IPD – 31 Maret 2026 | Konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat‑Israel telah memasuki fase kritis pada pertengahan Maret 2026, menandai lebih dari tiga puluh hari pertempuran udara, serangan misil, dan blokade jalur laut strategis. Serangan pertama dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Israel meluncurkan serangan udara ke fasilitas militer Iran, yang kemudian diikuti oleh operasi besar-besaran Amerika Serikat bernama “Operation Epic Fury”. Operasi tersebut menargetkan infrastruktur penting di Tehran dan Isfahan serta menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan resmi pemerintah AS.
Sejak saat itu, kedua belah pihak terus melancarkan serangan balasan. Amerika Serikat dan Israel menembakkan ribuan bom dan rudal ke kota-kota Iran, termasuk serangan mematikan di Mahallat yang menewaskan sebelas orang, termasuk tiga anak. Di sisi lain, Iran meningkatkan serangan drone dan rudal balistik ke wilayah Teluk, menargetkan tanker minyak Kuwait, pangkalan udara Saudi, serta instalasi energi di Uni Emirat Arab. Menurut data ACLED, intensitas serangan Iran menurun secara signifikan dalam hal jumlah misil balistik, namun penggunaan drone berkecepatan rendah yang lebih sulit diintersep tetap tinggi, menimbulkan tekanan pada sistem pertahanan udara sekutu.
Strategi Iran tampak beralih dari kuantitas ke kualitas. Analisis para pakar militer, termasuk Kelly Grieco dari Stimson Center, menyimpulkan bahwa Tehran sengaja mengurangi tembakan misil untuk menghemat persediaan dan menargetkan infrastruktur ekonomi kritis, terutama jalur minyak di Selat Hormuz. Penutupan parsial dan pungutan baru bagi kapal yang melintas memperparah krisis energi global, memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional. Presiden Donald Trump menanggapi dengan ancaman keras, menyatakan bahwa fasilitas energi Iran, termasuk Pulau Kharg, akan dihancurkan jika tidak ada kesepakatan damai.
Ketegangan regional juga meluas. Negara‑negara Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait meningkatkan kewaspadaan militer mereka. NATO berhasil menetralkan beberapa rudal yang diarahkan ke Turki, sementara Israel melaporkan keberhasilan sebagian besar dalam menembak jatuh rudal utama Iran, meski beberapa pecahan cluster munisi berhasil mencapai wilayah sipil. Ribuan warga sipil di Iran, Lebanon, dan negara‑negara tetangga dilaporkan tewas atau terluka, menambah beban kemanusiaan yang sudah berat.
Para pejabat militer Amerika Serikat, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menyatakan bahwa hari‑hari mendatang akan menjadi penentu. Hegseth menekankan penurunan tajam dalam tembakan misil Iran—menurut data Pentagon, tembakan misil turun lebih dari 90% sejak awal konflik—meskipun data ACLED menunjukkan Iran tetap mampu melancarkan sekitar 30 serangan per hari, kebanyakan berupa drone. Tom Karako, Direktur Proyek Pertahanan Rudal di CSIS, memperingatkan bahwa persediaan interceptor anti‑misil AS‑Israel dapat habis jika serangan drone terus meningkat.
Di balik dinamika militer, diplomasi masih berusaha mencari jalan keluar. Negosiasi gencatan senjata dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, dengan harapan membuka kembali Selat Hormuz secara otomatis setelah pihak Amerika Serikat menarik pasukannya. Trump dalam sebuah pernyataan di platform Truth Social menyebut Iran “telah secara efektif didegenerasi”, namun menegaskan bahwa penutupan selat akan berakhir “secara otomatis” setelah AS mengakhiri intervensi.
Berikut rangkuman utama perkembangan hingga hari ke‑32 konflik:
- Serangan udara intensif AS‑Israel menargetkan fasilitas militer dan sipil di Tehran, Isfahan, serta kota‑kota lain, menewaskan ratusan warga sipil.
- Iran meningkatkan serangan drone ke pelabuhan dan instalasi energi di Teluk, termasuk serangan ke tanker minyak Kuwait dan pangkalan udara Saudi.
- Penutupan parsial Selat Hormuz menghambat aliran minyak global, memicu lonjakan harga energi.
- Data ACLED menunjukkan penurunan drastis tembakan misil balistik Iran, namun rata‑rata 30 serangan harian masih terjadi, mayoritas berupa drone.
- Pernyataan Trump dan Hegseth menekankan ancaman penghancuran fasilitas energi Iran dan kesiapan militer untuk menahan serangan selanjutnya.
- Negosiasi gencatan senjata di Islamabad menjadi satu‑satunya harapan membuka kembali jalur laut strategis.
Dengan konflik yang masih berlangsung, prospek jangka pendek tampak belum stabil. Iran tampaknya menyesuaikan taktiknya untuk menimbulkan kerugian ekonomi pada sekutu Barat, sementara Amerika Serikat dan Israel berupaya menurunkan kemampuan serangan Iran melalui serangan udara berkelanjutan. Ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci yang dapat memicu gejolak pasar energi dunia. Jika gencatan senjata berhasil dicapai, kemungkinan besar jalur laut akan dibuka kembali, namun risiko eskalasi kembali tetap tinggi mengingat kepentingan strategis masing‑masing pihak.
