Evakuasi Massal di Lebanon: Israel Perintahkan Warga ke Selatan, Hezbollah Peringatkan “Pergi ke Selatan!”

IPD – 09 Maret 2026 | Beirut, 9 Maret 2026 – Konflik bersenjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah Lebanon Timur kembali memanas, memicu perintah evakuasi masif yang menimpa ratusan ribu warga sipil. Pihak militer Israel mengumumkan perluasan zona evakuasi yang kini mencakup pinggiran selatan Beirut, Lembah Bekaa, dan daerah‑daerah perbatasan, sementara Hizbullah menegaskan peringatan keras kepada warga Israel: “Pergilah ke selatan!”.

Serangan Udara dan Bentrokan di Lebanon Timur

Pada Senin, 9 Maret 2026, pasukan Israel melancarkan pendaratan helikopter di dekat desa Nabi Sheet, wilayah Bekaa. Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), unit infanteri Israel menembus perbatasan Lebanon‑Suriah melalui dataran tinggi pegunungan timur. Al‑Manar, saluran televisi milik Hizbullah, menyiarkan bahwa pejuang Hizbullah menembaki helikopter militer tersebut, menandai respons langsung atas upaya infiltrasi udara Israel ke wilayah kedaulatan Lebanon.

Setelah serangan udara, baku tembak sengit terjadi di sekitar zona pendaratan. Sebelumnya, pada Minggu, Hizbullah mengumumkan tujuh gelombang serangan roket dan drone ke arah Israel, menargetkan pangkalan militer serta titik pertemuan pasukan Israel. Kelompok tersebut juga mengklaim berhasil menggagalkan dua upaya gerak maju darat Israel di perbatasan.

Perintah Evakuasi Israel dan Dampaknya

Militer Israel, dalam upaya memperluas operasi militernya, mengeluarkan perintah evakuasi yang kini mencakup wilayah selatan Beirut, khususnya daerah Dahieh, serta Lembah Bekaa. Perintah ini memicu gelombang pengungsian besar‑besar; lebih dari 300 000 orang dilaporkan telah kehilangan tempat tinggal dalam kurang dari 100 jam.

  • Jalan utama di Beirut mengalami kemacetan parah saat ribuan warga berusaha mencari tempat aman.
  • Ratusan ribu penduduk dipaksa meninggalkan rumah dengan barang seadanya, banyak yang menghabiskan malam di jalan, mobil, atau taman kota.
  • Rumah sakit di area terdampak kewalahan mengevakuasi pasien; dua wanita dilaporkan tewas saat dievakuasi.

Menurut Dewan Pengungsi Norwegia, hingga 6 Maret 2026 terdapat sekitar 96 000 orang yang terdaftar di pusat‑pusat penampungan di seluruh Lebanon. Ketersediaan makanan dan ruang semakin menipis, menimbulkan ancaman bencana kemanusiaan.

Pernyataan dan Peringatan Hizbullah

Di tengah operasi militer Israel, perwakilan Hizbullah melalui saluran Al‑Manar mengimbau warga Israel untuk “pergi ke selatan” sebagai peringatan agar menjauh dari zona pertempuran yang semakin meluas. Peringatan ini sekaligus menegaskan niat Hizbullah untuk menahan kemajuan Israel dan melindungi wilayahnya.

Beberapa analis militer berpendapat bahwa Israel berusaha menciptakan zona penyangga sekitar 10 km ke dalam wilayah Lebanon, mengingat perlawanan sengit yang ditunjukkan Hizbullah. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, bahkan menyamakan kondisi pinggiran selatan Beirut dengan situasi di Jalur Gaza, menambah ketegangan politik di tingkat internasional.

Reaksi Internasional dan Dampak Kemanusiaan

Organisasi hak asasi manusia internasional mengecam perintah evakuasi Israel, menilai tindakan tersebut melanggar hukum humaniter. Tekanan diplomatik meningkat, dengan sejumlah negara menyerukan gencatan senjata dan dialog antara kedua belah pihak.

Meski demikian, konflik terus berlanjut, dan situasi di perbatasan Lebanon‑Suriah tetap berada dalam status siaga tinggi. Kedua belah pihak memperkuat posisi militer masing‑masing, memperkirakan potensi eskalasi lebih lanjut.

Dengan ribuan warga terpaksa mengungsi, infrastruktur kesehatan terbebani, dan ketegangan politik memuncak, wilayah Lebanon berada di ambang krisis kemanusiaan yang serius. Upaya bantuan kemanusiaan internasional diperlukan segera untuk mengatasi kebutuhan mendesak warga yang terdampak.

Leave a Comment