IPD – 20 Maret 2026 | Jumat, 20 Maret 2026 – Dunia politik internasional dikejutkan dengan kabar duka yang menimpa Iran. Ali Larijani, mantan Kepala Keamanan Nasional Iran yang berusia 67 tahun, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh koalisi Amerika Serikat‑Israel saat mengunjungi putrinya di pinggiran timur Tehran. Kejadian tersebut memicu reaksi keras dari dua kekuatan besar, Rusia dan China, yang masing‑masing menyampaikan rasa kehilangan dan kecaman terhadap tindakan yang dianggap melanggar norma internasional.
Reaksi Presiden Rusia Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pesan duka yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melalui penyiar resmi IRIB. Dalam pesan tersebut, Putin menekankan kedekatan pribadi dan strategis antara Moskow dan Tehran, menyebut Larijani sebagai “sahabat sejati Rusia” yang telah berperan penting dalam memperkuat kemitraan strategis komprehensif kedua negara.
“Terimalah belasungkawa terdalam kami atas kematian Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Republik Islam Iran, Ali Larijani. Kehilangan beliau adalah kehilangan bagi persahabatan Rusia‑Iran yang telah terjalin lama,” bunyi pernyataan resmi yang dilansir oleh kantor berita negara Tass dan disebarkan melalui kanal televisi Iran.
- Putin menegaskan komitmen Rusia untuk terus mendukung Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.
- Ia menilai serangan tersebut sebagai tindakan yang mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
- Pesan duka tersebut disampaikan pada Kamis, 19 Maret 2026, satu hari sebelum Larijani dinyatakan wafat secara resmi.
China Kecam Pembunuhan Larijani
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, juga mengutuk keras pembunuhan Larijani dalam sebuah konferensi pers pada Kamis, 19 Maret 2026. China menilai aksi tersebut sebagai “tindakan yang tidak dapat diterima” dan menegaskan posisi Beijing sebagai mitra dekat Iran.
Lin menambahkan, “Kami selalu menentang penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional. Tindakan membunuh para pemimpin negara Iran dan menyerang target sipil bahkan lebih tidak dapat diterima.” Ia menyoroti upaya diplomatik China yang telah diluncurkan melalui utusan khususnya untuk Timur Tengah, Zhai Jun, yang beberapa minggu terakhir melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi di wilayah tersebut.
- China menyerukan semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer yang dapat memperburuk situasi.
- Beijing menekankan pentingnya menjaga kestabilan regional dan mencegah konflik meluas.
- Perdana Menteri Iran belum memberikan respons resmi pada saat penulisan laporan ini.
Latar Belakang Serangan dan Dampaknya
Serangan udara yang menewaskan Larijani dilaporkan terjadi saat ia berada di rumah putrinya, menjelang sore hari. Menurut laporan semi‑resmi Iran (Fars News), serangan tersebut dipimpin oleh pasukan AS‑Israel, meski pihak Israel belum mengkonfirmasi keterlibatan secara langsung. Kejadian ini menambah ketegangan yang telah lama memuncak antara Iran dan aliansi Barat, khususnya terkait program nuklir dan keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Ali Larijani, yang pernah menjabat sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional, dikenal sebagai tokoh penting dalam kebijakan luar negeri Iran. Ia juga menjadi jembatan penting dalam hubungan Moskow‑Teheran, berperan dalam perjanjian energi dan kerjasama militer. Kematian beliau diperkirakan akan menimbulkan kekosongan dalam struktur kepemimpinan Iran serta menambah tekanan pada diplomasi Iran di panggung global.
Implikasi Politik Internasional
Reaksi keras Rusia dan China menandai pergeseran dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Kedua negara besar tersebut tidak hanya mengutuk tindakan Israel, tetapi juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap Iran sebagai sekutu strategis. Hal ini dapat memperkuat koalisi anti‑Barat di kawasan dan memicu respons balasan diplomatik lebih lanjut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap menegaskan kebijakan mereka dalam menanggapi apa yang mereka sebut sebagai ancaman keamanan dari Iran. Konflik ini berpotensi mengakibatkan eskalasi militer lebih luas, mengingat kehadiran kekuatan besar yang bersaing kepentingannya di wilayah tersebut.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Namun, para analis internasional memperkirakan bahwa tekanan terhadap jaringan militer Iran akan terus meningkat, terutama setelah kematian figur penting seperti Larijani.
Dengan latar belakang ini, dunia menantikan langkah selanjutnya dari para pemimpin global. Apakah tekanan diplomatik akan memaksa Israel dan Amerika Serikat untuk menurunkan intensitas serangan, atau justru memicu respons militer balasan dari Iran? Pertanyaan tersebut tetap terbuka, sementara rasa duka atas kehilangan Ali Larijani menyelimuti lingkaran politik Iran, Rusia, dan China.
Penghormatan terakhir bagi Larijani diperkirakan akan dilaksanakan di Tehran, dengan kehadiran pejabat tinggi negara serta perwakilan dari sekutu internasional. Sementara itu, pernyataan duka yang disampaikan oleh Putin dan Lin Jian mencerminkan upaya menjaga hubungan strategis di tengah gejolak yang semakin intens.
