Ribuan Jemaah Naqsabandiyah Rayakan Idul Fitri Serentak di Sumatera: Keunikan Penentuan 1 Syawal dan Kebersamaan Lintas Generasi

IPD – 20 Maret 2026 | Jumat, 20 Maret 2026, umat Tarekat Naqsabandiyah di dua provinsi Sumatera merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1447 H secara serentak. Di Deli Serdang, Sumatera Utara, sekitar 350‑500 jemaah berkumpul di Masjid Al Kholidiyah Jalaliyah, sementara di Padang, Sumatera Barat, lebih dari seratus jamaah melaksanakan salat Idul Fitri di Surau Baru, Kecamatan Pauh.

Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Deli Serdang

Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah, Jalan Kongsi, Desa Marindal 1, Patumbak, melaksanakan salat Idul Fitri pada pagi hari. Pembina jemaah, Syeh Muda Faisal, menjelaskan bahwa penentuan 1 Syawal didasarkan pada hisab hakiki—perhitungan peredaran bulan yang memastikan puasa telah genap 30 hari. “Hisab hakiki dihitung berdasarkan peredaran bulan, hasil musyawarah Majelis Takwa, serta arahan Tuan Guru dan mursyidin,” ujarnya.

Faisal menambahkan bahwa perbedaan waktu pelaksanaan dengan kelompok Naqsabandiyah di Padang, yang berlebaran sehari lebih awal, tidak menimbulkan perselisihan. “Masing‑masing pihak menggunakan perhitungan sendiri. Perbedaan ini adalah sunatullah dan rahmat Allah, bukan untuk memecah belah,” tegasnya.

Salat Idul Fitri di Surau Baru, Padang

Di Padang, jamaah Naqsabandiyah menggelar ibadah Idul Fitri di Surau Baru, Pauh, mulai pukul 07.30 WIB. Menurut Zahar, salah satu tokoh muda tarekat, rangkaian ibadah berakhir sekitar pukul 09.30 WIB setelah dilengkapi dengan khutbah dan takbir bersama. Jamaah pria mengenakan koko putih, sementara wanita memakai mukena putih bersih, menciptakan suasana khidmat yang kental.

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh anggota senior tarekat, melainkan juga generasi muda hingga anak‑anak, menandakan kelangsungan tradisi Naqsabandiyah di Padang. Setelah salat, jamaah saling bersalaman, bermaaf‑maafan, dan menikmati tradisi “makan bajamba” kecil‑kecil bersama keluarga.

Metode Penentuan Awal Ramadan dan Idul Fitri

  • Di Deli Serdang, penentuan 1 Syawal menggunakan hisab hakiki (perhitungan astronomi).
  • Di Padang, tarekat mengandalkan metode rukyat (pengamatan hilal) dan hisab tradisional.
  • Kedua metode dianggap sah dalam kerangka tarekat, meski menghasilkan perbedaan satu hari.

Makna Kebersamaan dan Tantangan Kedepan

Baik di Deli Serdang maupun Padang, perayaan Idul Fitri dijadikan momentum penguatan silaturahmi antar‑jemaah. Faisal menekankan pentingnya melanjutkan amalan Ramadan dalam kehidupan sehari‑hari agar tetap istiqamah. Sementara Zahar menyoroti bahwa perbedaan penetapan tanggal tidak mengurangi semangat kebersamaan, melainkan memperkaya warisan spiritual tarekat.

Para tokoh tarekat sepakat bahwa Idul Fitri bukan sekadar ritual seremonial, melainkan kesempatan untuk memperkokoh nilai‑nilai keagamaan, mempererat ikatan sosial, dan meneguhkan komitmen pada jalan yang telah ditetapkan oleh para guru mereka.

Dengan ribuan jamaah yang melaksanakan ibadah secara serentak di dua wilayah, Naqsabandiyah menunjukkan kekuatan jaringan keagamaan yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika perhitungan kalender Islam sekaligus menjaga persatuan umat.

Leave a Comment