IPD – 04 April 2026 | Pergerakan harga perak (XAG/USD) kembali menjadi sorotan utama pasar komoditas setelah mencatat lonjakan lebih dari 7% dalam satu hari. Kenaikan tersebut dipicu oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat serta pelemahan dolar AS, yang secara historis berbanding terbalik dengan logam mulia. Pada penutupan Maret, nilai XAG/USD berhasil menembus level $75, sekaligus melampaui Simple Moving Average (SMA) 100 hari yang sebelumnya menjadi resistance kunci.
Rally perak kali ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak mentah, yang turut menurunkan nilai dolar dan menciptakan kondisi likuiditas yang menguntungkan bagi logam tanpa imbal hasil. Dengan imbal hasil Treasury AS menurun, biaya peluang menahan posisi logam putih menjadi lebih rendah, sehingga permintaan investor meningkat signifikan.
- Rally dipicu penurunan imbal hasil dan pelemahan dolar, memperkuat permintaan perak.
- Penembusan di atas SMA 100 hari serta level $75 menandakan momentum bullish yang kuat.
- Resistensi berikutnya berada pada $77,32 (SMA 20 hari) dan $80,00, sementara support kritis di $74,00 dan $70,00.
Dalam analisis teknikal yang disampaikan pada awal pekan, penulis mencatat bahwa bias jangka pendek masih cenderung bearish karena harga berada di bawah SMA 100 hari pada $74,11. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa XAG/USD telah menembus batas tersebut dan terus menguat, meski indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di zona bearish. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan beli yang mendorong harga menuju zona netral RSI, sekaligus menciptakan higher high baru.
Untuk melanjutkan tren naik, perak perlu menembus SMA 20 hari pada $77,32. Jika level tersebut berhasil ditembus, langkah selanjutnya adalah menguji zona $80,00, yang jika terlampaui dapat membuka peluang untuk menantang SMA 50 hari di $84,03. Sebaliknya, kegagalan menahan di atas SMA 100 hari dapat memicu koreksi ke support pertama di $74,00, dan bila turun lebih dalam, level psikologis $70,00 menjadi titik penting sebelum kemungkinan melanjutkan penurunan menuju terendah harian 26 Maret sebesar $66,73.
Faktor fundamental tetap menjadi pendorong utama pergerakan perak. Permintaan industri, terutama dari sektor elektronik, energi surya, dan otomotif, memberikan dukungan tambahan karena perak memiliki konduktivitas listrik tertinggi di antara logam non‑emas. Di sisi lain, kebijakan moneter Federal Reserve yang mengarah pada suku bunga lebih rendah meningkatkan daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti perak. Dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, termasuk risiko resesi, juga memperkuat peran perak sebagai safe‑haven meskipun pada tingkat yang lebih rendah dibandingkan emas.
Seiring dengan pergerakan harga, investor sering kali membandingkan perak dengan emas melalui rasio gold‑silver. Rasio yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa perak undervalued relatif terhadap emas, memberi sinyal beli bagi pelaku pasar yang mencari nilai relatif. Saat ini, rasio tersebut berada pada level yang menarik, memperkuat argumen untuk menambah eksposur perak dalam portofolio diversifikasi.
Perspektif jangka menengah tetap bergantung pada evolusi kebijakan suku bunga AS serta fluktuasi dolar. Jika dolar terus melemah dan imbal hasil tetap rendah, perak berpotensi menguji level $80‑$85 dalam beberapa minggu ke depan. Namun, risiko kenaikan suku bunga secara tiba‑tiba atau penguatan dolar dapat menekan harga kembali ke zona support $74‑$70.
Kesimpulannya, perak sedang berada dalam fase bullish yang didukung baik oleh faktor teknikal maupun fundamental. Penembusan SMA 100 hari dan level psikologis $75 menandakan kekuatan beli yang signifikan. Investor yang mempertimbangkan alokasi ke logam mulia sebaiknya memantau perkembangan SMA 20 hari, level $77,32, serta kebijakan moneter global untuk menilai kelanjutan tren. Penanganan risiko tetap penting, terutama pada level support $74,00 dan $70,00 yang dapat menjadi titik balik bila sentimen pasar berbalik.
