IPD – 11 Maret 2026 | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Puan Maharani, menyampaikan pandangannya yang tegas mengenai eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada rapat Paripurna ke‑15 DPR tanggal 10 Maret 2026. Puan menilai peristiwa militer terbaru tidak hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga menampakkan kegagalan sistem keamanan global dalam melindungi kedaulatan negara‑negara kecil.
Konflik sebagai Cerminan Kelemahan Sistem Keamanan Global
Dalam pidatonya, Puan menekankan bahwa penggunaan kekuatan militer oleh pihak‑pihak besar mengabaikan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara. “Penggunaan kekuatan militer yang saat ini terjadi telah mengabaikan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara, memperlihatkan dominasi negara tertentu atas negara lain,” ujarnya di Gedung Parlemen, Senayan. Ia menambahkan bahwa kegagalan lembaga‑lembaga multilateral dalam mencegah konflik menandakan lemahnya mekanisme global yang seharusnya menyeimbangkan kepentingan antarnegara.
Duka Cita atas Wafatnya Ayatollah Khamenei
Puan juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan militer Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026. “Atas nama pimpinan dan anggota DPR RI, kami menyampaikan duka cita yang mendalam,” katanya. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang selalu menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, serta menaruh simpati kepada rakyat Iran yang kini berada dalam masa berkabung nasional selama 40 hari.
Seruan kepada Perserikatan Bangsa‑Bangsa
Puan menuntut agar Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) tidak tinggal diam. Ia meminta lembaga internasional tersebut mengambil langkah konkret untuk melindungi warga sipil, menegakkan hukum internasional, dan mencegah eskalasi menjadi konflik global yang tak terkendali. “DPR RI mendesak PBB untuk segera bertindak menjaga penghormatan terhadap hukum internasional. Kita butuh komitmen bersama untuk menjaga perdamaian agar eskalasi ini tidak meluas,” tegasnya.
Politik Luar Negeri Bebas‑Aktif Indonesia
Selain menyoroti dinamika geopolitik, Puan menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap konsisten pada jalur politik luar negeri bebas‑aktif. Ia menekankan bahwa Indonesia harus berperan konstruktif dalam mengatasi tantangan global, sambil menjaga kepentingan nasional. “Pemerintah harus terus menjalankan politik luar negeri yang bijaksana dan konsisten dalam menjaga kepentingan nasional, sekaligus merespons dinamika global secara konstruktif,” ujarnya.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, juga menyatakan kesiapan Indonesia menjadi mediator antara pihak‑pihak yang terlibat, termasuk menawarkan diri untuk melakukan dialog di Teheran. Pernyataan ini menegaskan kembali sikap Indonesia yang selalu membuka ruang diplomasi bilateral maupun multilateral.
Fiskal APBN 2026 Tetap Terjaga
Di tengah ketegangan internasional, Puan menegaskan bahwa fiskal APBN 2026 tetap terjaga. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan mengorbankan stabilitas ekonomi nasional demi tekanan eksternal. “Kita tetap fokus pada pemulihan ekonomi, penguatan infrastruktur, dan program kesejahteraan rakyat, sambil tetap memperhatikan dinamika geopolitik yang memengaruhi pasar global,” katanya.
Harapan untuk Masa Depan
Puan menutup pidatonya dengan mengajak semua pihak, baik di dalam negeri maupun di arena internasional, untuk bersama‑sama memperkuat hukum internasional, menegakkan prinsip kedaulatan, dan menolak segala bentuk dominasi yang dapat memicu konflik lebih luas. Ia menekankan bahwa keberhasilan diplomasi Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan negara‑negara lain untuk menghormati norma‑norma internasional yang telah disepakati bersama.
Dengan menyoroti kegagalan sistem keamanan global, menyampaikan duka cita kepada Iran, serta menegaskan peran aktif Indonesia dalam diplomasi, Puan Maharani memberikan gambaran menyeluruh tentang tantangan geopolitik saat ini dan langkah‑langkah yang perlu diambil untuk menjaga perdamaian dunia.
