangka pendek, rencana tersebut diharapkan dapat menstabilkan arus lalu lintas kapal, mengurangi risiko serangan terhadap kapal dagang, serta memberikan ruang bagi diplomasi untuk menemukan solusi damai. Sementara itu, Amerika Serikat terus memperkuat blokade, dan Iran menegaskan kesiapan militernya, menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling panas dalam geopolitik energi global saat ini.
Keberhasilan kolaborasi Prancis‑Inggris akan sangat bergantung pada koordinasi dengan sekutu lainnya, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, serta negara‑negara Asia‑Pasifik yang memiliki kepentingan strategis di wilayah tersebut. Jika berhasil, model keamanan multinasional ini dapat menjadi contoh bagi pengelolaan zona maritim sensitif lainnya di dunia.
Situasi di Selat Hormuz tetap dinamis, dan perkembangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh keputusan politik di Washington, Tehran, serta kemampuan aliansi Barat untuk menyeimbangkan kekuatan militer dan diplomasi.
