Ramadan Adem di Masjid Al‑Akbar Surabaya: Gus Rifqil Ingatkan Bahaya Riya di Tengah Media Sosial

IPD – 10 Maret 2026 | Sabtu, 7 Maret 2026, ratusan jemaah menjemput suasana syahdu di kawasan Masjid Al Akbar Surabaya dalam rangka Kajian Adem Ramadan yang digelar oleh AQUA. Acara yang dihadiri oleh penceramah ternama Gus Rifqil Muslim Suyuthi serta Ning Imas Fatmah Zahro ini bukan sekadar kajian rutin, melainkan upaya menciptakan Ramadan yang tenang, tenteram, dan jauh dari riya—perilaku pamer dalam beribadah.

Suasana Kajian dan Antusiasme Masyarakat

Masjid Al Akbar, salah satu masjid terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas mencapai 30‑40 ribu jamaah, dipenuhi oleh umat yang beragam usia. Dari para pelajar hingga pekerja kantoran, semua berkumpul untuk mendengarkan tausiyah, membaca Al‑Qur’an, dan memperkuat niat beribadah. Program kajian dimulai pukul 09.00 WIB, menampilkan sesi interaktif, tanya‑jawab, serta doa bersama. Penataan area “Teras Adem” memberikan ruang rehat bagi peserta, sementara layar besar menayangkan materi visual yang memperkaya pemahaman.

Pesan Gus Rifqil tentang Riya dan Pengendalian Diri

Gus Rifqil menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga seluruh indera. “Kita tidak hanya menjaga makan dan minum, tapi juga menjaga pandangan, lisan, hati, bahkan jempol kita,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima media pada Selasa, 10 Maret 2026. Ia mengingatkan bahwa era media sosial meningkatkan risiko riya, ketika seseorang ingin menonjolkan amal ibadah di dunia maya. “Jangan biarkan puasa menjadi ajang pamer foto atau status, karena niat yang tulus akan hilang bila dibungkus popularitas,” tegasnya.

Gus Rifqil menambahkan bahwa menjaga “jempol” berarti mengendalikan penggunaan ponsel saat berbuka atau sahur, serta menghindari interaksi yang mengganggu kekhusyukan. Ia mengajak jemaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum introspeksi, bukan kompetisi spiritual. “Ramadan adem‑tentrem‑ayem di Indonesia, insya Allah Indonesia aman,” harapnya, menekankan pentingnya kebersamaan dan kedamaian.

Program #TemanAdemRamadan dari AQUA

Program kajian merupakan bagian dari gerakan #TemanAdemRamadan yang diinisiasi oleh AQUA. Selain kajian utama, kegiatan meliputi:

  • Ruang rehat “Teras Adem” untuk istirahat sambil minum air putih dan membaca doa.
  • Konten refleksi harian yang dibagikan melalui media sosial resmi, menekankan nilai keikhlasan.
  • Kemasan khusus Ramadan yang berisi buku panduan ibadah, kalender zakat, dan reminder doa.

Seluruh rangkaian dirancang agar peserta dapat menginternalisasi pesan anti‑riya dan mengalihkan fokus pada kualitas ibadah pribadi.

Kaitan dengan Iktikaf dan Aktivitas Masjid Lainnya

Di samping kajian, Masjid Al Akbar juga menjadi pilihan utama untuk iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadan. Program Qiyamullail dimulai malam ke‑21, meliputi shalat Tahajud, Tasbih, Hajat, serta tausiyah khusus Lailatul Qadar. Fasilitas lengkap, termasuk area tidur sementara, toilet bersih, dan penyediaan sahur gratis, menjadikan masjid ini pusat aktivitas keagamaan yang terintegrasi.

Beberapa masjid lain di Surabaya, seperti Masjid Ampel, Cheng Hoo, dan Al‑Falah, juga menawarkan program iktikaf, namun kapasitas dan fasilitas mereka tidak seluas Al Akbar. Hal ini menegaskan peran strategis Masjid Al Akbar sebagai titik temu umat yang ingin menjalani Ramadan dengan khusyuk dan terhindar dari godaan riya.

Relevansi Pesan di Tengah Era Digital

Dengan meningkatnya penggunaan platform digital untuk membagikan momen ibadah, pesan Gus Rifqil menjadi sangat relevan. Ia menekankan pentingnya “digital detox” selama sahur dan berbuka, serta mengajak umat untuk memfilter konten yang bersifat pamer. Pendekatan ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang mendorong literasi digital dan etika berinternet.

Secara keseluruhan, Kajian Adem Ramadan di Masjid Al Akbar Surabaya berhasil menyatukan elemen spiritual, edukatif, dan sosial. Pesan anti‑riya yang disuarakan Gus Rifqil tidak hanya mengingatkan jamaah untuk menjaga niat, tetapi juga menumbuhkan budaya beribadah yang lebih otentik di era digital. Diharapkan semangat ini terus mengalir hingga Ramadan berakhir, menjadikan Surabaya contoh kota yang menjalankan Ramadan dengan keikhlasan dan ketenangan.

Leave a Comment