IPD – 18 April 2026 | Perak mencatat lonjakan tajam pada Jumat, naik lebih dari lima persen dan diperdagangkan di sekitar $82,60 per ons. Kenaikan ini dipicu oleh melemahnya dolar AS serta penurunan ekspektasi inflasi yang membuat pasar memperkirakan Federal Reserve (Fed) dapat menurunkan suku bunga di akhir tahun.
Geopolitik di Timur Tengah juga memberikan dorongan tambahan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk kapal komersial selama gencatan senjata yang sedang berlangsung. Pembukaan selat strategis ini meredakan ketegangan yang selama beberapa minggu menggelisahkan pasar energi.
Akibatnya, harga minyak mentah turun signifikan. West Texas Intermediate (WTI) meluncur ke level sekitar $80 per barel, mencatat salah satu penurunan harian terbesar dalam beberapa minggu terakhir. Penurunan harga energi mengurangi tekanan inflasi langsung pada konsumen dan mengubah persepsi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dengan energi yang lebih murah, para analis menilai kembali trajektori kebijakan Fed. Alat CME FedWatch mencatat peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun meningkat menjadi 38,2%, naik dari 25,9% pada hari sebelumnya. Penurunan suku bunga biasanya memperkuat aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia, karena menurunkan biaya peluang bagi investor.
Secara paralel, indeks dolar AS (DXY) berada di dekat level terendah multi‑minggu di sekitar 97,80. Dolar yang lemah membuat perak menjadi lebih menarik bagi investor internasional, memperkuat momentum kenaikan harga perak. Selama periode ini, perak juga mendapat dukungan dari permintaan industri yang terus tumbuh, terutama di sektor elektronik dan energi surya, di mana logam ini digunakan karena konduktivitas listrik yang tinggi.
Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi harga perak dalam minggu ini:
- Melemahnya dolar AS yang meningkatkan daya beli mata uang asing terhadap logam mulia.
- Penurunan tajam harga minyak setelah Selat Hormuz terbuka kembali, meredakan kekhawatiran inflasi.
- Ekspektasi pemotongan suku bunga Fed yang meningkatkan daya tarik aset tanpa imbal hasil.
- Permintaan industri yang stabil, terutama dari sektor elektronik dan energi terbarukan.
- Hubungan historis perak dengan emas, di mana pergerakan keduanya cenderung searah.
Investor kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta pernyataan resmi Fed menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka (FOMC) berikutnya. Jika tekanan geopolitik tetap mereda dan Fed memang mengisyaratkan pelonggaran kebijakan, harga perak berpotensi melanjutkan kenaikan di atas level saat ini.
Namun, risiko tetap ada. Kembalinya ketegangan di wilayah Teluk atau data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memicu apresiasi kembali dolar AS, yang pada gilirannya dapat menurunkan harga perak. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk memantau indikator makro utama serta pergerakan harga energi secara cermat.
Kesimpulannya, kombinasi dolar lemah, penurunan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih lunak telah menciptakan lingkungan yang sangat menguntungkan bagi perak. Selama faktor-faktor ini tetap mendukung, pergerakan bullish pada harga perak kemungkinan besar akan berlanjut.
