IPD – 05 April 2026 | Harga perak mengalami penurunan signifikan untuk hari ketiga berturut‑turut, meluncur hampir 4,5% menjadi $81,39 per ons dan menapaki kerugian mingguan lebih dari 3,6%. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar Amerika (DXY) yang naik ke 100,35, level tertinggi dalam tiga setengah bulan terakhir, serta kenaikan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun menjadi 4,28%. Pada saat laporan ini ditulis, pasangan XAG/USD diperdagangkan di $80,16, mengisyaratkan kemungkinan mengakhiri minggu dengan penurunan hampir 5%.
Penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi beban utama bagi logam mulia yang tidak menghasilkan pendapatan, termasuk perak. Dolar yang kuat menekan harga komoditas yang dihargai dalam mata uang tersebut, sementara imbal hasil Treasury yang lebih tinggi meningkatkan biaya kesempatan bagi investor yang beralih ke aset berbunga. Kedua faktor ini berkontribusi pada tekanan jual yang kuat terhadap perak.
Data ekonomi Amerika Serikat juga menambah ketidakpastian pasar. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV direvisi turun menjadi 0,7% YoY, jauh di bawah perkiraan awal 1,4%, mencerminkan dampak penutupan pemerintah selama 43 hari. Di sisi lain, Personal Consumption Expenditures (PCE) inti tetap pada level 3,1% YoY, menunjukkan inflasi yang masih kaku meski headline PCE sedikit menurun menjadi 2,8% YoY. Kondisi inflasi yang tetap tinggi menahan harapan pelonggaran kebijakan moneter, sementara pertumbuhan ekonomi yang melambat meningkatkan risiko resesi.
Reaksi pasar terhadap data ini terlihat pada pergeseran ekspektasi mengenai kebijakan Federal Reserve. Pada awal sesi, pasar memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 17 basis poin pada tahun 2026. Namun, setelah rilis data PDB, ekspektasi tersebut naik menjadi setidaknya 19,5 basis poin, menandakan peningkatan taruhan pada kebijakan akomodatif di masa depan.
Selain faktor makroekonomi, dinamika geopolitik juga memberikan tekanan tambahan. Konflik yang berlangsung di Timur Tengah meningkatkan ekspektasi inflasi global, terutama setelah harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai puncak tahunan mendekati $120 per barel pada awal minggu. Meskipun harga minyak pada saat penulisan turun menjadi $95,90, dampak kenaikan harga energi tetap terasa, dengan harga bahan bakar naik lebih dari 20% menjadi $3,60 per galon sejak dua minggu lalu. Kenaikan biaya energi berpotensi menurunkan permintaan industri terhadap perak, yang merupakan komponen penting dalam produksi elektronik dan panel surya.
Secara teknikal, grafik harian XAG/USD menunjukkan bias bearish jangka pendek. Harga telah menembus rata‑rata pergerakan sederhana (SMA) menengah di kisaran $86‑$87 dan kini berada di zona $80‑$82. Garis resistance utama berada di sekitar $83, dengan resistance sekunder di $86 yang bertepatan dengan SMA gabungan. Penutupan di atas $86 diperlukan untuk mengubah sentimen menjadi netral atau bullish, sementara support terdekat berada di $78; penurunan lebih lanjut ke $74 akan membuka target bearish selanjutnya di sekitar $70.
RSI (Relative Strength Index) telah turun ke 45, menandakan momentum penurunan yang menguat dan mengurangi kemungkinan pembalikan jangka pendek. Dengan tekanan jual yang masih kuat, trader cenderung menunggu konfirmasi penembusan di bawah $78 sebelum menambah posisi short, sementara mereka yang mengincar peluang rebound mungkin mencari titik masuk di sekitar $78‑$80 dengan target jangka pendek di $84‑$85.
Para pelaku pasar juga memperhatikan agenda ekonomi mendatang yang dapat memicu volatilitas tambahan. Pada akhir pekan, fokus akan beralih ke perkembangan geopolitik, khususnya kebijakan AS terhadap Iran yang diperkirakan akan menguat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tindakan tegas. Selanjutnya, kalender ekonomi menampilkan pertemuan Federal Reserve pada 17‑18 Maret, serta data Produksi Industri, Indeks Harga Produsen (IHP), dan laporan lapangan kerja yang dapat memperkuat atau melemahkan ekspektasi kebijakan moneter.
Secara keseluruhan, penurunan harga perak dipicu oleh kombinasi penguatan dolar, kenaikan imbal hasil Treasury, data ekonomi AS yang menunjukkan pertumbuhan melambat namun inflasi tetap tinggi, serta ketegangan geopolitik yang menambah tekanan pada pasar komoditas. Investor yang berorientasi pada jangka pendek harus memperhatikan level support kunci di $78 dan $74, serta resistance di $83 dan $86 untuk menilai potensi pembalikan atau kelanjutan tren bearish. Bagi investor jangka panjang, penurunan harga kini dapat dianggap sebagai peluang masuk, namun tetap harus mempertimbangkan faktor fundamental yang dapat memengaruhi harga perak dalam beberapa bulan ke depan.
