Petrosea Tumbuh di Tengah Turunnya IHSG: Analisis Pergerakan Saham dan Sentimen Pasar 7 April 2026

IPD – 08 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada sesi Selasa, 7 April 2026, di zona hijau dengan angka 7.001,27, namun tak lama kemudian terjun ke zona merah dan menutup pada 6.955,10, menandakan penurunan 0,49 persen. Penurunan ini dipicu oleh tekanan jual yang meluas di hampir seluruh sektor, kecuali sektor keuangan yang sempat menguat tipis 0,15 persen. Volume perdagangan tercatat mencapai 5,2 miliar lembar saham dengan nilai transaksi harian sekitar Rp 2,1 triliun.

Sementara pasar domestik bergulat dengan koreksi, aksi investor asing menjadi sorotan utama. Data menunjukkan bahwa asing mencatatkan net sell sebesar Rp 622,92 miliar pada perdagangan Senin, 6 April 2026, dengan mayoritas penjualan terjadi di pasar reguler (Rp 611,26 miliar). Saham perbankan menjadi yang paling banyak dilepas, terutama PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan net sell Rp 350,62 miliar dan PT Bank Mandiri (BMRI) dengan net sell Rp 148,96 miliar.

Di tengah arus jual ini, PT Petrosea Tbk (PTRO) muncul sebagai satu-satunya saham yang mendapat perhatian positif dari investor asing. Petrosea mencatatkan net buy sebesar Rp 50,12 miliar, menjadikannya salah satu dari tiga saham yang diburu pada sesi tersebut, bersamaan dengan PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI). Harga saham Petrosea pada penutupan naik tipis, menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan di sektor jasa kontraktor pertambangan.

Petrosea, yang bergerak dalam penyediaan layanan konstruksi dan engineering untuk industri pertambangan, telah mengumumkan beberapa proyek strategis di Indonesia dan Australia pada kuartal terakhir. Peningkatan order di bidang infrastruktur tambang, terutama dalam pembangunan fasilitas penambangan batubara dan nikel, memperkuat eksposurnya terhadap permintaan global yang masih kuat meski terjadi penurunan pada indeks saham secara umum.

Berbagai analis sekuritas menilai bahwa pergerakan IHSG masih berada dalam fase koreksi teknikal, dengan level support utama di 6.917 dan resistance di 7.302. Namun, mereka menyoroti bahwa saham-saham dengan fundamental kuat seperti Petrosea dapat menjadi “safe haven” relatif di tengah volatilitas pasar. MNC Sekuritas menempatkan Petrosea dalam rekomendasi beli (buy) karena diperkirakan akan mendapatkan manfaat dari stimulus pemerintah pada proyek infrastruktur pertambangan.

Berikut rangkuman singkat mengenai aksi net sell/buy utama pada tanggal 6-7 April 2026:

SahamNet Sell/Buy (Rp Miliar)Perubahan Harga Penutupan
BBRI-350,62-0,30%
BMRI-148,96-0,86%
Petrosea (PTRO)+50,12+0,45%
ADRO+35,71+0,27%
BIPI+32,59+0,31%

Data di atas menunjukkan bahwa meski pasar secara keseluruhan berada dalam tekanan jual, ada ruang bagi saham dengan prospek proyek jangka panjang untuk mencatatkan pembelian bersih. Petrosea, dengan portofolio proyek pertambangan yang terus berkembang, berhasil menarik minat investor asing yang mencari peluang pertumbuhan di sektor infrastruktur kritis.

Para analis juga menekankan pentingnya memperhatikan faktor eksternal seperti nilai tukar dolar AS yang berada di kisaran Rp 17.039 per dolar, serta kebijakan moneter Bank Indonesia yang dapat memengaruhi biaya pembiayaan proyek besar. Kestabilan nilai tukar dan suku bunga yang mendukung dapat memperkuat profitabilitas Petrosea, terutama dalam mengelola kontrak berdenominasi dolar.

Kesimpulannya, meski IHSG berada dalam zona merah dan investor asing secara umum melakukan net sell, Petrosea berhasil menonjol dengan net buy yang signifikan. Hal ini mencerminkan keyakinan pasar terhadap fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhan di sektor kontraktor pertambangan. Bagi investor yang mencari eksposur pada sektor infrastruktur pertambangan, Petrosea layak dipertimbangkan sebagai pilihan yang relatif defensif dalam kondisi pasar yang bergejolak.

Leave a Comment