Quraish Shihab Doa, Tausiyah, dan Interaksi Hangat dengan Prabowo di Nuzulul Qur’an: Menegakkan Keadilan dan Etika Islam

IPD – 12 Maret 2026 | Jakarta, 11 Maret 2026 – Pada peringatan Nuzulul Qur’an yang berlangsung di Istana Negara, tokoh cendekiawan Muslim Prof. Dr. Quraish Shihab menampilkan peran ganda: seorang ulama yang menyampaikan tausiyah tentang keadilan, sekaligus penyampai doa khusus bagi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sorotan karena isi ceramahnya, melainkan juga karena momen hangat ketika Presiden Prabowo turun membantu Quraish Shihab menuruni panggung, menegaskan rasa hormat terhadap ulama senior.

Doa Khusus untuk Presiden Prabowo

Dalam ceramahnya, Quraish Shihab membuka dengan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan diberikan kepadanya untuk berbicara di hadapan publik nasional. Ia kemudian menyampaikan doa yang berasal dari gurunya, Syekh Mutawalli Sya’rawi, seorang ulama Mesir terkemuka yang pernah memanjatkan doa serupa untuk Presiden Hosni Mubarak. Doa tersebut menegaskan bahwa “kekuasaan bersumber dari Tuhan, baik penguasa yang jujur maupun yang durhaka”. Quraish menyesuaikan doa itu untuk Prabowo, memohon agar sang presiden senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, diberikan pertolongan dalam menegakkan keadilan, serta menjaga perdamaian dan persatuan bangsa.

Doa itu disiarkan secara luas melalui jaringan televisi nasional, termasuk Metro TV dan Kumparan, menekankan pentingnya tanggung jawab moral bagi pemimpin negara. Quraish menambahkan bahwa pemimpin yang memegang amanah harus selalu mengedepankan nilai keadilan dan tidak menyalahgunakan kekuasaan, mengingat semua kekuasaan pada akhirnya berada di bawah pengawasan Ilahi.

Interaksi Simpatik di Panggung Istana

Setelah menyampaikan tausiyah, Quraish Shihab bersiap menuruni panggung dengan bantuan dua panitia. Pada saat itu, Presiden Prabowo, yang duduk di kursi penonton, bangkit dan segera menghampiri sang ulama. Prabowo membantu memandu langkah Quraish menuruni tangga, lalu keduanya terlibat dalam percakapan singkat. Prabowo menunduk dengan hormat, mendengarkan kata‑kata terakhir Quraish, lalu mengucapkan terima kasih sebelum membantu mengembalikan ulama ke kursi. Momen ini terekam kamera dan menjadi sorotan media sebagai contoh kepemimpinan yang menghargai peran ulama dalam masyarakat.

Quraish Shihab dan Isu Etika Islam: Diskusi dengan Emir Mahira

Tak hanya pada arena politik, Quraish Shihab juga menjadi rujukan bagi publik dalam menafsirkan ajaran Islam secara kontekstual. Pada hari yang sama, aktor Emir Mahira mengungkapkan kebingungannya mengenai “aturan memukul istri” dalam Islam. Emir mengaku pernah mendengar bahwa suami boleh memukul istri, namun ia merasa hal tersebut bertentangan dengan nilai kasih sayang. Dalam upaya mencari jawaban, Emir bertemu langsung dengan Quraish Shihab.

Quraish menjelaskan bahwa penafsiran sempit terhadap teks agama sering disalahgunakan oleh oknum untuk membenarkan kekerasan. Menurutnya, “pukulan” dalam konteks tradisional Islam bersifat simbolis, berupa teguran ringan tanpa meninggalkan luka fisik. Ia menekankan bahwa inti ajaran Islam menolak segala bentuk kekerasan yang merusak martabat manusia. Penjelasan tersebut membantu Emir memahami bahwa etika Islam menuntut kasih sayang dan penghormatan, bukan tindakan yang menyakiti.

Pesan Keadilan dan Moralitas

Melalui kombinasi doa, tausiyah, serta dialog publik, Quraish Shihab menegaskan tiga pilar utama yang ia anggap krusial bagi bangsa Indonesia: keadilan, perdamaian, dan moralitas berbasis agama. Ia mengingatkan bahwa setiap pemimpin, baik di level nasional maupun lokal, harus meneladani nilai‑nilai tersebut untuk mengatasi tantangan sosial‑ekonomi dan menjaga persatuan.

Doa yang dipanjatkan untuk Prabowo mencerminkan harapan kolektif bahwa kepemimpinan Indonesia akan tetap berada dalam koridor keadilan Ilahi. Sementara interaksi hangat di panggung Istana menegaskan pentingnya rasa hormat antara pemimpin politik dan tokoh keagamaan. Diskusi dengan Emir Mahira menambah dimensi lain, yakni kebutuhan edukasi publik untuk menafsirkan ajaran Islam secara bijak dan menghindari penyalahgunaan.

Secara keseluruhan, peristiwa Nuzulul Qur’an 2026 menjadi panggung dimana Quraish Shihab tidak hanya menyampaikan pesan religius, melainkan juga memperlihatkan peran aktifnya dalam dinamika sosial‑politik Indonesia. Ia menegaskan bahwa keadilan dan moralitas harus menjadi landasan bagi setiap kebijakan publik, sementara pemimpin harus senantiasa mengemban amanah dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.

Leave a Comment