IPD – 12 Maret 2026 | Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, cendekiawan Muslim terkemuka sekaligus mantan Menteri Agama RI, menyampaikan doa khusus kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam acara peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah yang digelar di Istana Negara, Jakarta, Selasa 10 Maret 2026. Doa tersebut tidak hanya berisi permohonan agar sang presiden selalu berada dalam lindungan Allah, melainkan juga menekankan filosofi bahwa segala bentuk kekuasaan pada hakikatnya bersumber dari Tuhan.
Rangkaian Ceramah dan Pengantar Doa
Dalam ceramahnya, Quraish Shihab membuka dengan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk berbicara di hadapan para pejabat tinggi, tokoh agama, serta warga negara yang hadir. Ia menyoroti pentingnya menyadari bahwa jabatan kepemimpinan bukanlah sekadar kehormatan pribadi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab yang mendalam.
Sejumlah anekdot diangkat untuk memperkuat pesan tersebut, salah satunya mengacu pada guru beliau, Sheikh Mutawalli Sha’arawi (atau Mutawalli Sya’rawi), seorang ulama besar asal Mesir yang pernah berdoa untuk Presiden Hosni Mubarak. Quraish menegaskan, “Tidak ada yang diberi kekuasaan kecuali atas kehendak Tuhan, baik penguasa itu jujur mengikuti tuntunan Tuhan maupun penguasa itu durhaka.” Kalimat ini menjadi inti dari doa yang akan dipanjatkan kepada Presiden Prabowo.
Isi Doa yang Diberikan
Doa Quraish Shihab dimulai dengan permohonan agar Allah SWT senantiasa menuntun Presiden dalam menegakkan keadilan dan menciptakan perdamaian bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia menyampaikan dua skenario yang menggambarkan harapan rakyat:
- Jika kepemimpinan Prabowo merupakan takdir untuk menyejahterakan rakyat, Quraish mengajak seluruh hadirin untuk berdoa agar mereka dapat membantu Presiden dalam melaksanakan program‑program kesejahteraan.
- Jika kepemimpinan tersebut ditujukan untuk menegakkan keadilan dan perdamaian, doa ditujukan agar Tuhan memberikan pertolongan yang melimpah kepada sang pemimpin, serta mengajak rakyat untuk turut serta mendukung upaya tersebut.
Doa diakhiri dengan rangkaian kalimat yang diambil dari doa Nabi Muhammad SAW, memohon agar umat manusia hidup dalam kedamaian, kembali kepada Allah, dan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kedamaian.
Relevansi Pesan dalam Konteks Politik Nasional
Pesan Quraish Shihab menyentuh dua isu utama yang tengah menjadi sorotan publik: pemberantasan korupsi dan penguatan keadilan sosial. Dengan menegaskan bahwa kekuasaan bersumber dari Tuhan, ia mengingatkan bahwa penggunaan kekuasaan harus selalu selaras dengan nilai moral dan etika Islam, sekaligus nilai universal hak asasi manusia.
Seruan ini sekaligus menjadi tantangan moral bagi pemerintah yang tengah menghadapi tekanan internal maupun eksternal, termasuk dinamika geopolitik seperti ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Quraish menekankan bahwa pemimpin yang memperoleh kekuasaan atas kehendak Tuhan wajib menjadikan perdamaian sebagai prioritas utama, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan internasional.
Respon Publik dan Harapan ke Depan
Reaksi masyarakat yang menyaksikan acara tersebut terbagi antara pujian atas keberanian Quraish menyinggung tema kekuasaan secara religius dan kritik yang menilai intervensi agama dalam ranah politik harus tetap terjaga batasnya. Meski begitu, mayoritas komentar di media sosial menyoroti rasa harap yang tumbuh bahwa Presiden Prabowo akan dipandu oleh nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian sebagaimana doa tersebut harapkan.
Para analis politik menilai bahwa kehadiran tokoh agama berpengaruh seperti Quraish Shihab dapat memperkuat legitimasi moral pemerintahan, terutama dalam masa-masa krisis. Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya implementasi kebijakan konkret yang dapat mengukur sejauh mana doa dan harapan tersebut terwujud di lapangan.
Secara keseluruhan, acara Nuzulul Quran 2026 tidak hanya menjadi momentum keagamaan, melainkan juga arena dialog antara nilai spiritual dan kebutuhan politik modern. Doa Quraish Shihab menegaskan kembali bahwa kekuasaan yang bersumber dari Tuhan menuntut kepemimpinan yang senantiasa mengutamakan keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan rakyat.
Harapan terbesar yang tersirat dalam doa tersebut adalah agar Indonesia dapat terus melangkah maju dengan kepemimpinan yang bertanggung jawab, berlandaskan pada prinsip moral yang kuat, serta didukung oleh partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
