IPD – 20 April 2026 | Selama dua dekade, peneliti telah memantau kelompok simpanse Ngogo di Taman Nasional Kibale, Uganda, yang pada masanya merupakan komunitas primata terbesar dengan sekitar 200 individu. Kehidupan mereka sebelumnya tampak damai—makan buah, beristirahat, berpindah tempat, dan saling merawat. Namun, sejak 2015 dinamika internal mulai berubah, mengakibatkan perpecahan yang kemudian berujung pada konflik bersenjata di dalam kelompok itu.
Awal konflik dipicu oleh pertumbuhan populasi yang berlebihan, persaingan makanan, dan perebutan pasangan. Peneliti mencatat bahwa pada 2014 terjadi wabah penyakit yang menewaskan tujuh simpanse, sebagian besar bayi, menambah ketegangan sosial. Pada tahun yang sama, seorang jantan bernama Jackson berhasil menggulingkan pemimpin sebelumnya, menandai pergantian alfa yang memperparah persaingan kekuasaan.
Menurut Aaron Sandel, penulis utama studi yang dipublikasikan di jurnal Science, kelompok Ngogo pada saat itu terbagi menjadi dua klaster sosial yang mulai menghindar satu sama lain. Pada 2017, wabah kembali melanda dan menewaskan 25 simpanse, mayoritas bayi. Beberapa bulan kemudian, anggota klaster yang satu menyerang Jackson, meskipun sang alfa selamat. Akhir 2017, dua klaster resmi memisah menjadi “Kelompok Barat” dan “Kelompok Tengah”.
Sejak pemisahan, kelompok Barat secara konsisten melancarkan serangan terkoordinir terhadap kelompok Tengah. Metode serangan meliputi gigitan, pukulan tangan, penyeretan, dan tendangan, yang sebagian besar dilakukan oleh pejantan dewasa, meski kadang betina juga ikut. Peneliti mencatat total 28 kematian hingga 2024, terdiri dari 7 pejantan dewasa dan 21 bayi. Empat korban tambahan terjadi dalam dua tahun terakhir, menambah jumlah total.
Berikut rangkuman data kematian berdasarkan tahun:
- 2018: 6 kematian (3 pejantan, 3 bayi)
- 2019: 5 kematian (1 pejantan, 4 bayi)
- 2020: 4 kematian (1 pejantan, 3 bayi)
- 2021: 3 kematian (0 pejantan, 3 bayi)
- 2022: 5 kematian (2 pejantan, 3 bayi)
- 2023: 2 kematian (0 pejantan, 2 bayi)
- 2024: 3 kematian (0 pejantan, 3 bayi)
John Mitani, penulis senior studi, menekankan bahwa konflik ini unik karena terjadi di dalam komunitas yang sebelumnya saling mengenal. “Sulit membayangkan teman kemarin menjadi musuh hari ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun luka luar tampak ringan, banyak korban dewasa yang meninggal akibat cedera dalam, sementara bayi simpanse dapat dibunuh secara cepat lewat gigitan atau dijatuhkan ke tanah.
Menariknya, meski kelompok Barat awalnya lebih kecil, mereka berhasil memperluas wilayah dan kini menguasai area yang lebih luas dibandingkan kelompok Tengah. Peneliti menolak menyebutnya sebagai “perang saudara” manusia, namun mengakui adanya pola kekerasan yang serupa. Kasus serupa pernah tercatat di Tanzania pada 1970-an, namun pada saat itu perilaku simpanse dipengaruhi oleh intervensi manusia seperti pemberian makanan, sehingga data kurang representatif.
Studi ini menyoroti pentingnya memahami dinamika sosial dalam populasi primata liar, terutama mengingat simpanse dan bonobo adalah kerabat evolusi terdekat manusia. Mitani menegaskan, “Kita memang memiliki kesamaan karena sejarah evolusi bersama, tetapi juga sangat berbeda karena telah berevolusi selama 6 hingga 8 juta tahun sejak berpisah dari mereka.” Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang potensi konflik internal pada spesies dengan struktur sosial kompleks, serta implikasinya bagi konservasi dan manajemen habitat.
Peneliti terus memantau kedua faksi, mencatat perilaku, pola pergerakan, dan dampak ekologi yang timbul akibat konflik berkepanjangan. Diharapkan temuan ini dapat membantu merumuskan strategi konservasi yang lebih efektif, mengurangi risiko konflik serupa di masa depan, dan melindungi kelangsungan hidup kelompok simpanse Uganda yang kini berada di ambang krisis.
